Dua perusahaan baja asal Surabaya merger, ini tujuannya

Kamis, 27 September 2018 | 23:04 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Dua raksasa baja asal Surabaya, PT Gunawan Dianjaya Steel (GDST) Tbk dan PT Jaya Pari Steel (JPRS) Tbk memutuskan untuk melakukan penggabungan usaha alias merger.

Keputusan itu telah mendapat persetujuan pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) kedua perseroan yang dilaksanakan di Surabaya, Rabu (26/9/2018).

Pasca merger, kedua emiten yang pabriknya berada di kawasan Margomulyo Surabaya tersebut memilih tetap menggunakan nama PT Gunawan Dianjaya Steel (GDS).

Adapun, GDST dan JPRS bergerak pada bidang industri yang sama yaitu industri baja dan pengolahan baja. Kepemilikan mayoritas kedua perusahaan tersebut merupaan individu yang sama yaitu Gwie Gunawan.

Direktur Keuangan PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk yang juga merangkap Direktur PT Jaya Pari Steel Tbk, Hadi Sucipto mengatakan, penggabungan GDS dan JPS lebih dimaksudkan agar ada sinergi antar keduanya. Karena pemegang saham dua perusahaan tersebut mayoritas sama, manajerial juga sebagian sama.

Dengan begitu, kulakan bahan baku bisa lebih efisien dengan hanya satu nama. Ongkos biaya angkut lebih murah dan kalau membeli bahan baku banyak harganya bisa kompetitif. 

"Jadi penggabungan JPS dan GDS merupakan sinergi agar lebih efisien dan lebih berani bersaing," ujarnya," ujarnya di kantornya, Kamis (27/9/2018).

Hadi menjelaskan, perseroan menempuh merger murni dengan mengharapkan ada dampak positif dari sinergi kedua perusahaan, terutama dari segi efisiensi operasional. Menurutnya, dengan menjadi perusahaan tunggal, kedua perusahaan dapat memaksimalkan pemanfaatan sumber daya yang ada termasuk segmentasi pasar yang jelas.

Dua perusahaan yang berbasis di Jawa Timur tersebut menyasar tingkat efisiensi yang lebih tinggi dari proses merger, apalagi saat ini industri baja tengah dan hilir tengah tertatih akibat kenaikan harga baja global yang selama ini diimpor perseroan untuk kebutuhan bahan baku.

Selain itu, penggabungan usaha akan menghasilkan suatu perusahaan yang lebih besar dalam hal aset dan pendapatan yang lebih stabil.

Meski dimerger, Hadi menyatakan bahwa tidak ada satupun karyawan yang di PHK alias dirumahnya. Semua dari 800 orang karyawan (550 GDST dan 250 JPRS) tetap bekerja seperti biasanya.

Sementara kapasitas produksi terpasang totalnya menjadi 550 ribu ton plat baja per tahun. Ini dari 450 ribu ton GDST dan 100 ribu JPRS. 

"Setelah merger, nanti Jaya Pari akan ditugasi memproduksi plat kecil, sedang plat besar akan dikerjakan oleh GDS," tegasnya.

Selain itu, Hadi juga optimis perseroan dapat mewujudkan target penjualan sebesar Rp 1,1 triliun yang dipatok tahun 2018 ini. Kontribusi terbesar berasal dari konstruksi, jembatan, alat berat, dan kapal.

"Saat ini, bisnis kita tumbuh sebesar 5,6 persen," imbuhnya.

Saat ini, lanjutnya, perseroan masih melakukan finalisasi dokumen yang dibutuhkan, seperti yang disyaratkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun demikian, kedua emiten tersebut telah menyelesaikan proses penilaian independen sehingga mendapatkan nilai pasar wajar 100% saham JPRS adalah sebesar Rp381 per lembar saham. Sedang GDST nilainya Rp 275 per lembar saham.

Dengan demikian, rasio konversi saham diperoleh dengan perbandingan nilai pasar wajar GDST dan JPRS yang telah ditentukan oleh penilai independen yaitu sebesar 1:1,39 atau setiap 1 saham JPRS sebelum penggabungan, akan mendapatkan 1,39 saham GDST setelah penggabungan. kbc7

Bagikan artikel ini: