Genap lima tahun, Satoria terus ekspansi bisnis industri farmasi

Senin, 1 Oktober 2018 | 18:32 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Genap berusia lima tahun, Satoria Group terus mengembangkan sayap bisnis khususnya di sektor industri farmasi. Besarnya pasar di sektor ini mendasari perusahaan yang berbasis di Surabaya ini terus menghasilkan produk inovatif yang memiliki nilai tambah.

Chairman dan CEO Satoria Group, Alim Satria mengatakan, ekspansi usaha yang kini tengah dimatangkan adalah pabrik nutrisium untuk industri kesehatan yang berlokasi di Pasuruan. Produk dari pabrik ini nantinya akan dipasok ke industri seperti Nestle, Danone, dan sebagainya..

"Ini special product dan merupakan hal baru di industri Tanah Air. Makanya kami harus datangkan tenaga ahli dari luar negeri untuk persiapan ini. Kami berharap akhir tahun ini sudah mulai beroperasi," kata Alim Satria di sela perayaan ulang tahun ke-5 Satoria Group di Vasa Hotel Surabaya, Sabtu (29/9/2018).

Untuk ekspansi pabrik nutrisium tersebut, perusahaan menyiapkan investasi sekitar Rp 150 miliar.

Selain mengembangkan pabrik nutrisium, Satoria Group juga tengah mematangkan pembangunan pabrik cairan infus dasar unit II di Desa Sambisirah, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur (Jatim), yang diperkirakan tuntas pada tahun 2019 mendatang. 

Pabrik baru ini diperkirakan menelan dana investasi hampir Rp 200 miliar, dan akan meningkatkan kapasitas terpasang produksi cairan infus dasar menjadi 125 juta botol per tahun pada 2019.

Pabrik unit II tersebut melengkapi pabrik unit I yang sudah beroperasi akhir tahun lalu dengan kapasitas produksi terpasang sebanyak 50 juta botol per tahun. 

Dengan tambahan kapasitas produksi terpasang pabrik unit II sebanyak 75 juta botol per tahun, pada 2019 kapasitas produksi cairan infus dasar yang diproduksi naik menjadi 125 juta botol per tahun. 

Dengan gencarnya ekspansi yang dilakukan, Alim Satria berharap Satoria Group bisa menjadi industri farmasi yang bisa diandalkan di Tanah Air.

"Saya ingin Indonesia tidak lagi mengimpor bahan baku untuk farmasi. Saat ini dalam soal industri farmasi kita masih kalah sama Filipina," tandas Alim Satria. 

Diakuinya, pihaknya berharap bisa menjalankan pesan Presiden Joko Widodo untuk terus mengembangkan industri farmasi Tanah Air. Maklum, hingga saat ini sekitar 95 persen bahan baku farmasi masih harus diimpor.

"Mengapa ini penting, karena sektor farmasi merupakan industri strategis. Oleh karenanya, ke depan, kami akan melakukan pengembangan produk khusus yang memberikan nilai tambah dan diminati pasar. Kami optimis produk-produk kami bisa diterima pasar dalam negeri," ujarnya. kbc7

Bagikan artikel ini: