Terkendala bahan baku, industri fesyen RI bakal disalip negara-negara ini

Selasa, 2 Oktober 2018 | 07:57 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Selain China, ternyata Thailand dan Bangladesh menjadi kompetitor terbesar Indonesia dalam industri fesyen muslim. Sebab, keduanya memiliki ketersediaan bahan baku lebih tinggi. Namun, tidak demikian dengan Indonesia yang pemenuhan bahan bakunya masih harus mengimpor.

Dirjen Industri Kecil dan Menangah (IKM) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih menjelaskan kebutuhan Indonesia untuk impor tersebut menyebabkan harga tidak kompetitif. Dibanding dengan Thailand dan Cina, harga jual produk fashion Indonesia justru lebih tinggi. Tapi, terlepas dari itu, kualitas desain perancang busana muslim lokal masih baik. "Buktinya, desainer kita banyak yang berkiprah di luar negeri," ujar Gati usai pembukaan Indonesia Moslem Fashion Expo di Gedung Kemenperin, Jakarta, Senin (1/10/2018).

Gati memberi contoh Dian Pelangi dan Itang Yunasz yang sedang menampilkan karya mereka di San Fransisco, Amerika. Akhir tahun, Indonesia Fashion Chamber (IFC) juga akan fashion show di Paris. Keterlibatan perancang lokal di panggung global ini menjadi bukti konsep fashion Muslim Indonesia sudah diterima pasar internasional.

Dengan potensi ini, Kemenperin berupaya mendorong pelaku fashion lokal untuk berkiprah ke luar negeri. Tidak hanya perancang busana papan atas, pelaku IKM juga akan dilibatkan. Menurut Gati, sebanyak 20 produk dari 10 IKM siap ditampilkan dalam peragaan busana di Paris bersama IFC.

Gati mengakui tantangan terbesar industri fesyen muslim saat ini adalah ketersediaan bahan baku. Bahan baku yang dapat diproduksi dalam negeri hanya dua, yakni pulp untuk rayon dan polyester. Tapi, polyester sendiri kini terkena Bea Masuk Anti Dumping (BMAD). Untuk permasalahan ini, Kemenperin berupaya untuk membicarakan kembali dengan pihak terkait.

Selain Thailand dan Cina, Bangladesh juga tercatat sebagai saingan Indonesia dalam industri fesyen muslim, terutama dalam produk berbahan baku katun. Namun, menurut Gati, mereka hanya bertindak sebagai tukang jahit, sementara bahan baku banyak yang impor dari China. "Sama seperti Indonesia dulu. Bahan baku impor, kita kerjakan lalu ekspor seakan ekspor tinggi banget. Hanya placing order di sini," ujarnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan nilai ekspor Indonesia dalam industri fesyen sampai Juli 2018 mencapai US$ 8,2 miliar  dengan nilai pertumbuhan ekspor 8,7%. Dengan performa tersebut, produk fesyen Indonesia mampu menguasai 1,9 % pasar fesyen dunia.

Airlangga menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi kiblat fesyen muslim di dunia pada 2020. Sebab, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. "Indonesia juga merupakan satu dari lima besar negara anggota Organisasi Kerjasama negara Islam (OKI) sebagai pengekspor fesyen muslim terbesar di dunia setelah Bangladesh, Turki, Maroko dan Pakistan," ucapnya.

Airlangga menjelaskan, Kemenperin terus berupaya memberikan kemudahan usaha bagi pelaku IKM di industri fesyen. Di antaranya berupa bantuan untuk mengakses permodalan dan promosi produk. Pemerintah juga akan terus mendorong kecintaan produk dalam negeri ke masyarakat luas.kbc11

Bagikan artikel ini: