Transaksi berjalan defisit, rupiah diprediksi masih akan terus melemah

Rabu, 3 Oktober 2018 | 09:24 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ekonom Faisal Basri menilai, pelemahan nilai tukar Rupiah yang sudah menembus level Rp 15.042 per dolar AS atau terdepresiasi 10,97 persen sejak awal tahun ini disebabkan lantaran transaksi berjalan Indonesia masih defisit.

“Selama defisit pasti melemah,” ujar Faisal Basri di Kawasan Menteng, Jakarta, Selasa (1/10/2018).

Seperti diketahui, pada pada triwulan pertama 2018, transaksi berjalan Indonesia defisit 5,71 miliar dolar AS atau 2,21 persen Produk Domestik Bruto. Defisit itu kian melebar pada triwulan kedua 2018 menjadi sebesar 8,02 miliar dollar AS atau 3,04 persen PDB.

“Apa sih sumber utama kenapa rupiah melemah kan transaksi berjalan defisit, nggak peduli kalau pemerintah bilang sepanjang defisit transaksi berjalan di bawah 3 persen PDB oke, ga ada hubungan, mau berapa persen, itu melemah,” kata Faisal.

Walau demikian, Faisal menilai, pemerintah dan Bank Indonesia tidak membiarkan Rupiah terus melemah. Bank Indonesia misalnya, memutuskan menaikkan tingkat suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 26-27 September 2018.

“Ini kan dijaga, kan tidak dibiarkan, nah menjaganya seperti apa, misalnya pertama intervensi (Bank Indonesia),” jelas Faisal.

Mengenai kenaikan bunga acuan, Faisal menilai, seharusnya Bank Indonesia lebih agresif dalam menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin, karena melihat pelemahan Rupiah cukup dalam, sehingga “dosis” dari kenaikan suku bunga harus ditambah.

“Harusnya naik 50 basis poin, kalau dinaikkan suku bunga kan investor asing melihat uang ke Indonesia karena imbal hasil lebih bagus, tapi sekarang dia belum cukup atraktif,” tandasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: