Siap-siap! Harga ayam petelur bakal meroket hingga Rp40.000 per Kg di akhir tahun

Kamis, 11 Oktober 2018 | 07:24 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Harga telur ayam pada akhir Desember 2018 berpotensi meroket hingga mencapai Rp 40.000 per kilogram (kg). Kemungkinan lonjakan harga telur ini sebagai imbas dari langkah peternak layer melakukan afkir dini.

Presiden Forum Peternak Layer Nasional (PLN) Ki Musbar menuturkan saat ini harga telur ditingkat konsumen berkisar Rp 22.000-Rp 23.000 per kilogram (kg). Namun, harga telur ditingkat konsumen hanya Rp 15.000-Rp 16.000 per kg. Padahal biaya pokok produksi usaha ayam petelur mencapai 21.0000 per kg.

Menurutnya peternak terpaksa melakukan afkir dini untuk menghindari kerugian usaha yang lebih besar. PLN menaungi 68.000 peternak dengan populasi sebesar  220 juta ekor atau sekitar 176 juta ekor (20%) yang merupakan ayam berproduksi.

Menurut Musbar kenaikan harga telur diatas Rp 5.2000 per kilogram (kg) menyebabkan ongkos produksi meningkat menjadi Rp 21.000 per kg.Padahal, harga jual telur di kandang hanya Rp 15.000-Rp 16.000 per kg.Alhasil peternak tidak lagi membeli pakan.

Sebagai informasi saja, lebih dari 60% biaya beternak ayam petelur berasal pakan. Adapun pakan jagung berkontribusi 55% dari komponen pakan ayam.Harga pakan ayam  mencapai Rp 6.200 per kg , dari sebelumnya sebesar Rp 4.700 per kg.

”Harga produk unggas terkait dengan budaya Jawa. Jadi kalau di bulan suro, daya beli menurun,” ujar Musbar kepada wartawan usai Forum Diskusi Publik BBA  Untung Rugi “Surplus” Jagung di Jakarta, Rabu (10/10/2018).

Musbar menambahkan afkir dini ayam petelur sudah dilakukan sejak awal September 2018. Menurutnya afkir dini dilakukan karena banyak peternak meminjam dari kredit perbankan. Dia memperkirakan pemangkasan produksi ayam petelur berkisar 15-20% guna menghindari tekanan biaya operasi yang semakin mahal.

Harga telur ayam pada akhir Desember berpotensi meroket jadi Rp 40.000 per kilogram karena adanya afkir dini oleh peternak layer sejak September lalu.Kondisi ini menurut Musbar disebabkan oleh naiknya harga pakan yang disebabkan minimnya stok jagung yang jadi komponen utama pakan ternak.

Sebetulnya jagung dapat diganti dengan gandum, namun akan menyebabkan warna telur menjadi lebih pucat dan umumnya tidak direspon baik masyarakat."Sampai akhir Oktober kita bisa kehilangan suplai telur 20%," terangnya.

Sebenarnya pemerintah sudah memberikan ambang batas harga baru melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 96 Tahun 2018 tentang harga baru acuan telur ayam dan daging ayam. Regulasi baru yang berlaku 1 Oktober 2018 tersebut menetapkan harga acuan pembelian daging dan telur ayam ras di tingkat peternak antara Rp 18.000 – 20.000 per kg.

Kemudian, harga acuan penjualan di tingkat konsumen untuk telur sebesar Rp 23.000 per kg dan daging ayam sebesar Rp 34.000 per kg.Namun praktek di lapangan, harga cenderung mengikuti mekanisme pasar dan tidak berpihak kepada peternak.

Tony J Kristianto, peneliti Pusat Kajian Pangan Strategis menilai apabila afkir dini  15-20 % maka produksi telur nasional terpangkas 35 juta butir telur per hari. Padahal,lazimnya konsumsi telur meningkat 10 % di bulan Desember akan meningkat karena bertepatan Natal dan Tahun Baru.

Berkurangnya indukan yang menyebabkan penurunan telur ayam tidak dapat begitu saja ditingkatkan produksinya. Menurutnya membutuhkan setidaknya delapan bulan atau di bulan Juni 2019  agar produksi ayam petelur menjadi 176 juta ekor.

Tony menilai  jagung merupakan komoditi bisnis karena konsumen terbesar lebih dari 70% adalah pabrik pakan ternak. Menurutnya Kementerian Pertanian jangan menyamakannya dengan beras yang dimana  lokasi itu dibudidayakan dapat langsung dimakan.

Pembukaan areal sentra tanaman jagung baru di luar Jawa seperti di Dompu, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Utara serta Gorontalo  idealnya diikuti pembangunan pabrik pakan dilokasi tersebut. Namun persoalannya hal tersebut belum tentu ekonomis karena sentra peternakan unggas dan masyarakat yang mengkonsumsinya jauh lebih sedikit dibandingkan di Jawa.

Alhasil, hasil panen jagung diwilayah Sulawesi di ekspor ke Philipina karena ongkos logistiknya lebih murah ketimbang didistribusikan ke Jawa. Kendati mayoritas dari 90 industri pakan beroperasional di Jawa.Menurutnya semestinya Kementan membuka areal lahan baru jagung di Jabodetabek karena tingkat konsumsinya sangat besar.”Bukan di remote area yang menyebabkan mahalnya biaya logistik,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: