Pupuk Beka solusi peningkatan produksi padi lahan rawa

Sabtu, 20 Oktober 2018 | 20:28 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Pertanian (Kementan) akan meng-optimalkan pemanfaatan lahan rawa pasang surut dan lahan lebak untuk menghantarkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia tahun 2045. Namun sayangnya, produktivitas lahan sub-optimal (pasang surut, rawa lebak/gambut) relative rendah yaitu sekitar 3 ton/hektare (ha) -4 ton/ha. Untuk meningkatkan produktifitas tanaman padi, teknologi pupuk Beka Gambut, salah satu solusi. “Dengan menggunakan pupuk cair Beka, produksi bisa naik dua kali lipat. Jika produksi semua 3,5 ton/ha, setelah pakai pupuk Beka, produksi bisa mencapai 7 ton/ha,” kata Kepala Divisi Marketing PT Info Acidatama Tbk Edy Darmawan di Jakarta, Sabtu (20/10/2018). Keunggulan pupuk Beka mampu menaikan pH tanah, rawa, pasang surut dan tanah lebak.Dia menyebutkan pada peringatan Hari Pangan Sedunia ke-38, Kamis (18/10/2018) produsen pupuk organic dan hayati ini ikut berperan serta dengan melakukan demplot di lahan rawa lebak di Desa Jejangkit, Kecamatan Jejangkit Muara, Kabupaten Barito Kuala, Kalsel. Areal demplot PT Indo Acidatama, di areal panen raya HPS seluas 15,5 ha dengan menggunakan bibit IPB-3S, Padi Mikongga, Padi Hibrida Suppadi 89 juga padi INPARA 2. “Hasil panen demplot kami, produktivitas tanaman padi meningkat dua kali lipat,” tegas Edy. Selain meningkatkan produktivitas tanaman, pupuk Beka Gambut, dapat menekan biaya produksi sekitar Rp 1,5 juta/ha. Edy menyebutkan produktivita tanaman padi di lahan rawa lebak dan pasang surut rendah, karena keasaman tanah cukup tinggi. Untuk itu, lanjutnya, pupuk Beka Gambut, dapat menaikan pH tanah, sehingga produksi menjadi tinggi. Jika selama ini petani lahan rawa atau lebak menggunakan pupuk dolomit/kapur untuk meningkatkan pH, biayanya cukup tinggi. Kalau menggunakan dolomit/kapur, kebutuhan 1 ha mencapai 2 ton senilai Rp 2 juta. Namun dengan menggunakan pupuk Beka, biaya bisa ditekan hanya Rp 500 ribu/ha.“Pemakaian Beka 6 liter/ha dengan harga sekitar Rp 75 ribu/liter. Selain hemat biaya, Beka lebih praktis untuk digunakan,” tegas Edy. Selain melakukan demplot di Desa Jejangkit, PT Indo Acidatama bersama Badan Restorasi Gambur (BRG) melakukan uji coba di Kalimantan Tengah tahun 2017 hasilnya produktivitas tanaman padi meningkat dua kali lipat. “Dari pengalaman ini, kami terpanggil untuk melakukan uji coba pada gelar teknologi lapang yang dilakukan dalam rangka HPS di Kalsel,” tegasnya. Kebijakan pemerintah mengembangkan lahan pasang surut, dan lahan rawa sangat tepat. Selain potensi lahan sub-optimal ini cukup besar, biaya pengolahan lahan lebih kecil jika dibandingkan dengan cetak sawah baru. Menurut Edy lahan rawa atau pasang surut (gambut) bisa di kelola pH-nya dan di atur tata kelola airnya, sehingga memungkinkan untuk di tanami berbagai jenis benih padi . “Yang penting lagi, jika tata kelola air baik, maka lahan ini bisa ditanami dua kali setahun,” tegasnya. Teknologi pupuk Beka diharapkan dapat berperan serta dalam pengembangan lahan rawa dan pasang surut di Indonesia. Perusahaan yang bediri sejak tahun 1986 ini memproduksi berbagai produk untuk pertanian, peternakan dan perikanan seperti Beka Decomposer, pupuk organic cair POMI, Randex, Bioku Chick dan lainnya. “Semua diproduksi secara modern dengan control yang ketat sehingga menjamin kualitas yang baik,” tegasnya. Dia menambahkan seluruh produksi PT Indo Acidatama, telah tersertifikasi organic dan memilik standar produksi internasional. Kapasitas pabrik mencapai 60 juta liter/tahun.kbc11

Bagikan artikel ini: