BPS sebut surplus beras hanya cukupi kebutuhan satu bulan saja

Jum'at, 26 Oktober 2018 | 07:29 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengoreksi perhitungan data produksi beras yang dilansir Kementerian Pertanian (Kementan).  Perhitungan baru BPS mengungkapkan surplus beras hingga akhir tahun 2018 berkisar 2,85 juta ton.

Kepala BPS Suhariyanto mengakui surplus beras hingga akhir tahun 2018 sebesar itu hanya mencukupi kebutuhan konsumsi lebih kurang satu bulan saja. Pasalnya, konsumsi beras masyarakat yang disepakati pemerintah sebesar 2,5 juta ton dalam satu bulan. "Kalau kita hitung-hitungan kasar saja, surplus itu hanya cukup untuk sebulan," ujar Suhariyanto di Jakarta, Kamis (25/10/2018).

Apalagi, temuan BPS menunjukkan surplus sebesar 2,85 juta ton ini tersebar di sejumlah pihak. Di antaranya, rumah tangga produsen, konsumen, Bulog, pedagang, penggilingan, hotel, dan restoran.

Suhariyanto menjelaskan saat ini jumlah petani produsen padi di Indonesia sebanyak 14,1 juta jiwa. Biasanya, lanjutnya sekitar 44 % dari total nilai surplus beras itu ada di rumah tangga petani."Kalau kita bagi kan hanya 7,5 kg per rumah tangga per bulan. Jadi bagaimana mengelola surplus itu menjadi penting dan cadangan beras juga penting," tegasnya.

Kendati  begitu, menurut Suhariyanto ketahanan pangan Indonesia tahun ini cukup aman. Dikatakan cadangan beras yang kini berada di Bulog masih tergolong baik, berbeda dengan situasi tahun lalu ketika cadangan Bulog hanya di bawah 1 juta ton.

Namun, Suhariyanto mengingatkan agar para pemangku kebijakan berhati-hati dalam mengelola surplus. "Kita perlu hati-hati, kalau surplus ya bagus dan perlu apresiasi apa yang dikerjakan Kementerian Pertanian. Tapi lebih bagus kalau surplus lebih banyak," tandasnya.

Untuk memperbaiki angka surplus, dia menilai arahan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah sangat tepat. Apalagi, luas lahan baku di Indonesia yang menyusut menjadi 7,1 juta hektare (ha), juga telah menjadi poin perhatian dalam mengambil kebijakan.

"Sekarang kuncinya untuk meningkatkan produksi adalah meningkatkan produktivitas. Gunakan bibit yang baik, salurkan pupuk tepat pada waktunya, kontrol hama dan seterusnya. Kalau itu bisa dilakukan, produktivitas meningkat dan surplus bertambah,” terangnya.

Sebagai informasi kembali,perhitungan BPS menyebutkan potensi luas panen tahun 2018 mencapai 10,9 juta ha dengan produksi 56,54 juta ton gabah kering giling atau setara 32,42 juta ton beras. Sementara itu, angka konsumsi sebesar 29,5 juta ton dengan angka konsumsi per kapita 111,58 kilogram dalam setahun. Alhasil, surplus beras Indonesia tahun 2018 hanya mencapai 2,85 juta ton.

Data surplus tersebut jauh lebih kecil jauh dari data Kementan. Kementan memperkirakan produksi beras tahun ini mencapai 80 juta ton atau 46,5 juta ton setara beras dan perkiraan total konsumsi beras nasional hanya 33,47 juta ton. Dengan begitu, terdapat surplus beras hingga  13,03 juta ton.

Suhariyanto menambahkan akademisi hingga ekonom sudah menduga data produksi beras yang ada selama ini tidak akurat. Data diduga over estimate lantaran produksi beras surplus, namun harga beras masih tinggi dan impor masih dilakukan. "Jadi kalau kami gandeng-gandengkan ada yang tidak konsisten, enggak koheren. Tidak membentuk sebuah cerita yang utuh," ujarnya.

Menurut dia, dengan data yang salah, kebijakan pemerintah tidak dapat bergantung pada data produksi beras, tapi juga data pergerakan harga dan data stok gudang Bulog.Adapun kesalahan data beras dinilainya sebagai kesalahan seluruh pihak, termasuk BPS. "BPS juga ikut berkontribusi salah, tidak cepat mengubah metodologinya. Kami ketemu metodologi ini dengan catatan bahwa metodologinya harus objektif. Kemudian dengan teknologi terkini, hasilnya bisa cepat dan transparan," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: