Hadirkan aplikasi PrinterQue, kini cetak dokumen bisa secara online

Kamis, 1 November 2018 | 06:19 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Astragraphia Xprins Indonesia (AXI) memperkenalkan PrinterQoe, yaitu layanan online printing marketplace yang dapat diakses melalui aplikasi mobile dan website.  Pengguna dapat mencetak hasil ketikan atau design dimana saja tanpa harus repot membawa usb atau mengantre di percetakan.

Hadirnya PrinterQoe membawa kemudahan bagi pengguna yang ingin mencetak dokumen secara cepat. Dengan memanfaatkan layanan berbasis digital ini, kebutuhan mencetak tak lagi terkendala waktu dan antrean.

Cara kerjanya juga praktis. Pengguna hanya perlu install aplikasi PrinterQoe, kemudian log in. Pada tampilan antarmuka aplikasi, terdapat sejumlah merchant printing yang bisa pengguna pilih sendiri, berdasarkan lokasi, maupun rating dan review.

Head of PrinterQoe Fanda Vionita menuturkan kehadiran layanan PrinterQoe tidak terlepas dari permasalahan masyarakat yang menemui beragam kesulitan dalam mencetak dokumen. "Kami menemukan permasalahan pelanggan ketika mencetak dokumen, seperti kesulitan menemukan penyedia jasa printing terdekat, antrian panjang, dan hasil cetakan yang tak sesuai harapan," kata Fanda di Jakarta, Rabu (31/10/2018).

Dari segi keamanan data, PrinterQoe menegaskan pihaknya memiliki perjanjian kerja sama dengan merchant untuk menjaga kerahasiaan dokumen milik pelanggan. "Setiap merchant kita ada perjanjian kerja sama. Merchant wajib menjaga kerahasiaan. Dari sisi teknologi juga ada mekanisme auto-delete setelah 24 jam," kata Fanda.

Sebagai layanan print on demand, PrinterQoe kini telah terkoneksi dengan 1500 merchant yang tersebar di area Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Adapun kota-kota besar di Jawa seperti Surabaya, Bandung dan Semarang akan menyusul di tahun mendatang. Merchant yang ingin bergabung tidak dipungut biaya alias gratis.

"Mencetak adalah kebutuhan yang lumrah, pasar online printing secara global akan mencapai 30,5 miliar dolar atau Rp 460 triliun. Tingginya hal itu karena perubahan data perilaku pelanggan. Perubahan ini kami percaya bahwa di Indonesia akan terjadi, kita sudah dimanjakan dengan online dari kendaraan umum pakai online, mau makan pakai online," kata Fanda.

Berdasarkan laporan Association for Print Technologies 2018, diperkirakan pasar online printing di dunia mencapai US$ 30,5 miliar pada 2023. Tingginya angka tersebut didorong oleh perubahan perilaku pengguna offline ke online printing.

"Sama halnya dengan aktivitas printing, hal ini juga ditangkap oleh penerima jasa cetak. Terdapat 45 persen fitur unggulan yang membantu pelanggan adalah dengan menggunakan cloud printing dan mobile printing," kata dia.

Data dari Zipcon Consulting menyebutkan rasio volume online printing di Asia Pasifik tumbuh dari 8 % pada 2014 menjadi 32% pada 2020. Di Indonesia sendiri, menurut survei yang dilakukan IDC, terdapat 45 % penyedia jasa cetak menyatakan mobile printing akan menjadi fitur unggulan untuk menjawab kebutuhan masa depan.kbc11

Bagikan artikel ini: