Tarif penerbangan biaya murah bakal diievaluasi

Kamis, 1 November 2018 | 17:09 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi akan mengevaluasi tarif batas bawah angkutan udara berbiaya murah (low cost carier/LCC). Langkah ini dilakukan menyusul adanya anggapan prosedur keselamatan angkutan udara ini terkesan diabaikan.

Sebagai informasi, awal pekan ini pesawat Lion Air JT 610 mengalami kecelakaan di perairan sekitar Karawang. Pesawat ini membawa 179 penumpang. Hingga saat ini, investigasi terhadap penyebab kecelakaan tersebut.

Budi menyatakan terdapat sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan sebelum menetapkan kenaikan tarif batas bawah, seperti depresiasi nilai tukar rupiah terhadap US dolar dan peningkatan harga minyak mentah."Dengan adanya dolar naik dan harga minyak naik memang sangat sensitif untuk menaikkan tarif batas bawah. Makanya kenaikan lima persen (tarif batas bawah red) diharapkan dapat menutup kenaikan dolar dan avtur," ujar Budi di Jakarta, Kamis (1/11/2018).

Kendati begitu, menurut Menhub pihaknya perlu bersikap hati hati dalam mengambil kebijakan. Budi juga masih akan menghitung dampak perekonomian, termasuk terhadap konsumen jasa angkutan udara."Kalau kita evaluasi, dampaknya kepada semua konsumen. Maka kita harus hati-hati sekali," kata Budi.

Sejauh ini, tarif angkutan udara telah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 14 Tahun 2016. Dalam regulasi tersebut tarif penumpang pelayanan kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri dihitung dengan memperhatikan empat komponen.

Komponen yang diperhatikan yakni tarif jarak (besaran tarif per rute penerbangan per satu kali penerbangan), pajak (PPN), iuran wajib asuransi dan passenger service charge serta biaya tambahan (surcharge) bila ada. Selain itu, perhitungan tarif juga memperhatikan kelompok pelayanan yang diberikan Badan Usaha Angkutan Udara.kbc11 

Bagikan artikel ini: