Peternak Indonesia berpeluang budidayakan sapi `raksasa` Belgian Blue

Selasa, 6 November 2018 | 11:14 WIB ET

BOGOR, kabarbisnis.com: Peternak berpeluang mengembangkan sapi Belgian Blue. Sapi jenis sub tropis itu saat ini pembibitannya tengah dikembangbiakkan di 11 Unit Pelayanan Teknis (UPT) Kementerian Pertanian (Kementan).

Saat ini sapi jantan Gatot Kaca hasil embrio transfer (ET) pertama di Asia Tenggara ini merupakan hasil sapi galur murni 100% dari Belgia  yang lahir di awal 2017. Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Sugiono di Bogor, Jawa Barat , kemarin mengatakan kini sapi tersebut berada di UPT Balai Besar Inseminasi Buatan (BBISB) Singosari,Malang, Jawa Timur .

Keberadaanya terus diteliti untuk menghasilkan semen beku terbaik dalam jumlah besar yang akan didonorkan kepada sapi betina baik eksotik lokal seperti sapi Bali, Madura dan Aceh maupun peranakan seperti Simental, Angus dan Limousin . Namun, akseptor tersebut harus memiliki genetika unggul dengan siklus birahi yang normal dan bebas dari penyakit menular.  

Sugiono menerangkan penelitian akan terus dilakukan di 11 UPT Kementan. Di Balai Embrio Transfer (BET) Cipelang, Bogor misalnya terdapat puluhan pedet sapiBelgian Blue berusia empat-lima bulan baik hasil ET dan inseminasi buatan. Menurut Sugiono dibutuhkan riset pengembangbiakkan Belgian Blue untuk menghasilkan embiro dan semen beku sapi unggul dalam waktu  2020-2021.

Jika skenario ini berjalan mulus, kemudian Kementan akan menguji coba terlebih dahulu kepada kelompok ternak terpilih yang dinilai memiliki manajemen kandang yang bagus. Kementan akan terus memonitoring hasil persilangan sapi belgian blue tersebut dengan mempertimbangkan faktor bobot badan,kesehatan ,tempartur dan ketinggian posturnya.

Keunggulan sapi Belgian Blue diantaranya memiliki konformasi perototan yang lebih baik dan persentase karkas yang lebih tinggi 60%-70% dibandingkan persentase karkas sapi pada umumnya. Sementara kandungan lemaknya justru lebih rendah dan memilik efisiensi  penggunaan pakan yang lebih tinggi.

“Peningkatan mutu genetik melalui adopsi teknologi pembibitan kita harapkan berkontribusi bagi pemenuhan kebutuhan protein masyarakat,”terang Sugiono seraya menambahkan pihaknya tidak akan terburu-buru mengembangbiakkan sapi belgian blue dalam pelaksanaan Upsus SIWAB sejak dua tahun ini sudah menambah 2,4 juta ekor pedet di Bogor, kemarin.

Kepala BET Oloan Parlindungan mengatakan  sapi BB  dapat dikatakan ‘raksasa’ karena pedet yang baru lahir saja melalui ET sudah memiliki bobot badan sebesar 62,5 kilogram (kg).  Sementara melalui IB , berat pedet rerata 45 kg. Berat sebesar itu setara dengan sapi simmental dua berusia dua bulan.

Adapun,dalam dua tahun pemeliharaan ternak tanpa pola intensif sepertihalnya fase fattening , berat badan sapi Belgian Blue dapat berpotensi 1,5 ton sementara sapi peranakan limousine dan simmental 600 -700 kg. Adapun berat badan sapi lokal hanya berkisar 250-350 kg.

Oloan mengakui  besarnya sapi resipien yang akan melahirkan sapi Belgian Blue tersebut ada kalanya membuat proses persalinan mengalami kesulitan sehingga harus operasi caesar. “Kami sampai mendatangkan ahli dari Belgia,”terang Oloan seraya menambahkan sapi tersebut akan dapat bunting kembali setelah reproduksinya normal yakni masa tiga bulan.

Menurutnya sapi BB BET Cipelang juga memperoleh bantuan USG untuk mengetahui cek kebuntingan sapi, yang selama ini dilakukan secara manual. Oloan menambahkan BET Cipelang terus berupaya menghasilkan embrio sapi persilangan Belgian Blue dengan komposisi darah 75 % (saat ini 50%). Jika anakan tersebut dapat lahir secara normal maka dapat dikembangkan lebih banyak lagi di masyarakat. kbc11

Bagikan artikel ini: