Kelahiran 1.000 ekor bibit sapi 'Belgian Blue' di 2019, mampukah tercapai?

Selasa, 6 November 2018 | 11:18 WIB ET

BOGOR, kabarbisnis.com: Upaya Kementerian Pertanian (Kementan) meningkatkan produksi dan mutu genetik sapi nasonal melalui adopsi teknologi pembibitan sapi Belgian Blue mulai menampakan hasil cukup signifikan.

Indonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang berhasil mengembangbiakkan menerapkan transfer embrio (TE)  dari sapi 100%  sub tropis bernama Gatot Kaca sejak awal 2017 lalu. Pola pengembangbiakkan sapi Belgian Blue menjadi opsi peningkatan sumber protein hewani dari ternak ruminansia yang sekitar 30%  pengadaannya masih diimpor.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Dirjen Peternakan dan Kesehatan Sugiono mengatakan sapi Belgian Blue bukan sapi biasa. Pasalnya pertambahan bobot badannya per hari yakni 1-1,6 kilogram (kg). Sementara sapi lainya  berkisar 0,6-0,8 kg.

Apabila, sampai usia sapi tersebut dapat dipanen potensi berat badannya dapat mencapai 800 kg. Bandingkan dengan sapi yang diternak rerata hanya 250-300 kg.“Kita menginginkan lambat laun pemenuhan protein dari sapi impor akan berkurang,” ujar Sugiono disela sela  menerima kunjungan Duta Besar Indonesia untuk Belgia Yuri O Thamrin di Cijeruk, Bogor, Jawa Barat (5/11/2018)

Sugiono cara lain pengembangbiakkan sapi Belgian Blue adalah melalui inseminasi buatan (IB). Data terakhir menyebutkan terdapat 285 ekor kebuntingan. “Adapun 91 ekor sapi sudah lahir .Di akhir tahun 2018 dan awal tahun 2019 besok akan lebih besar lagi kelahiran,” ujar Sugiono.

Sugiono menjelaskan pengembangbiakkan bibit sapi Belgian Blue dilakukan di 11 Unit Pelayanan Teknis (UPT) dilingkungan Ditjen PKH, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Balitbang Kementan. Dengan begitu, prosedur teknis dan manajemen kandang dan pemeliharaan, pakan hingga kesehatan hewan memiliki ketentuan yang sama.

Namun pihaknya juga mengundang langsung beberapa pakar pembibitan sapi dari Belgia. Sugiono optimis di tahun 2019 akan terjadi kelahiran pedet Belgian Blue sebesar 1.000 ekor . Menurutnya pengembangbiakkan Belgian Blue  di 11 UPT melalui TE diterapkan pada 647 akseptor , sementara untuk IB sebanyak  676 akseptor  .

Sugiono menambahkan masih ada lebih 800 ekor akseptor  lainnya yang tengah dilakukan pemeriksaan kebuntingan. Mereka berpotensi besar untuk bunting dan melahirkan dalam kurun waktu sembilan bulan ke depan.

Sugiono tidak menampik  tingkat keberhasilan hingga sapi bunting dengan cara TE hanya 30 -40 %, sedangkan IB dapat mencapai 60%- 70%. Sugiono juga mengakui masih ditemukan kematian dari pedet yang disebabkan kelainan genetik.Namun menurutnya angkanya terbilang kecil yakni dibawah satu persen."Tingkat kesulitannya memang tinggi, tapi kita bisa mengatasinya dengan transfer teknologi dari Belgia.," tuturnya.

Kepala Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang Oloan Parlindungan mengatakan pengembangbiakkan bibit Belgian Blue diuji coba melalui sapi lokal.  Melalui TE dan IB semen beku dari pejantan Belgian Blue dilakukan pada sapi Limousin, Angus, Aceh, Madura, PO dan Bali. Melalui ujicoba ini akan diketahui bagaimana sapi Belgian Blue persilangan mampu beradaptasi di iklim tropis.

Sementara Yuri mengatakan rencana pengembangan Belgian Blues di Indonesia sudah muncul sejak 2013. Pada 2016, proses realisasi baru dijalankan hingga Indonesia resmi mengimpor embrio dan sperma pada 2017.

Harga satu embrio sapi Belgian Blue sebesar Rp 11 juta. Sejak 2017 Indonesia mengimpor embrio Belgian Blue sebesar 1.799 dosis. Tahun lalu 1.799 dosis sudah habis terpakai.Adapun di tahun  2018 masih tersedia 899 dosis .

Yuri menjelaskan prestasi pengembangbiakkan Belgian Blues tidak boleh sampai di sini. "Kami akan siapkan langkah kerja sama dan follow up untuk meningkatkan pembangunan kapasitas SDM dan teknologi. Kami coba hubungkan dengan pihak Belgia sesegera mungkin," ujarnya.

Yuri menambahkan kerja sama bilateral ekonomi dan perdagangan antara Indonesia dengan Belgia di bidang pertanian dan peternakan mencakup berbagai komoditas seperti kelapa sawit, kopi dan teh serta produk perikanan dan produk furniture serta alusista. Ekspor Indonesia ke Belgia mencapai US$ 1,8 miliar dan neraca perdagangan masih surplus US$ 630 juta .kbc11

Bagikan artikel ini: