Kurangi impor gandum, Kementan siapkan model agroindustri pangan lokal

Rabu, 7 November 2018 | 17:39 WIB ET

BOGOR, kabarbisnis.com: Ketergantungan impor gandum masyarakat tiap tahunnya semakin meningkat. Padahal Indonesia kaya akan sumber daya genetik lokal yang dapat ditingkatkan konsumsinya dalam skala industri.

Data Asosiasi Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) mengungkapkan volume impor gandum Indonesia pada 2017 naik sekitar 9% menjadi 11,48 juta ton dari tahun sebelumnya. Demikian pula nilainya meningkat 9,9% menjadi US$ 2,65 miliar.

Kenapa Balitbang Kementerian Pertanian (Balitbangtan) Muhammad Syakir mengatakan, tren impor tepung terigu semakin meningkat. Hal ini berakibat beban devisa negara semakin meningkat.Pasalnya gandum sebagai bahan baku tepung terigu tidak diproduksi di Indonesia.

Mengutip data Badan Pusat Statistik konsumsi tepung terigu national di tahun 2008 baru 15,5 kilogram (kg) per kapita.Namun, sepuluh tahun meningkat 25 kg per kapita.Artinya setiap tahun naik 1 kg.

Menurut Syakir, Indonesia sangat kaya dengan tanaman lokal seperti singkong,jagung, hanjeli,ubi kayu, ganyong, talas,sorgum dan sagu yang berpotensi mengurangi konsumsi tepung terigu.Sagu misalnya, luas pertanamannya mencapai 5,5 juta ha atau mendekati 85% sagu dunia.

Sayangnya, sambung Syakir, hal tersebut belum sepenuhnya dapat dikembangkan dalam skala industri karena belum efisien dan rasanya yang belum tentu familiar seperti halnya penggunaan tepung terigu.Namun pihaknya bersama pemangku kepentingan lainnya terus mengkampanyekan penggunaan sumber pangan lokal.

"Kita sudah punya teknologi .Kita ajak Pemerintah Daerah yang memiliki sumber bahan baku pangan lokal yang banyak untuk bekerja sama mengembangkan produk olahan sehingga memiliki nilai tambah," ujar Syakir disela Desiminasi Pangan Lokal Fiesta di Bogor, Rabu (7/11/2018).

Untuk merealisasikan gagasan ini,dalam kesempatan tersebut dibuat nota kesepahaman dengan sejumlah Pemda untuk membuat model agro industri pangan lokal. Seperti Pemda Cimahi yang akan mengembangkan olahan pangan berbahan baku uji kayu.Kemudian Sumedang (berbasis hanjeli), Demak (berbasis sorgum).

"Kita juga merangkul sejumlah pesantren yang para santrinya dapat terlibat dalam kegiatan baik on farm atau off farm pertanian.Sementara PTPN III sudah menyatakan kesediaan sebagian lahannya dikerjasamakan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar," bebernya.

Sementara di luar Jawa, hal serupa juga Palopo, Maluku Tengah, Sorong dan Jayapura berbasis sagu. Menurut Syakir, Balitbangtan menyiapkan line proses pengolahan mulai dari bahan baku hingga menjadi tepung dan produk olahannya seperti berasan, mie dan produk turunan lainnya. 

Balitbangtan, kata Syakir telah mengembangkan teknologi pangan olahan diantaranya modifikasi tepung atau pati baik secara fisik, kimia maupun biologis,penggunaan aditif.Selain itu pihaknya juga sudah mampu memformulasi produk  sehingga menghasilkan tingkat substitusi terigu diantaranya yaitu: roti 10-20%, mie 10-30%, cake 50-100%, dan kue kering serta cookies 100%.

"Selain bantuan berupa teknologi produk pengolahan kita juga akan berikan pendampingan bagaimana mengoperasionalkannya," pungkasnya. kbc11

Bagikan artikel ini: