Banyuwangi Batik Festival bawa pesan menjaga keindonesiaan

Minggu, 18 November 2018 | 06:29 WIB ET

BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi kembali menggelar ajang Banyuwangi Batik Festival (BBF), Sabtu malam (17/11). Digelar rutin tiap tahun sejak 2013, perhelatan itu selalu mengangkat motif asli batik Banyuwangi secara bergiliran. Tahun ini, BBF menampilkan motif “gedhegan”. Motif tersebut menyerupai “gedheg” yang berupa dinding terbuat dari bambu, terdiri atas goresan baris horisontal dan vertikal yang beraturan menyerupai anyaman.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, motif gedhegan melambangkan arti persatuan.

“Pesan ini kontekstual dengan kondisi bangsa saat ini. Perbedaan pandangan politik atau apapun tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan perpecahan. Tema ini ingin memberi pesan pentingnya menjaga keindonesiaan di tengah ancaman intoleransi,” ungkap Anas saat konferensi pers BBF di Pendopo Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi, Sabtu (17/11).

Selain itu, menurut Anas, motif gedhegan juga bermakna kekuatan. Gedheg yang berbahan dasar bambu menyiratkan hal tersebut. Bambu memiliki akar yang kukuh dan tahan erosi. Hal ini, tak lain karena akar bambu yang berkumpul sehingga menimbulkan kekuatan tersendiri.

“Akar bambu ini kuat. Kuatnya bukan karena akarnya tunjang dan dalam. Tapi karena mereka bersatu. Tidak ada bambu yang tumbuh sendiri. Demikian pula Banyuwangi, kita ingin maju bareng-bareng. Kemajuannya harus inklusif, mengajak semuanya,” imbuhnya.

BBF 2018 menampilkan 105 desain batik. Ajang tahunan itu digelar untuk mengerek daya saing perajin batik Banyuwangi itu bakal menyajikan kolaborasi antara pelaku batik lokal dan Italia.

“Kita kolaborasikan UMKM batik Banyuwangi dengan industri fesyen nasional dan internasional. Ada perancang mode nasional dan internasional yang ikut bersama-sama mendorong perkembangan desainer dan perajin batik Banyuwangi,” kata Anas.

Menurut Anas, BBF tidak hanya menghadirkan pentas megah fashion dan obyek wisata. Namun, juga bagaiamana mengungkit perekomonian daerah.

“Tak ada artinya panggung megah tanpa adanya korelasi pada pemberdayaan dan peningkatan ekonomi daerah. Kita berharap ada peningkatan standar para pembatik Banyuwangi. Sehingga omsetnya pun akan meningkat. Inilah sebenarnya tujuan utama festival ini,” papar Anas.

Ketua Indonesia Fashion Chamber (IFC), Ali Charisma, menyebutkan, perkembangan batik di Banyuwangi sangat luar biasa. Karya-karya perajin Banyuwangi untuk terus meningkat.

"Saya salut dengan Banyuwangi sebagai daerah dengan pengembangan batik yang signifikan. Skemanya komprehensif dalam mengangkat karya perajin lokal," kata perancang mode nasional itu. 

Hal senada juga diungkapkan oleh desaine kenamaan Priscilla Saputra. "Saya sudah terlibat lima tahun dalam BBF. Industri batik di Banyuwangi berkembang pesat, baik dari sisi kualitas desain maupun pemasarannya,” ujarnya.

Bagikan artikel ini: