Jika tersambung, biaya lewat tol Jakarta-Surabaya sekitar Rp600.000

Kamis, 29 November 2018 | 12:58 WIB ET

SRAGEN, kabarbisnis.com: Tol trans-Jawa selangkah lagi terkoneksi seluruhnya. Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemarin kembali meresmikan salah satu segmen, yakni Sragen-Ngawi.

Dengan demikian, tol Solo-Ngawi dengan total panjang 90,43 km sudah resmi beroperasi seutuhnya. Pemerintah menarget keseluruhan ruas tol Trans Jawa kelar pada Desember 2018. Saat ini segmen tol yang pembangunannya belum selesai pengerjaannya adalah jalur Pemalang-Batang, Batang-Semarang, Salatiga-Solo, dan Wilangan- Kertosono.

Beroperasi penuhnya jalan tol Solo-Ngawi menambah panjang jaringan megaproyek jalan tol trans-Jawa yang tergabung dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Jika semua sudah terkoneksi, masyarakat bisa menikmati jalur darat dari Jakarta ke Surabaya dengan waktu tempuh 10-12 jam dan dengan biaya yang harus dikeluarkan sekitar Rp600.000.

Besaran ini diperoleh berdasar tarif yang ditetapkan. Untuk tarif tol Solo-Mantingan-Ngawi, misalnya, tarif di patok Rp1.000 per km untuk kendaraan golongan I, Rp1.500 per km golongan II dan III, dan Rp2.000 per km kendaraan golongan IV dan V.

Tarif tersebut ditentukan berdasar Keputusan Menteri PUPR Nomor: 897/ KPTS/M/2018 tentang Penetapan Golongan Jenis Kendaraan Bermotor dan Besaran Tarif Tol pada Jalan Tol Solo- Mantingan-Ngawi.

“Selama seminggu ini masyarakat bisa dapat menikmati jalan tol segmen tersebut dengan tarif Rp0 (gratis), pada hari yang sama pukul 21.00 WIB (malam nanti) sebagai bentuk sosialisasi tarif dan golongan kendaraan. Nantinya, dari Jakarta ke Surabaya perkiraan tarifnya sekitar Rp600.000,” ujar Direktur Utama PT Jasamarga Solo Ngawi (JSN) David Wijayatno, di Sragen.

Peresmian tol Solo-Mantingan-Ngawi segmen Sragen-Ngawi sepanjang 50,9 km dilakukan di Rest Area Km 538 dengan ditandai penekanan sirene dan penandatanganan prasasti oleh Presiden Jokowi.

Turut menyaksikan Menteri BUMN Rini M Soemarno, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR Sugiyartanto, Wakil Gubernur Provinsi Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, dan Direktur Utama Jasa Marga Desi Arryani.

Tol sepanjang 51 km diresmikan setelah melalui berbagai tahapan uji laik fungsi dan operasi. Jalan tol Sragen-Ngawi telah dinyatakan layak dan siap di operasikan sebagai jalan tol melalui Keputusan Menteri PUPR Nomor: 896/ KPTS/M/2018 tentang Penetapan Pengoperasian Jalan Tol Solo-Mantingan-Ngawi Segmen Sragen-Ngawi pada 12 November 2018.

“Hari ini (kemarin) kita resmikan jalan tol Solo-Ngawi di segmen Sragen-Ngawi. Artinya, sebentar lagi dari Jakarta sampai Surabaya di akhir tahun ini insyaallah sudah sambung semuanya,” ujar Jokowi dalam sambutan. Jokowi berharap beberapa segmen yang belum kelar bisa segera dituntaskan.

Segmen dimaksud adalah Pemalang- Batang, Batang-Semarang, Salatiga-Solo, dan Wilangan-Kertosono.

“Tadi saya tanyakan ke Menteri BUMN dan Dirjen, beliau-beliau menyampaikan, ‘Selesai, Pak, pertengahan Desember atau akhir Desember, selesai semua. Bapak tinggal cari waktu meresmikannya kapan.’ Artinya sudah rampung kalau berani ngomong seperti itu,” ungkapnya.

Mantan Wali Kota Solo itu lantas meminta para kepala daerah bisa memanfaatkan jalan tol secara maksimal. Pemanfaatan di antaranya untuk mengintegrasikan kawasan-kawasan industri yang ada di daerah masing-masing.

“Jangan sampai tol ini hanya berdiri sendiri sebagai jalan tol, semuanya harus diintegrasikan sehingga manfaatnya betul-betul maksimal. Mobilitas orang dan barang semua bisa melalui jalan tol ini dan bisa berjalan dengan cepat,” ujarnya.

Dia juga mendorong para kepala daerah untuk mengembangkan potensi pariwisata di daerahnya masing-masing. Sebab, terintegrasinya ruas jalan tol akan memangkas waktu yang dibutuhkan wisatawan menuju daerah atau lokasi wisata.

“Sekarang misalnya yang dari Semarang, nantinya ingin ke Solo yang biasanya bisa 3 atau 3,5 jam sekarang mungkin hanya maksimal 1 jam. Ini yang harus mulai dibenahi jalan-jalan yang masuk ke kabupaten, ke kawasan-kawasan wisata. Tugasnya daerah itu,” katanya.

Selain berbicara soal pembangunan infrastruktur jalan tol, Jokowi juga ingin memaksimalkan pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar jalan tol. Hal itu salah satunya dilakukan dengan memanfaatkan rest area jalan tol sebagai tempat bagi masyarakat untuk mengembangkan UMKM.

“Kami harapkan UMKM bisa berkembang. Diberikan sebuah area, ada wadahnya, sehingga dampaknya nanti kita lihat kalau sudah setahun atau dua tahun akan kelihatan.

Kita akomodasi keinginan-keinginan dari usaha mikro dan kecil untuk memasarkan produk produknya yang ada di rest area,” kata mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Menteri BUMN Rini Soemarno optimistis pengoperasian jalan tol Solo-Ngawi dapat memicu perkembangan pariwisata daerah.

Sebab, adanya jalan tol akan mempermudah dan mempercepat akses dari dan menuju destinasi wisata yang ada di Solo, Sragen, maupun Ngawi. Terpangkasnya waktu tempuh diharapkan juga dapat mempercepat distribusi logistik dan menciptakan konektivitas baru.

“Destinasi wisata di sepanjang Solo sampai Ngawi cukup banyak. Di Karanganyar yang terkenal ada Tawamangu. Di Sragen ada wisata air panas Bayanan, situs arkeologi Sangiran, hingga wisata hiking Gunung Kemukus,” kata Rini. Dengan terdorongnya pariwisata berkat adanya jalan tol, secara kontinu bisnis kuliner, kerajinan tangan, sampai penginapan pun akan turut menggeliat.

Kenaikan permintaan untuk layanan barang dan jasa tersebut dapat menjadi faktor penting dalam meningkatkan perekonomian daerah. “Pemerintah pun senantiasa akan mendorong peran BUMN untuk terlibat dalam perkembangan tersebut.

Sekaligus untuk meningkatkan daya saing produk-produk daerah. BUMN bisa ikut memajukan potensi-potensi tersebut dengan berbagai upaya, baik lewat peningkatan pelayanan umum seperti listrik dan telekomunikasi, penyaluran kredit usaha oleh BUMN perbankan, hingga program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL),” ujar Rini.

Jalan tol Solo-Ngawi terbagi atas tiga tahap pengoperasian, yang pertama adalah segmen Simpang Susun Ngawi-Klitik (Ngawi) sepanjang 4 km sejak 30 Maret 2018, berbarengan dengan dioperasikan nya jalan tol Ngawi-Kertosono-Kediri Segmen Ngawi-Wilangan. Peng operasian tahap kedua adalah segmen Kartasura-Sragen yang telah diresmikan oleh Presiden Jokowi pada 15 Juli 2018.

Ketiga, atau yang terakhir, adalah Segmen Ngawi-Sragen yang diresmikan hari ini. Jalan tol Solo-Ngawi akan menghubungkan beberapa daerah, terutama Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sukoharjo, Kota Surakarta, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen di Jawa Tengah dan Kabupaten Ngawi di Jawa Timur.

Untuk mempermudah pengguna jalan tol, saat ini telah dioperasikan lima gerbang tol (GT), yakni GT Colomadu, GT Ngemplak, GT Karang anyar, GT Sragen, dan GT Ngawi. Akan segera dibuka pula tiga gerbang tambahan pada awal 2019 untuk lebih mempermudah masyarakat mengakses jalan tol ini, yaitu GT Bandara Adi Soemarmo, GT Gondangrejo (akses arah Purwodadi) serta GT Sragen Timur (berada di Kecamatan Sambung macan, Sragen sebagai akses arah Mantingan).

Setelah Jakarta-Surabaya tersambung, Jokowi menginstruksikan jalan tol timur hingga Banyuwangi bisa selesai 2019. Dengan demikian, jalur tol Merak sampai Banyuwangi pada 2019 sudah tersambung.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengatakan, dengan beroperasinya ruas jalan tol dari Jakarta hingga Surabaya akan menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang hendak berkendara menuju ibu kota Provinsi Jawa Timur tersebut.

“Terkait masalah tarif tol dari Jakarta-Surabaya yang mencapai Rp600.000 menurut saya itu tidak membebankan masyarakat, karena tol ini kan hanya sebagai alternatif dari jalan arteri,” kata Djoko saat dihubungi KORAN SINDO di Jakarta, tadi malam. Malah menurutnya, dengan harga tarif di kisaran Rp600.000-an, waktu yang ditempuh masyarakat dari Jakarta hingga Surabaya menjadi lebih cepat.

Hal ini jelas bisa menekan biaya operasional para pengguna jalan dibandingkan menggunakan jalan nasional yang biasanya mempunyai estimasi waktu lebih lama karena terdapat sejumlah titik kemacetan.

“Jadi tidak ada keterpaksaan yang wajib untuk menggunakan jalan tol, tapi biasanya untuk bus lebih memilih menggunakan jalan tol, karena jarak tempuhnya lebih cepat, karena mereka juga mengejar waktu,” jelasnya.

Untuk itu dia meminta pemerintah untuk tetap memperhatikan infrastruktur jalan nasional yang menghubungkan Jakarta ke Surabaya. Sehingga bagi masyarakat yang merasa keberatan dengan tarif jalan tol tersebut bisa memilih menggunakan jalan arteri. “Pemerintah harus mengembalikan fungsi jalan tol sebagai jalan alternatif buka sebagai jalan utama, karena untuk jalan utamakan ada jalan nasional,” tegasnya.

Djoko mencontohkan, saat ini sebagian besar masyarakat menganggap jalan tol Jakarta-Cikampek sebagai jalan utama. Sehingga saat ruas tersebut mengalami kemacetan padat karena masifnya pembangun infrastruktur, masyarakat menjadi panik. kbc10

Bagikan artikel ini: