Hadang produk impor via e-commerce, industri kecil RI harus kuat

Kamis, 6 Desember 2018 | 06:07 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perkembangan ekonomi digital salah satunya melalui e-commerce tetap harus dihadapi dengan hati-hati. Hal ini agar platform e-commerce tidak dipenuhi oleh produk-produk impor.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengatakan, saat ini pertumbuhan barang impor di platform e-commerce masih cukup tinggi.

"Coba perhatikan barang konsumsi yang diimpor menjadi tinggi, pertumbuhannya sekarang lebih dari 20 persen. Salah satu alasan karena mereka ke e-commerce," kata dia, dalam acara High Level Policy Round Table on Manufacturing Sector Review, di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (5/12/2018).

Padahal jika diperhatikan, produk-produk impor tersebut dapat dihasilkan di dalam negeri oleh pelaku industri dalam negeri.

"Kapan pun Anda ke e-commerce, Anda bisa menemukan dengan mudah produk impor. Bahkan produk yang bisa kita buat. Bukan produk yang terlalu rumit yang tidak bisa diproduksi Indonesia," tutur Bambang.

Oleh karena itu, dia mengatakan, pemerintah akan terus berupaya mendorong perkembangan industri dalam negeri sehingga dapat menekan jumlah produk impor

"Jadi kita harus memastikan bahwa kita dapat mengambil keuntungan dari pertumbuhan ekonomi digital, dengan menggunakan produk lokal," ujar dia.

"Juga mengoptimalkan suplai dari industri lokal untuk pengadaan pemerintah, saya pikir sudah tahu bahwa di Indonesia ada kebijakan TKDN," imbuh Bambang.

Berbagai upaya revitalisasi industri akan terus didorong sehingga industri domestik baik berskala besar maupun IKM dapat menghasilkan produk berkualitas serta mampu bersaing.

"Jadi bukan hanya soal menambah presentase (penggunaan bahan lokal), tapi lebih dari itu merevitalisasi manufaktur hingga ke level IKM. Jika kita tidak punya industri kecil dan menengah yang kuat, maka kita akan sulit bersaing dengan negara seperti Jepang, Taiwan, dan Korea yang mengembangkan kapasitas industri tidak hanya perusahaan besar tapi juga usaha kecil dan menengah," tegas dia. kbc10

Bagikan artikel ini: