Potensi besar, tapi teh nasional kurang dukungan dari sisi hulu

Senin, 17 Desember 2018 | 18:37 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah mengakui hambatan industri teh saat ini adalah belum adanya infrastruktur pendukung terutama di sisi hulu.

Sebagian besar petani belum memiliki teknologi pemanenan, pengeringan dan sebagainya. Itu yang membuat teh Indonesia masih sedikit tertinggal meski tetap memiliki potensi yang luar biasa besar.

Padahal, Indonesia masuk dalam 10 negara produsen teh terbesar di dunia. Teh disebut merupakan pendukung ekonomi dan salah satu sektor yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Saat ini, teh diproduksi oleh badan usaha milik negara, perusahaan swasta, dan petani kecil.

Sekitar 44,4% dari luas area perkebunan teh di Indonesia adalah perkebunan rakyat. Setidaknya 500.000 orang bergantung secara langsung maupun tidak langsung pada sektor ini.

Berdasarkan data International Tea Committee, konsumsi teh secara global di tahun 2010 melonjak 60% dibanding tahun 1993. "Pertumbuhan signifikan komoditas ini diprediksi akan terus berlangsung karena masyarakat dunia semakin menyadari khasiat teh untuk kesehatan," ujar Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tjahya Widayanti dalam Asian Tea Conference 

di Jakarta, Senin (17/12/2018).

Berbeda dengan di Indonesia, pemerintah Tiongkok sangat memperhatikan bahkan memanjakan para pelaku usaha teh di sisi hulu.Chairman China Trade Marketing Association (CTMA) Wang Qing mengungkapkan pemerintah memberikan subsidi sebesar 50% dalam pembelian bibit, pengelolaan perkebunan.

Pemerintah juga melakukan pembelian mesin pegelolaan teh."Di dalam seluruh kebijakan soal pertanian, pasti ada untuk komoditas teh tercantum di dalamnya," tutur Wang.

Pemerintah juga membantu para petani membentuk dan bergabung ke dalam wadah berupa koperasi sehingga mereka bekerja secara terpadu mulai dari proses tanam hingga pemasaran."Dengan skema itu, pendanaan dan pemeliharaan aset bagi petani menjadi lebih mudah. Itu yang membuat kita bisa seperti sekarang," tandasnya.

Tjahja kembali menjelaskan ekspor teh nasional tahun 2017 merangkak naik, yakni 54.000 T0n. Volume ekspor teh tersebut naik 5,6% dari tahun sebelumnya.Menurut Tjahja Peraturan Komisi Eropa Nomor 1146/2014 diterbitkan pada 23 Oktober dan mulai berlaku 18 Mei 2015 mengenai ambang batas residu AQ dalam daun teh kering sebesar 0,02 mg/kg dengan alasan konsumen teh dari bahaya penyakit yang bersifat karsiogenik.

Dasar penetapan regulasi ini adalah prinisip ke hati hatian.Namun, dari kebijakan UE ini mengakibatkan volume dan nilai ekspor teh Indonesia ke Uni Eropa rerata turun 20% dalam lima tahun terakhir.

Dikatakan Kemendag terus berupaya meningkatkan kualitas produk-produk teh Tanah Air dengan cara memberikan pelatihan dan pengembangan terutama dalam hal pengemasan."Kami juga terus berupaya membuka akses pasar yang lebih luas terutama untuk pasar global. Kemendag selalu mengikuti pameran-pameran di berbagai negara untuk memperkenalkan produk-produk Tanah Air termasuk teh," ujar Tjahya.kbc11

Bagikan artikel ini: