Kisah inspiratif UMKM Sambal Cuk: Dulu olah 1 kg cabai, kini 200 kg

Jum'at, 21 Desember 2018 | 14:46 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com Pengusaha sambal dengan brand “Cuk”, Mujiati, mengaku sangat terbantu dengan keberadaan teknologi dalam memasarkan produknya. Terutama dengan adanya layanan jasa antar ojek online dan Marketplace seperti Bukalapak, Tokopedia dan blibli.com.

"Namun memang masih sekitar 70 persen penjualan paling banyak secara offline. Melalui pasar modern dan toko oleh-oleh," cerita Mujiati, saat tampil dikegiatan bincang usaha "Memenangkan UMKM di Era Industri 4.0" yang di ballroom Hotel Santika Premier Surabaya, Rabu (19/12/2018).

Permintaan produk sambal Cuk diakui Mujiati cukup meningkat dengan memanfaatkan teknologi. Terutama dengan promosi yang dilakukan via medsos. 

"Sekarang berapapun permintaannya saya siap. Dari modal Rp 250.000, untuk beli 1 kg cabe dan blender, sekarang sudah 100 hingga 200 kg cabe dengan mesin yang sudah menggunakan teknologi juga," ungkapnya. 

Saat ini jumlah karyawan Mujiati mencapai 30 orang. Itu belum termasuk dengan memperdayakan para ibu-ibu di sekitar rumah dan tempat usahanya di kawasan Ngagel dan Delta Sari, sebagai pemetik cabai dan pengemas produk. 

"Peralatan ini juga menjadi hal yang harus saya siapkan untuk memenuhi permintaan. Itu masih belum ada bantuan modal, padahal mesin blender kapasitas  besar, mesin pengaduk dan peralatan terkait lainnya, biayanya juga tidak sedikit," cerita Mujiati. 

Apalagi di tahun 2019, pihaknya sudah menyiapkan pengembangan usaha ini dengan tempat usaha di Jombang. Sudah tersedia lahan 5.000 meter persegi yang proses pembangunan dan pemasangan peralatan produksinya. 

"Jadi kalau ada modal untuk peralatan saya senang sekali. Karena kalau bantuan dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual, seperti sertifikat dan ISO, terima kasih sudah dibantu, hingga produk saya bisa dijual di luar negeri," ungkap Mujiati.

 

Menanggapi hal itu, Direktur Utama PT Bank Perkreditan Rakyat Jatim atau Bank UMKM Jatim,Yudhi Wahyu M mengatakan, bila pihaknya sangat mendukung kebutuhan UMKM di Jatim. "Apalagi Bu Mujiati sudah menjadi nasabah kami. Kami siapkan untuk mengajukan kredit modal peralatan," ungkap Yudhi, yang juga menjadi salah satu narasumber dalam bincang usaha tersebut.

Apalagi hingga November 2018, Bank UMKM Jatim telah menyalurkan kredit sebesar Rp 1,8 triliun. Dalam jumlah tersebut, sebagian besar adalah kredit untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) seperti usaha sambel Cuk milik Mujiati ini. 

Saat ini dukungan kepada UMKM tidak lagi sekedar menjual produk secara konvensional saja. Tren memanfaatkan teknologi seperti program pemerintah pusat dimana tahun-tahun mendatang UMKM harus bisa meningkatkan potensinya dengan memanfaatkan era industri 4.0. Memanfaatkan teknologi untuk produksi, pengemasan, penjualan hingga promosi. 

Dukungan UMKM untuk meningkatkan kapasitasnya juga dilakukan oleh PT ExxonMobile Indonesia, sebagai salah satu perusahaan Kontrak Kerjasama Kontruksi dan Operasional (KKKS) di usaha hulu Minyak dan Gas. 

"Kami mendapat dukungan dari SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi) dalam rekomendasi pemberian bantuan kepada UMKM. Untuk saat ini masih terbatas di wilayah kerja kami yang di Jatim ada di wilayah Kabupaten Bojonegoro dan Tuban, serta di Jateng, Kabupaten Blora," jelas Erwin Maryoto ,Vice President Public & Government Affairs ExxonMobile Indonesia.

Kepala SKK Migas Jawa Bali Nusa Tenggara (Jabanusa), Ali Mashyar, menyebutkan bila industri hulu migas juga memiliki peran yang bisa dipakai untuk UMKM. 

"Ada empat kontribusi industri hulu migas yang bisa mendorong UMKM di era industri 4.0 ini," kata Ali. 

Empat kontribusi itu antara lain, penyerapan tenaga kerja lokal, terciptanya multiplayer effect, program pengembangan masyarakat,  dan dana bagi hasil minyak. 

Sementara fokus program pengembangan masyarakat yang dilakukan SKK Migas melalui KKSO. kbc3

Bagikan artikel ini: