Kementerian ESDM klaim 31 smelter bakal terbangun hingga 2021

Kamis, 10 Januari 2019 | 05:58 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan sebanyak 31 pabrik pemurnian dan pengolahan mineral mentah (smelter) terbangun hingga 2021 mendatang. Pemerintah pun menyebut siap untuk memberikan sanksi jika pembangunan smelter tersebut tidak berjalan.

"Kami akan lakukan pengawasan ketat (pengerjaan smelter) itu tahun ini dan 2020, karena 2021-nya sudah deadline. Ada sanksi 20 persen denda kalau smelternya tidak progress, tapi sejauh ini tidak ada yang kena," ujar Direktur Mineral Ditjen Minerba Yunus Saefulhak di Jakarta, Rabu (9/1/2019).

Menurut Yunus di 2018 lalu ada dua smelter nikel yang sudah beroperasi, yakni milik PT Virtue Dragon dan PT Bintang Smelter Indonesia. Sehingga, total sampai dengan 2018, sudah ada 27 smelter yang beroperasi di Indonesia.

Sedangkan di 2019 ini, akan ada tambahan satu smelter yang beroperasi, yakni milik Antam di Buli, Halmahera, Maluku Utara, yang segera selesai."Ada smelter Antam Tanjung Buli (yang sudah pasti) dan Wanatiara di Pulau Obi, tetapi bisa jadi bisa tidak, ini dipercepat kemungkinan bisa satu atau dua smelter di 2019. Smelter Antam Buli bisa beroperasi sekitar bulan Juni, yang satu lagi mungkin mepet Desember," kata dia.

Kesempatan sama Dirjen Minerba Bambang Gatot Ariyono mengatakan sebagian besar dari smelter yang beroperasi adalah smelter nikel. Berdasarkan data ESDM , tercatat sampai dengan 2018 ada 17 smelter nikel yang sudah beroperasi. "Lebih dari 50 persen-nya adalah smelter nikel," ujar Bambang.

Menurutnya  hal ini tidak terlepas dari faktor cadangan komoditas bauksit, tembaga, besi, dan lainnya masih belum sebesar cadangan nikel."Nikel kan cadangannya besar, jadi dia yang cepat dibangun. Tapi masih ada potensi-potensi untuk speed up pembangunan smelter lainnya, agar cepat selesai," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: