Indef desak pemerintah segera perbaiki neraca gula

Selasa, 15 Januari 2019 | 08:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mendesak pemerintah memperbaiki neraca gula. Sebab, selama ini belum ada perhitungan yang pasti atas total kebutuhan gula.

Peneliti Indef Ahmad Heri Firdaus mengatakan keberadaan neraca gula ini diharapkan mampu menjadi instrumen untuk mengelola pasokan dalam rangka meredam gejolak atau fluktuasi harga gula.Lebih lanjut Ahmad memaparkan beberapa keganjilan neraca gula.

Pada 2018, Kementerian Perindustiran (Kemenperin)  menargetkan kebutuhan industri terhadap gula rafinasi sebesar 2,8 juta ton. Kementrian Perdagangan (Kemendag) memberikan kuota impor sebanyak 3,6 juta ton. Kuota ini dibagi dalam dua semester, di mana masing-masing semester sebesar 1,87 juta ton. Namun, realisasi yang terjadi pada semester I 2018 hanya sebesar 1,56 juta ton.

"Ini menggambarkan bahwa industri tidak membutuhkan gula sebanyak yang direncanakan sejak awal tahun. Hal ini pun mendorong Kemendag untuk merevisi kuota dari 3,6 juta ton menjadi 3,15 juta ton," kata Heri dalam diskusi di Jakarta, kemarin.

Pada semester II 2018, lanjut Ahmad kuota impor justru melejit hingga realisasi pada akhir 2018 tercatat 3,37 juta ton. Meskipun masih memenuhi kuota impor di awal sebesar 3,6 juta ton, akan tetapi meleset dari target kuota tengah tahun 3,15 juta ton.

Realisasi ini masih di luar impor gula untuk konsumsi sebesar 1,01 juta ton di 2018."Ini membuktikan bahwa gula yang diimpor tidak hanya untuk kebutuhan industri, namun juga untuk kebutuhan konsumsi," tambahnya.

Sebelumnya, ekonom senior Indef Faisal Basri menuding Kemendag mengobral  izin impor impor pangan strategis seperti gula, beras atau garam. Dia mengaku geram dengan lonjakan impor gula yang melesat bahkan menjadikan Indonesia menjadi negara terbesar impor gula.

Dari data Statistik impor gula Indonesia periode 2017/2018 sebesar 4,45 juta ton. Sementara China 4,2 juta ton, Amerika Serikat (AS) 3,11 juta ton dan UAE 2,94 juta ton. Menurut Faisal, biasanya Indonesia selalu berada di peringkat ketiga atau keempat sebagai pengimpor gula terbesar.

"Saya kaget juga, melihat data statistik bahwa Indonesia sudah menjadi importir terbesar di dunia. Sebelumnya, kan enggak terbesar," kata Faisal.kbc11

Bagikan artikel ini: