Ekonom prediksi BI bakal tahan suku bunga acuan di bulan ini

Kamis, 17 Januari 2019 | 06:34 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Januari 2018 diprediksi bakal mempertahankan suku bunga acuan pada level 6% dengan tidak menutup kemungkinan ruang kenaikan ke depannya, meskipun Fed menunjukkan arah kebijakan yang melunak atau dovish.

Sebanyak 24 ekonom dalam konsensus memperkirakan BI tidak akan menaikkan suku bunganya pada Januari ini.  

Ekonom PT Maybank Indonesia Juniman mengatakan, kondisi tekanan rupiah yang berkurang, pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil sepanjang kuartal IV/2018, tekanan inflasi yang sehat dan kondisi perbankan yang stabil akan menjadi alasan kuat bagi bank sentral untuk menahan suku bunga.

"Menahan suku bunga ini untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan makroekonomi," papar Juniman, Rabu (16/1/2019).

Namun, menilai BI, akan memperhatikan masalah penurunan ekspor yang tercermin dalam laporan neraca perdagangan 2018. Seperti diketahui, surplus ekspor nonmigas turun cukup dalam menjadi US$3,83 miliar pada 2018, dibandingkan US$20,41 miliar pada 2017. 

Sementara itu, kondisi global cukup mendukung di tengah arah kebijakan the Fed yang lebih lunak ke depannya. Tahun ini, bank sentral AS diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebanyak dua kali, dari perkiraan semula sebanyak tiga kali. 

Namun, ancaman dari Uni Eropa dengan adanya kisruh perundingan Brexit dan perundingan perang dagang China dan AS yang belum mencapai titik temu tetap menjadi risiko yang patut diwaspadai. 

Kepala Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI Febrio N. Kacaribu mengatakan bank sentral perlu mempertahankan suku bunga kebijakan atau 7 Day Reverse Repo (7DRR) Rate pada bulan ini, mempertimbangkan kondisi fundamental domestik yang stabil, penerapan negatif Tobin Tax dan penurunan risiko eksternal. 

Di sisi lain, dia menilai kebijakan the Fed yang lebih longgar serta potensi gencatan senjata antara AS dan China telah membantu investor global untuk mulai melirik kembali aset negara berkembang. 

Menurut Febrio, rupiah menjadi penerima manfaat terbesar dari kembalinya arus modal asing ke negara berkembang. Ini terbukti oleh adanya apresiasi rupiah sejak awal 2019. 

LPEM berharap BI dan pemerintah harus lebih siap menyambut masuknya investasi portofolio tersebut. 

"Masuknya investasi perlu dibarikan insentif untuk menahan investasi dalam nilai rupiah mereka sedikit lebih lama dalam rangka mengurangi kerentanan dari aksi pembalikan dana tiba-tiba atau sudden reversal," kata Febrio. 

Kendati demikian, BI harus tetap waspada pada tahun ini. Febrio melihat kekhawatiran mengenai inflasi 'tersembunyi' akibat subsidi bahan bakar minyak jenis premium yang dapat menjadi tekanan pada inflasi, apabila pemerintah mengurangi subsidi pada 2019.

Tekanan defisit transaksi berjalan pada tahun ini diperkirakan mereda seiring dengan penurunan harga minyak dunia. "Namun, kami masih percaya bahwa penghapusan subsidi bahan bakar dapat memilikiki lebih banyak dampak positif terhadap daya saing dan stabilitas eksternal," tegas Febrio. kbc10

Bagikan artikel ini: