Kembali berkibar di Jatim, Shell ajak pengusaha ikut berinvestasi bangun SPBU

Kamis, 17 Januari 2019 | 19:58 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Empat Stasiun Pengisian  Bahan Bakar Umum (SPBU) milik Shell di wilayah Jawa Timur kembali dibuka setelah sempat tutup sejak 2014. Pembukaan empat SPBU Shell yang terletak di Sidoarjo dan Surabaya tersebut juga sebagai tanda kembalinya perusahaan minyak asal Amerika Serikat tersebut untuk ikut berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) masyarakat Indonesia.

Direktur Retail Shell Indonesia Wahyu Indrawanto mengatakan bahwa pihaknya berkomitmen membantu pemerintah untuk bersama-sama menjamin ketersediaan BBM di seluruh Indonesia. Saat ini, Shell telah memiliki 94 SPBU yang tersebar di wilayah Jabodetabek, Jawa Bandung, Sumatra Utara dan Jawa Timur. Untuk Jatim, ada sekitar 4 SPBU yang bisa diakses masyarakat, dua SPBU di Surabaya dan dua unit SPBU di Sidoarjo. Dalam waktu dekat, Shell juga akan masuk ke beberapa daerah lain diantaranya Malang dan Tuban. 

“Harapan kami, akan ada lima hingga tujuh SPBU lagi di Jatim sampai akhir tahun ini. Untuk itu kami mengundang pengusaha lokal, baik secara individu maupun secara lembaga untuk ikut berinvestasi dan bermitra dengan membangun SPBU Shell,” kata Wahyu saat pembukaan SPBU Shell di Pakuwon Indah Surabaya, Kamis (17/1/2019).

Adapun investasi yang dibutuhkan membangun satu unit SPBU menurut pengakuannya bervariasi, tergantung luas tanah dna lokasi dimana SPBU dibangun. “Kalau tanpa tanah, ya mungkin sekitar Rp 10 miliar hingga Rp 15 miliar dan sebenarnya empat pompa sudah cukup,” tambahnya.

Saat ini, jumlah mitra Shell masih belum banyak. Bahkan dari total jumlah SPBU yang dimiliki Shell yang mencapai 94 unit, yang dibangun mitra tidak sampai 20 persennya. “Masih kecil, makanya kami ingin mengajak sebanyak-banyaknya mitra untuk ikut bergabung,” tekannya.

Anggota komite BPH Migas Muhammad Ibnu Fajar mengatakan bahwa dengan kembali dibukanya SPBU Shell, diharapkan ketersediaan BBM di seluruh wilayah Jatim akan semakin terjaga. Karena saat ini, jumlah lembaga penyalur atau SPBU di seluruh Indonesia masih kurang. Pada tahun 2017, jumlah lembaga penyalur di Indonesia mencapai 7451 lembaga penyalur. Padahal luas daratan Indonesia mencapai 1,9 juta kilometer persegi.  

“Artinya accessibility lembaga penyalur mencapai  250 kilometer persegi. Padahall idealnya sekitar 5 kilometer persegi. Kalau di jawa memang sudah ideal karena jumlah lembaga penyalur di Jawa, Madura dan Bali mencapai sekitar 3.700 lembaga dengan luas wilayah 200 ribu kilometer persegi, artinya accessibilitynya mencapai 60 kilometer persegi,” tandas Ibnu. 

Dengan kondisi tersebut, maka terjadi ketimpangan antara jawa dan luar jawa. Untuk itulah pemerintah mendorong lembaga swasta untuk ikut berperan serta demi meminimalisir ketimpangan tersebut. “Kedepan, kami berharap Shell juga berkontribusi di daerah luar Jawa. Apalagi konsumsi BBM masyarakat Indonesia juga cukup besar, mencapai 78 juta kilo liter per tahun. Dan pastinya tidak sanggup kalau hanya dilakukan oleh satu pemain saja,” tambahnya.

Ibnu juga menegaskan bahwa pendistribusian BBM tidak hanya soal bisnis saja tetapi juga soal sosial karena menyangkut kegiatan ekonomi masyarakat. “Di daerah 3T, daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar Indonesia, orang harus berjalan 100 km untuk mendapatkan akses bbm. Di Papua, NTT dan kalimantan masih ada yang seperti itu. Dan saya berharap Shell jadi pionir (dari pihak swasta) untuk bersama mengembangkam jaringan distribusi bbm di seluruh indonesia yang orientasinya pada masyarakat,” pungkasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: