Tak semanis rasanya, ini yang harus dibenahi dari permasalahan gula nasional

Rabu, 23 Januari 2019 | 16:27 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah diminta fokus membenahi permasalahan seputar gula nasional, mulai dari produktivitas di sisi on farm hingga tingkat rendemen di bagian off farm.

Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyebut semua hal itu merupakan penyebab utama gula nasional sulit bersaing dengan gula impor. Peneliti CIPS Assyifa Szami Ilman menilai saat ini pemerintah belum secara total mengembangkan industri pergulaan. Pasalnya, masih banyak kekurangan dimana-mana yang membuat produksi tebu atau gula tidak bisa bertumbuh secara signifikan.

"Masih kita temui ketidaksesuaian antara varietas tebu dengan lokasi pertanian yang tersedia. Di samping itu, banyak juga petani yang tidak mampu menerapkan teknik budi daya tebu yang tepat," ujar Ilman di Jakarta, Rabu (23/11/2019).

Terlebih, pemerintah terlihat hanya fokus pada pengembangan komoditas tanaman pangan seperti padi dan jagung. Padahal, banyak produk perkebunan yang menyumbang devisa kepada negara seperti kelapa sawit, karet, kopi dan sebagainya.

Data United States Department of Agriculture (USDA) pada 2017, produktivitas perkebunan tebu di Indonesia hanya mencapai 68,29 ton per hektare (ha). Jumlah itu lebih rendah daripada negara penghasil gula lainnya seperti India mencapai 70,02 ton per ha.

 

Sementara, dari sisi off farm, pemerintah juga lamban dalam merevitalisasi pabrik-pabrik gula BUMN.

Saat ini, di seluruh Tanah Air terdapat 64 pabrik gula, 50 di antaranya milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN).Kapasitas terpasang secara menyeluruh sebesar 254 ribu ton per hari dengan rincian produksi dari seluruh pabrik gula BUMN hanya 126 ribu ton per hari. Sementara, pabrik gula swasta dengan jumlah yang lebih sedikit, bisa mencapai 128 ribu ton per hari.

"Rendahnya tingkat produktivitas tidak lepas dari usia pabrik penggilingan gula di Indonesia. Dari 50 pabrik gula BUMN, sebanyak 40 di antara mereka berusia lebih dari 100 tahun dan yang tertua mencapai 184 tahun,” terangnya.

Pemerintah sedianya telah memberikan dukungan finansial kepada BUMN untuk merevitalisasi pabrik gula mereka. Hanya saja, ketika dana sudah diterima, perbaikan tidak dilakukan secara maksimal."Banyak pemilik pabrik enggan menghentikan proses produksi selama proses revitalisasi dilakukan. Itu membuat perbaikan berjalan setengah-setengah," imbuhnya.

Bantuan, menurut Ilman seharusnya diberikan satu paket bersama pendampingan intensif. Dengan begitu, perbaikan dapat dilakukan secara menyeluruh sehingga bisa tepat sasaran.Masih berdasarkan data USDA pada 2017, tingkat rendemen pabrik gula dan penggilingan tebu di Indonesia hanya mencapai 7,50%. Sementara, negara-negara tetangga seperti Filipina, Thailand dan Australia memiliki tingkat rendemen masing-masing mencapai 9,20%, 10,70%, dan 14,12%.kbc11

Bagikan artikel ini: