Bekraf prediksi ada 60 juta penonton bioskop bawa Rp2,4 triliun di 2018

Jum'at, 25 Januari 2019 | 06:32 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bisa menggaet 60 juta penonton bioskop dengan pendapatan senilai Rp2,4 triliun di sepanjang tahun ini. 

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengatakan, industri perfilman terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. 

Setelah pada 2017 terkumpul 42,7 juta penonton bioskop, naik sebesar 22,95% menjadi 52,55 juta orang di tahun lalu.. Kenaikan jumlah penonton itu tentu berdampak pada perolehan pendapatan industri perfilman dari sisi penonton senilai Rp2,1 triliun. 

"Tahun ini target 60 juta penonton yang rata-rata harga tiket Rp40.000 jadi pendapatan yang diperoleh Rp2,4 triliun. Tahun lalu, sekitar Rp2,1 triliun yang diperoleh dari banyaknya penonton," ujarnya, Kamis (24/1/2019).

Di tahun ini pula terdapat 200 film yang akan diputar di layar lebar dimana  sekitar 127 film rencananya merupakan karya anak bangsa. Meski film nasional belum mencapai 50% dari jumlah film yang diputar di bioskop pada saat ini, namun diperkirakan sharenya akan terus mengalami kenaikan. 

"Memang saat ini persaingan antar film sangat berat. Karena bicara kualitas. Terlebih terbatasnya jumlah layar bioskop. Selain harus bersaing dengan film nasional yang semuanya minta ditayangkan, juga harus bersaing dengan film-film Hollywood," tutur Triawan. 

Sementara Ketua Badan Perfilman Indonesia Chand Parwez Servia optimistis industri perfilman di sepanjang tahun ini dapat mencapai jumlah penonton sebanyak 60 juta orang dari tahun lalu sekitar 53 juta orang. 

"Tahun lalu market share film lokal hampir 50% - tahun ini market share bisa di atas 50%. Film lokal saat ini sudah bisa bersaing dengan film dari luar. Tentu kami akan tingkatkan terus kualitas film lokal," katanya. 

Selain itu, juga terdapat dua judul film yang masuk dalam box office yaitu Keluarga Cemara dan Preman Pensiun di awal tahun ini. 

"Jumlah film sejujurnya bukan hal yang penting dan relatif terlalu banyak sehingga hampir setiap minggu tayang 3 film baru. Akibatnya jelas film yang bagus dan diminati penonton yang sukses, seleksi alam," ucapnya. 

Menurutnya, tantangan industri film hingga saat ini yang belum terselesaikan yakni memberantas pembajakan yakni dengan menutup situs-situs bajakan yang saat ini masih banyak beredar di internet. Pasalnya, industri perfilman turut mengalami kerugian akibat masih banyaknya film bajakan yang diedarkan dalam situs tersebut.

"Pemerintah sudah harus tegas menindak pembajakan melalui situs-situs juga yang melalui sosial media," kata Chand. 

Ketua Bidang Fasilitasi Pembiayaan Film Badan Perfilman Indonesia Agung Senatusa menambahkan kendati geliat industri perfilman Tanah Air semakin pesat, namun masih minim kualitas dan jumlah sumber daya manusia yang mumpuni. 

Pasalnya, dengan meningkatnya jumlah produksi film setiap tahunnya maka akan membuka lapangan kerja di bidang perfilman.

"Kendala yang cukup krusial di industri film saat ini, minimnya lembaga yang menyediakan pendidikan perfilman," ucapnya.

Di Indonesia, pendidikan yang menawarkan sarjana perfilman masih kurang dari 15 sekolah. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan dapat menambah jumlah sekolah perfilman berserta tenaga pendidiknya. 

"Indonesia sudah mulai memasuki fase yang sangat membutuhkan SDM perfilman yang berkualitas dan bersertifikasi agar film lokal bisa semakin berdaya saing dengan film luar negeri," kata Agung. kbc10

Bagikan artikel ini: