Selamatkan peternak gurem, pemerintah putuskan impor jagung 150.000 ton

Selasa, 29 Januari 2019 | 15:09 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Harga jagung di pasaran yang saat ini masih terpantau di level Rp 6.000 per kilogram (kg) terpaut jauh dengan harga refrensi jagung yang ditetapkan pemerintah Rp 4.000 per kg.

Perum BULOG  telah melakukan lelang guna memasukkan jagung impor sebanyak 150.000 ton untuk pakan peternak Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan harus tiba di Tanah Air sebelum 31 Maret 2019. Keputusan untuk melakukan impor sebesar itu merupakan kelanjutan dari rapat terbata­s yang membahas pasokan jagung itu di Istana Negara pekan lalu.

Awalnya BULOG berencana mengimpor 30.000 ton. Namun, setelah melihat perkembangan harga yang tetap tinggi dan kekhawatiran hasil panen raya yang belum tentu sesuai dengan perkiraan, BULOG akhirnya melakukan impor lima kali lipat dari rencana awal.

Berdasarkan dokumen lelang tertanggal 25 Januari 2019 dalam laman resmi BULOG, lelang untuk jagung hanya diberikan kepada eksportir dari Argentina dan Brasil.Sebanyak 30.000 ribu ton akan dimasukkan ke Pelabuhan Cigading, Banten, dan 120.000 ton sisanya akan bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan membenarkan pihaknya telah menerbitkan surat perizinan impor (SPI) pada 25 Januari lalu. Namun, Ketua Dewan Jagung Nasional Tony J. Kristianto beranggapan keputusan pemerintah menambah impor jagung sebesar 150.000 ton untuk peternak UMKM cukup berasalan karena harga jagung sudah diatas Rp 6.500 per kg.

Namun melihat tenggat kedatangan impor jagung baru tiba di Tanah Air di akhir Maret agak terlambat harga jagung di tingkat petani. Menurut Tony, Dewan Jagung Nasional sudah mengusulkan pemerintah segera mengimpor jagung sejak Oktober 2018 guna mengantisipasi kenaikan harga lantaran  memasuki  fase defisit pasokan jagung.”Tapi tidak digubris, akhirnya seperti inilah (harga jagung pakan bergejolak red),”ujar Tony kepada kabarbisnis.com di Jakarta, Selasa (29/1/2019).

Tony juga menambahkan informasi dari pabrik pakan ternak hanya memiliki stok hingga akhir Februari saja. Apabila , situasi jagung tidak terkendali maka harga akan tembus Rp 7.000 per kg.”Sekarang sudah bisa dikatakan krisis jagung, sudah akut. Harga jagung sudah tidak layak buat peternak ,”terangnya.

Disisi lain, Tony juga mengkhawatirkan berdekatan waktunya importasi dengan masa panen mengakibatkan potensi resiko terhadap harga jagung petani.Pasalnya di sebagian daerah sudah mulai panen jagung.

Meski beberapa pendapat yang memprediksi mundurnya musim panen akibat penanaman baru di mulai seiring masuknya musim hujan di awal November dari prediksi Oktober 2018. Saat ini, harga jagung masih diatas Rp 6.000 per kg sehingga petani yang sudah panen menikmati harga terbaik.

“Tapi kedepannya kita tidak tahu. kita tidak bisa memperhitungkan faktor psikologis pasar , saya juga khawatir harga jagung anjlok karena tidak ada fasilitas pengering. Kualitas jagung yang buruk (basah) akan menurunkan harga jagung petani,”pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: