165 Unit peternakan kantongi sertifikat kompartemen bebas flu burung

Selasa, 29 Januari 2019 | 19:22 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (PKH Kementan) mencatat  165 unit peternakan unggas di Tanah Air telah mengantongi Sertifikat Kompartemen Bebas Virus Avian Influenza (AI) .

Meski begitu, pemerintah tidak berani memberi garansi  100 % produk ternak Indonesia akan terbebas dari penyebaran virus yang digolongkan high patogenic  AI yaitu juga dapat menyerang manusia.

Namun, Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH Tjatur Sumping menegaskan kompartementalisasi  menjadi sistem pengendalian optimal guna  menekan penyebaran penyakit AI .Bagian dari upaya biosekuriti ( sterilisasi  kandang red) ini sudah sesuai dengan pedoman TAC OIE (Badan Kesehatan Dunia OIE) chapter 4.4 tentang Application of Compartementalization  .

“Kalau mengontrol penyebaran virus itu ukurannya (pengendalian AI red) seluas provinsi,bahkan negara itu sulit,” ujar Tjatur kepada wartawan usai peluncuran tiga buku Panduan Hadapi Penyakit Infeksi Baru dan Zoonosis di Jakarta, Selasa (29/1/2019).

Dengan sertifikat tersebut produk unggas ini dapat dinyatakan terbebas dari virus AI sehingga aman untuk perdagangan domestik atau ekspor.Catatan di Direktorat Keswan menyebutkan unit peternakan yang mengantongi Sertifikat Kompartemen Bebas Virus AI kian meningkat. Pasalnya, di awal tahun 2018, jumlah  kompartemen yang mengantongi sertifikat baru sebanyak 77 unit.

Tjatur mengklaim situasi penyebaran virus AI pada unggas menurun cukup signfikan. Menurut Tjatur, kalaupun terjadi kasus sifatnya hanya sporadis di daerah tertentu dan dapat dikendalikan secara cepat.

Kendati begitu, Tjatur mengakui sulit menjamin hewan ternak di Indonesia akan terbebas 100 % dari penyebaran virus AI. Padahal, sebelumnya, dalam roadmap Kementan kepada OIE, Indonesia akan terbebas dari virus AI di tahun 2020 mendatang.

Hal ini diakibatkan sifat virus AI yang kerap bermutasi.Alhasil sehingga terjadi kegagalan netralisasi virus AI oleh antibodi yang ada.Di tahun 2003,  kejadian luas biasa akibat kematian ternak unggas yang mati terserang virus AI dengan jenis H5 N1.

Upaya vaksinasi juga depopulasi juga dilakukan pada hewan ternak unggas yang terjangkiti. Namun, dalam perjalanannya kejadiannya terus berulang dan dari monitoring virus AI terus bermutasi.

Hingga  satu tahun belakangan ini virus flu burung ini bermutasi memiliki stereotype H9N2. Meski virus ini bersifat low patogenic, unggas petelur  yang terserang virus H9N2 akan menurun produktivitas hingga tersisa  30-40% saja

Kementan, sambung Tjatur terus berupaya menciptakan jenis vaksin H9N2. Pihaknya masih membutuhkan waktu riset cukup panjang  hingga sampai dapat mengkomersialisasinya.

”Bergantung dari mulati produksinya hingga uji mutunya.Kita harapkan segera dilaunching dalam dua –tiga bulan.Ternyata butuh waktu lama dan lebih sulit karena belum ada standar internasionalnya,” pungkasnya.

Berkaitan tiga buku panduan yang diluncurkan ini, kata Tjatur, untuk menguatkan kapasitas petugas di lapangan dalam mendeteksi, mencegah dan mengendalikan wabah penyakit.Ini juga membantu para pembuat keputusan di tingkat lokal dan nasional melalui pendekatan One Health.kbc11

Bagikan artikel ini: