Intiland raih fasilitas kredit sindikasi senilai Rp2,8 triliun

Rabu, 30 Januari 2019 | 21:38 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Perusahaan pengembang properti PT Intiland Development Tbk (Intiland;DILD) meraih fasilitas kredit sindikasi perbankan senilai Rp2,8 triliun. Fasilitas kredit sindikasi dengan tenor delapan tahun atau sampai dengan 2026 ini dikucurkan Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Central Asia (BCA) yang masing-masing senilai Rp1,63 triliun (58,33 %) dan Rp1,17 triliun (41,67 %) dengan tingkat bunga 10,5 persen. 

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland, Archied Noto Pradono menyampaikan apresiasi atas kerjasama dan dukungan BNI dan BCA dalam pengucuran fasilitas kredit sindikasi ini. Pemberian fasilitas pembiayaan ini merupakan wujud kepercayaan sektor perbankan dan keuangan terhadap prospek usaha perseroan di masa mendatang. 

“Kami memberikan apresiasi terhadap kepercayaan dan dukungan BNI dan BCA terhadap Intiland. Pengucuran fasilitas kredit sindikasi ini memberikan dampak positif bagi Intiland untuk mengeksekusi rencana-rencana strategis dan memperkuat struktur keuangan serta meningkatkan kinerja usaha,” kata Archied melalui keterangan tertulis, Rabu (30/1/2019).

Pemberian fasilitas kredit sindikasi ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan kerjasama yang telah dijalin sejak September tahun lalu. Pengucuran fasilitas kredit sindikasi tersebut secara resmi telah ditandatangi oleh masing-masing pihak Intiland, BNI, dan BCA pada 21 Desember 2018. 

Archied menjelaskan bahwa fasilitas pendanaan ini merupakan kredit investasi yang digunakan untuk pendanaan ulang (refinancing) dan menambah modal kerja (working capital). Perseroan rencananya mengalokasikan sebagian besar kucuran kredit tersebut untuk refinancing pinjaman ke delapan bank dan melunasi hutang obligasi yang jatuh tempo pada pertengahan tahun ini. 

Intiland pada saat ini tercatat memiliki pinjaman ke sejumlah bank dengan tingkat bunga dan tenor pinjaman yang berbeda-beda. Kondisi ini menyebabkan model pengelolaan hutang menjadi kurang efisien dari sisi cost of fund maupun proses administrasinya. 

Langkah refinancing lewat pelunasan hutang-hutang tersebut memberikan manfaat positif bagi perseroan. Manfaat-manfaat tersebut antara lain menurunkan beban biaya bunga, menyederhanakan proses administrasi, serta memperbaiki struktur keuangan perseroan. 

“Dengan mendapatkan tenor pinjaman lebih panjang, kami punya ruang lebih longgar untuk mengatur struktur keuangan dan pendanaan untuk pengembangan usaha. Total pinjaman bank yang kami refinancing sebesar Rp2,16 triliun, pelunasan obligasi senilai Rp428 miliar dan untuk working capital sekitar Rp221,67 miliar,” ungkap Archied. 

Perseroan pada tahun 2016 menerbitkan obligasi II senilai Rp590 miliar yang terbagi menjadi dua seri. Obligasi Seri A senilai Rp428 miliar dengan tingkat bunga 10,75 persen dengan tenor tiga tahun. Obligasi Seri B memiliki tenor lima tahun senilai Rp162 miliar dengan kupon 11 persen. 

“Obligasi seri A akan jatuh tempo pada 29 Juni 2019. Saat ini dana dari fasilitas kreditnya sudah siap, tinggal menunggu pembayaran pada saat jatuh tempo,” ungkap Archied lebih lanjut. 

Selain digunakan untuk refinancing hutang bank, fasilitas kredit sindikasi ini sebagian dialokasikan untuk untuk menambah modal kerja. 

Pemimpin Unit Bisnis Sindikasi BNI Rommel TP Sitompul menyampaikan bahwa penyaluran kredit BNI bersama dengan BCA untuk PT Intiland Development Tbk merupakan salah satu bentuk dukungan korporasi pada sektor properti. Ini juga merupakan bentuk dukungan BNI untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Dalam perjanjian kredit sindikasi ini, selain sebagai Join Mandated Lead Arranger & Bookrunner (JMLAB), BNI juga berperan sebagai Facility Agent dan Escrow Agent. 

“Kesepakatan ini juga merupakan bentuk sinergi antara bank BUMN dengan perbankan swasta yang terus berjalan dalam memicu penyaluran kredit ke sektor properti,” ujarnya. 

Kinerja Penjualan Intiland pada 2018 mencatatkan pendapatan penjualan (marketing sales) senilai Rp2,28 triliun, atau lebih rendah dibandingkan tahun 2017 senilai 2,93 triliun. Namun demikian, perseroan berhasil meningkatkan kinerja pendapatan berkelanjutan (recurring income) yang tercatat mencapai Rp595,7 miliar, atau melonjak 12,8 persen dibandingkan tahun 2017 senilai Rp528,2 miliar. 

“Pasar hanya cenderung wait and see dan segera kembali pulih ketika ada momentum positif. Kami melihat daya beli pasar tetap ada, namun konsumen lebih selektif untuk melakukan pembelian dan investasi properti,” kata Archied. 

Tahun ini perseroan akan fokus pada pengembangan di proyek-proyek yang telah berjalan. Pengembangan tersebut antara lain adalah townhouse Pinang Residence, klaster baru di kawasan perumahan Serenia Hills, serta pengembangan apartemen baru di proyek South Quarter. 

Intiland telah menyiapkan sejumlah strategi utama untuk menjaga pertumbuhan kinerja tahun ini. Selain membuka peluang menjalin kerjasama strategis dalam bentuk partnership atau joint venture, perseroan juga fokus untuk memasarkan inventori atau sisa stok produk. 

Strategi berikutnya yakni memperbaiki kualitas aset dengan melepas aset-aset yang bukan masuk kategori inti dan kurang produktif. Langkah-langkah strategis ini diyakini akan memperkuat kinerja usaha. kbc7

Bagikan artikel ini: