SKK Migas bidik produksi minyak 1 juta barel pada 2022

Kamis, 31 Januari 2019 | 08:49 WIB ET
Kepala SKK Migas Jabanusa Ali Masyhar (tengah) di Surabaya, Rabu (30/1/2019).
Kepala SKK Migas Jabanusa Ali Masyhar (tengah) di Surabaya, Rabu (30/1/2019).

SURABAYA, kabarbisnis.com: Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan bisa merealisasikan target produksi minyak sebesar 1 juta BOPD atau barel per hari pada tahun 2022. 

Kepala Perwakilan SKK Migas wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa), Ali Masyhar mengatakan, meski target sebesar itu, namun belum mampu memenuhi total konsumsi masyarakat Indonesia. Dia bilang, saat ini total kebutuhan atau konsumsi masyarakat mencapai 1,6 juta BOPD. Sementara produksi minyak pada tahun 2018 hanya 760 ribu BOPD. Sehingga untuk menutup kekurangan itu negara harus mengimpor.

"Namun kami optimis bisa mengoptimalkan apa yang ada di wilayah Jabanusa ini, karena kami berupaya untuk terus melakukan eksplorasi atau menggali potensi sumber-suber minyak baru, yang diharapkan pada 2022 produksi nasional bisa mencapai 1 juta BOPD,” kata Ali saat media gathering di Surabaya, Rabu (30/1/2019).

Dipaparkannya, proyek eksplorasi di wilayah Jabanusa yang dilakukan para kontraktor di tahun 2019 ini antara lain Lapindo Brantas di lapangan Metro Jombang, Energi Mineral Langgeng (EML) di lapangan Saronggi Sumenep Madura, Pertamina Hulu Energi (PHE) di Tuban, serta Pertamina EP Cepu di Alas Dara dan Lapangan Kemuning (ADK) Blora.

“Untuk Lapindo Brantas diperkirakan 20 Februari ini sudah mulai ngebor sumur, dan mudah-mudahan minimal tahun ini sudah bisa eksploitasi yang di Jombang dan Sumenep,” ujar Ali.

Untuk proyek eksploitasi, antara lain berupa pengembangan Lapangan Tanggulangin 10 dan Tanggulangin 6 oleh Lapindo. Lapindo selama 12 tahun ini hanya mengurusi masalah lumpur.

"Tapi pada akhir 2018 sampai sekarang sudah bisa menambah kegiatan utama yaitu eksploitasi. Setidaknya satu sumur bisa menambah gas 5 hingga 8 mmscfd. Sedangkan untuk proyek di Tanggulangin 6 saat ini masih dalam proses,” jelas Ali didampingi Wisnu Prabawa Taher, Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Jabanusa.

Selain itu, masih ada proyek eksplorasi dari Saka Energi di Lapangan Sidayu, Tambak Boyo, Pangkah Kulon di Gresik yang diperkirakan bisa memproduksi 100 -200 mmscfd, serta Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL) di Lapangan Kedung Keris Bojonegoro, yang diharapkan bisa memproduksi 10.000 BOPD.

Ali juga menjelaskan, jika tahun ini penerimaan negara dari industri hulu minyak dan gas bumi (migas) secara nasional ditargetkan 17,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Nilai itu sama dengan realisasi penerimaan negara tahun 2018 sebesar 17,5 miliar dolar AS (unaudited) atau sekitar Rp 215 triliun.

Pencapaian di tahun 2018 itu melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yang sebesar 11,9 miliar dolar AS.

Dari jumlah itu, SKK Migas Jabalnusa menargetkan peningkatan kontribusi 40 persen dari wilayah kerjanya.

"Saat ini kontribusi dari wilayah kami ke nasional sekitar 35 persen. Kami di tahun ini optimalkan yang sudah dikerjakan dengan target bisa meningkatkan kontribusi hingga 40 persen," kata Ali.

Dalam kegiatan itu, disebutkan jika target tahun ini tidak hanya penerimaan negara atas sektor migas saja yang meningkat. Namun juga peningkatan target lifting minyak dan gas bumi yang juga ditetapkan di atas target APBN 2018. Dari sebelumnya sebesar 2 juta setara barel minyak per hari (BOEPD) menjadi 2 juta 25 ribu BOEPD di tahun 2019.

Target lifting minyak bumi 775 ribu barel per hari dan target lifting gas bumi sebesar 1,250 juta BOEPD diharapkan dapat mendukung tercapainya target penerimaan negara dan investasi. kbc7

Bagikan artikel ini: