Tiga strategi ini jadi senjata BI Jatim bantu tekan defisit anggaran

Jum'at, 1 Februari 2019 | 10:31 WIB ET

PROBOLINGGO, kabarbisnis.com: Bank Indonesia (BI) terus melakukan terobosan demi menaikkan kinerja ekonomi nasional,. Ada tiga langkah yang tengah diterapkan BI Kantor Wilayah Jawa Timur agar defisit anggaran tidak semakin melebar. 

Kepala Perwakilan BI Provinsi Jatim, Difi A. Johansyah mengatakan bahwa defisit anggaran Indonesia pada tahun 2018 masih cukup besar. Data dari Kementerian Keuangan menunjukkan, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 hingga akhir November sebesar Rp 287,9 triliun. Defisit anggaran pemerintah ini lebih rendah jika dibandingkan periode yang sama di tahun lalu yakni sebesar Rp 349,6 triliun.

“Untuk itu perlu terobosan baru agar angka defisit bisa kita minimalisir. Dalam hal ini, BI telah menetapkan tiga fokus utama. Pertama dengan menggali sektor pariwisata, kedua meningkatkan produktivitas  komoditas yang berorientasi ekspor dan  ketiga mengurangi ketergantungan impor,” ujar Difi A. Johanstah, Probolinggo, Kamis (31/1/2019). 

Dalam hal pariwisata, Difi mengatakan, Jatim termasuk provinsi yang memiliki potensi sangat besar, mulai dari potensi wisata alam, budaya hingga religi. Ada beberapa destinasi wisata yang sudah digiatkan, misalnya yang berlokasi di Banyuwangi dan sekitarnya,  taman Nasional Bromo Tengger dan Semeru (BTS). Tidak ketinggalan Surabaya dengan wisata belanja serta Malang dan Batu dengan berbagai destinasi wisata alamnya.

“Karena dengan pariwisata kita bisa menarik wisatawan mancanegara untuk datang kemari dengan membawa dolar mereka untuk dihabiskan di sini,” tegasnya

Terlebih dengan tersambungnya jalur tol Jakarta hingga Surabaya dan sebentar lagi akan sampai hingga  Banyuwangi. Artinya, konektivitas wilayah Jawa sudah tersambung dan semakin membaik. Arus orang dan arus barang menjadi lebih lancar. 

Selain itu, BI juga tengah fokus membantu meningkatkan produktivitas komoditas berorientasi ekspor seperti kopi dan coklat, mulai dari on farm  hingga off farm atau proses hasil panennya. Karena masih banyak kendala yang dihadapi para petani, seperti produktivitas yang masih rendah hingga ongkos produksi yang masih tinggi. 

Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan BI Provinsi Jatim, Dery Rossianto juga mengatakan hal yang sama bahwa tahun ini target BI adalah peningkatan UKM yang berorientasi ekspor dengan mengelompokkan mereka menjadi berbagai kluster, misal klaster kopi dan coklat. 

“Hampir semua daerah di Jatim memiliki kopi khas, mulai Banyuwangi, Jember, Bondowoso, Kediri hingga Surabaya. Untuk itu BI akan melakukan standardisasi produk serta pendampingan kepada petani,” tambah Dery. 

Disisi lain BI juga terus mendorong peningkatan ketahanan dengan cara membantu meningkatkan produktivitas  komoditas yang masih defisit dan untuk menurunya diekspor dari luar negeri seperti jagung dan kedelai.kbc6

Bagikan artikel ini: