Jonan: Industri migas harus mau berubah jika ingin tetap bertahan

Sabtu, 9 Februari 2019 | 13:05 WIB ET
Ignasius Jonan
Ignasius Jonan

SURABAYA, kabarbisnis.com: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan, kondisi industri migas saat ini jauh berbeda dengan kondisi 10 tahun lalu. Jika pada 2008, 10 perusahaan terbesar dunia didominasi oleh industri migas, maka saat ini industri tersebut sudah tergeser. 

“10 tahun kemudian, pada tahun 2018, tidak ada perusahaan migas yang masuk dalam daftar 10 perusahaan besar dunia. Dunia sudah berubah sekali. Dan sub sektor migas ini juga harus berubah jika ingin tetap menjadi industri strategis,” tegas Jonan saat dialog Migas dengan Media bertema “Nilai Strategis Sektor Hulu Migas dalam Pembangunan  Ekonomi Nasional di Masa Depan” yang digelar dalam rangkaian Hari Pers Nasional 2019 di Surabaya, Jumat (8/2/2019) petang.

Lebih lanjut ia mengatakan, sejauh ini industri migas kurang bisa melakukan efisiensi dengan menekan biaya operasional. Padahal harga jual migas tidak bisa dikendalikan dan selalu mengikuti pergerakan pasar dunia. Dampak terparah, cost recovery yang harus dikeluarkan pemerintah lebih tinggi dibanding pemasukan pemerintah dari sektor migas. Pada tahun 2015, cost recovery yang harus dibayar pemerintah mencapai US$ 13,7 miliar, sementara penerimaan negara dari sektor migas hanya US$ 12 miliar. Di tahun 2016 kembali terulang dengan cost recovery mencapai US$11,5 miliar sedangkan penerimaan negara dari migas hanya US$ 9,9 miliar.

“Kalau penerimaan turun harusnya biaya produksi juga turun. Ini tidak, biaya tetap naik sementara penerimaan turun. Jika tidak bisa mengendalikan harga jual ya biaya produksinya yang harus dikendalikan. Tetapi biaya produksi di sektor migas selama ini menjadi sesuatu yang tidak pernah dihitung, karena barangnya sudah ada pemberian dari Tuhan, gasnya sudah ada, minyaknya sudah ada. Tidak pernah peduli. Ini yang harus diselesaikan. Kalau tidak industri hulu migas Indonesia akan sangat tidak kompetitif dan akan habis,” kata Jonan.

Padahal industri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) nasional saat ini menurut Jonan masih menjadi penyumbang terbesar dari Pendapatan Negara Bukan dari Pajak (PNBP). Di tahun 2018, total pemasukan negara bukan pajak mencapai Rp 407,1 triliun dari total penerimaan negara sebesar Rp 407,1 triliun. Dari nilai tersebut, sumbangan sektor ESDM mencapai Rp 217,5 triliun atau sekitar 53,4 persen dari total PNBP 2018. 

Sementara nilai investasi sektor ESDM juga cukup besar, mencapai US$ 32,2 miliar di tahun 2018. Realisasi investasi tersebut mencapai sekitar 60 persen dari total investasi, baik dari Penanaman Modal Asing ( PMAI) ataupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)  sepanjang 2018. 

Adapun lifting minyak dan gas bumi sepanjang 2018 rata-rata mencapai 1.917 ribu barrel oil equivalent per day (mboepd) dari target 2.000 mboepd. Saat ini, produksi mogas tersebut sebagian besar masih berasal dari perusahaan migas asing seperti Chevron Pacific Indonesia dengan wilayah kerja Rokan dan Mobil Cepu Ltd dengan wilayah kerja Bojonegoro dan Cepu. 

“Harapan kami, kontribusi perusahaan minyak nasional, Pertamina akan semakin besar. Pada tahun 201i, kontribusinya masih 36 persen, di tahun ini akan naik menjadi 30 persen dan di 2021, dengan mengambil alih blok Rokan, kontribusinya bakal jadi 60 persen,” tukasnya.kbc6

Bagikan artikel ini: