RI diramal belum terlepas dari jeratan impor jagung hingga 2030

Kamis, 21 Februari 2019 | 19:47 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Meski dalam tiga tahun terakhir , produksi jagung nasional mengalami kenaikan, namun pertumbuhannya belum dapat mengimbangi kebutuhan dalam negeri terus meningkat. Khususnya, permintaan kebutuhan jagung  di sektor pakan ternak.

Peneliti Visi Teliti Saksama Nanug Pratomo mengatakan, Indonesia hingga 2030 nanti diperkirakan masih belum dapat memenuhi kebutuhan jagung secara mandiri karena permintaan domestik yang terus meningkat.

"Saya mengutip salah satu studi, kami lihat hasil proyeksi menunjukkan hingga mendekati 2029-2030 masih akan terjadi defisit atas produksi dalam negeri di bawah dari permintaan domestik," ujar Nanug dalam diskusi di Jakarta,  Kamis (21/2/2019).

Nanug menambahkan kebutuhan jagung untuk pakan ternak trennya akan terus naik, sementara produksi dalam negeri belum mampu mengimbangi. Apalagi, jagung tak hanya diperlukan oleh produsen pakan ternak. Peternak kecil juga membutuhkannya untuk memproduksi pakan sendiri guna menekan biaya pakan jadi yang mahal.

Produksi jagung nasional merujuk  statistik pertanian 2018 terus meningkat. Produksi jagung mencapai 19 juta ton pada 2014; 19,6 juta ton pada 2015; 23,6 juta ton pada 2016; 28,3 juta ton pada 2017; dan 30 juta ton pada 2018.

Namun demikian, konsumsinya jauh lebih tinggi, sehingga terpaksa impor. Konsumsi jagung mencapai 29,6 juta ton pada 2014; 45,6 juta ton pada 2015; 49,6 juta ton pada 2016; 56,6 juta ton pada 2017; dan 60 juta ton pada 2018. Alhasil, Indonesia masih mengimpor jagung sebesar 3,3 juta ton pada 2014; 3,37 juta ton pada 2015; 3,5 juta ton pada 2016; 1,3 juta ton pada 2017; dan 714.504 ton pada tahun lalu.

Mengacu data pada 2014-2018 lalu, konsumsi jagung untuk pakan mencapai 73% dari total konsumsi pada 2014, 48,9% total konsumsi pada 2015, 50% total konsumsi di 2016, 49% total konsumsi 2017, dan 50% total konsumsi 2018. Sisanya untuk bibit, bahan makanan, olahan bukan makanan, dan tercecer.

"Enggak semua peternak kita mampu beli hasil (pakan) industri pabrikan. Ada peternak yang mau, enggak mau mengolah sendiri, membuat pakannya sendiri yang butuh jagung mentah," tambah dia.

Kesempatan sama, Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyatakan akurasi data dan neraca jagung penting sebagai dasar pengambil kebijakan untuk komoditas pangan strategis seperti jagung. Menurutnya, dalam pengambilan keputusan rapat koordinasi terbatas di Kemenko Perekonomian seperti untuk komoditas pangan strategis jagung, apakah perlu impor atau tidak, ada beberapa kepentingan yang harus dijaga.

"Kepentingan yang harus dijaga adalah kepentingan produsen, yaitu petani jagung. Di sisi lain, ada kepentingan konsumen, yaitu masyarakat, termasuk peternak yang menjadikan jagung sebagai pakan ternak. Ini tidak mudah menyeimbangkannya  karena ada kepentingan yang berbeda antara produsen dan konsumen," kata dia.

Ia mengingatkan jika harga jagung tinggi, maka akan merugikan produsen atau petani jagung.Namun, apabila harga terlalu rendah, akan merugikan produsen atau petani jagung.

Ketua Dewan Pembina  Gabungan Pengusaha Makanan Ternak Sudirman mengingatkan harga jagung untuk pakan ternak saat ini masih tinggi, meski tidak ada kendala suplai dan sudah mulai memasuki masa panen."Kalau di Jawa Timur, masih sekitar Rp4.800 per kilogram (kg). Belum sampai kata Pak (Menteri Pertanian) Amran itu Rp3.000-an," kata Sudirman.

Sudirman menjelaskan harga kisaran jagung pakan Rp 4.800 per kg masih termasuk tinggi, karena dalam kondisi normal jelang masa panen, harga jagung yang sampai ke tingkat pabrik pakan bisa Rp 3.500 per kg.

"Kalaupun di tingkat petani, acuannya Rp 3.150 per kg. Normal tinggi. Itu harganya sudah mempertimbangkan keuntungan petani dan kewajaran penerimaan pabrik pakan," katanya.

Ia justru mengharapkan adanya pasokan jagung yang terjaga hingga akhir tahun, agar tidak terjadi kelangkaan dan kenaikan harga pada periode November-Januari, yang dapat dipenuhi melalui peran Bulog."Bulog juga mesti mengisi stoknya, supaya nanti ketika lagi tidak panen, Bulog bisa membantu pabrik pakan," ujarnya.

Sudirman juga mengingatkan kebutuhan jagung untuk pakan ternak meningkat pada 2019 dengan proyeksi mencapai 20 juta ton.Ia menilai para petani telanjur mendapatkan iming-iming harga tinggi sehingga membuat harga ke tingkat pabrik pakan ikut melonjak.kbc11

Bagikan artikel ini: