Serapan pupuk organik bersubsidi capai 3,6 juta ton dalam 4 tahun, terbesar di Jatim

Rabu, 27 Februari 2019 | 22:45 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Tumbuhnya kesadaran petani akan dampak negatif penggunaan pupuk kimia terhadap lingkungan membuat mereka beralih menggunakan pupuk organik.

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat realisasi penggunaan pupuk organik bersubsidi di sektor pangan terhitung mulai tahun 2014 -2018 telah mencapai 3,6 juta ton. Realisasi penyaluran pupuk bersubsidi  kepada petani dalam kurun empat tahun ini jauh lebih baik dibandingkan awal kebijakan ini diperkenalkan sejak tahun 2008.

“Dua kali lipat besarnya atau kira-kira 7,5 juta ton pupuk organik bersubsidi yang didistribusikan kepada petani,” ujar Direktur Pupuk dan Pestisida Ditjen Sarana dan Prasarana Mukhrizal Sarwani dalam seminar Penggunaan Pupuk Organik ,Hayati dan Pembenahan Tanah untuk Meningkatkan Produkvitas Padi Berkelanjutan, di Jakarta, Rabu (26/2/2019).

Mukhrizal mengatakan petani Jawa Timur tercatat sebagai provinsi tertinggi yang menggunakan pupuk organik bersubsidi. Setelah itu diikuti Provinsi Jawa Tengah dan kemudian Sulawesi Selatan.”Lebih dari setengahnya( volume pupuk  diserap petani di Jawa Timur,” ujar Mukhrizal kepada kabarbisnis.com usai seminar.

Mukhrizal mengatakan  makin sadarnya  petani di Jawa Timur yang tidak mau terlampau bergantung dengan pupuk kimia. Dengan mencampur penggunaan pupuk organik akan mengembalikan kesuburan tanah.

Dia juga tidak menepis keberadaan PT Petrokimia Gresik, turut memberi andil .  Anak perusahaan PT Pupuk Indonesia terus memberikan edukasi dan sosialiasi kepada kelompok petani tentang manfaatnya menggunakan pupuk organik juga menjadi kata kunci.

Namun tidak demikian dengan petani di Jawa Barat dan Banten terutama sepanjang utara Pulau Jawa yang menurutnya masih sulit mengalihkan untuk menggalihkan pupuk kimia. Dia mengimbau peran penyuluh pertanian direorganisasikan sehingga petani dapat meyakini untuk turut menggunakan pupuk organik.

Mukhrizal menambahkan Kementan telah menelurkan Permentan 01/2019 tentang Pendaftaran Pupuk organik dengan pendekatan persyaratan teknis minimal. Hal ini dilakukan sebagai standar bagi perusahaan untuk memproduksi pupuk organik yang bermutu. Selain itu, petani juga mendapatkan jaminan kualitas pupuk organik sementara pemeitnah dapat  mengawasi .

Arif Fauzan, Direktur Teknik dan Pengembangan PT Petrokimia Gresik mengatakan  pihaknya mempunyai kapasitas produksi pupuk organik 1,6 juta ton.Namun, tingkat utilisasinya baru 50% karena kurangnya bahan baku.

Menteri Pertanian di pemerintahan Presiden Megawati,Bungaran Saragih mengatakan guna meningkatkan produktivitas padi berkelanjutan,penggunaan pupuk organik, pupuk hayati dan pembenahan tanah terus didorong. Namun, pemakaiannya tetap perlu dikombinasikan anorganik bersama-sama .Pemupukan harus berimbang bersama pupuk hayati dan pembenahan tanah serta dibarengi pengendalian hama penyakit terpadu.kbc11

Bagikan artikel ini: