Ekspor minyak sawit mulai pulih di awal tahun

Jum'at, 1 Maret 2019 | 20:07 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat adanya perbaikan kinerja ekspor pada awal tahun ini. Sepanjang Januari volume ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan turunannya yakni olechemical dan biodiesel sebesar 3,25 juta ton.

Angka itu 4% lebih tinggi dari capaian ekspor pada Desember 2018 lalu yang hanya 3,13 juta ton.Secara rinci, volume ekspor CPO dan turunannya saja, tidak termasuk oleochemical dan biodiesel, mencapai 3,10 juta ton, naik naik 5% dari 2,95 juta ton pada bulan sebelumnya.

Direktur Eksekutif  Gapki Mukti Sardjono mengungkapkan geliat pertumbuhan itu terjadi karena meningkatnya permintaan dari pasar nontradisional.Pada bulan pertama tahun ini, gabungan negara Afrika membukukan permintaan sebesar 315,9 ribu ton, melonjak 74% dari permintaan bulan sebelumnya yang hanya 181,4 ribu ton.

Tidak hanya di Afrika, kenaikan permintaan juga diikuti Bangladesh sebesar 43%, dan Timur Tengah 13%. Ekspor ke pasar tradisional seperti Amerika Serikat pun mengalami kenaikan yakni 26% dan ke India tumbuh 9%. Diharapkan, pertumbuhan ke India bisa lebih signifikan pada bulan-bulan selanjutnya.

Negeri Bollywood itu pada awal tahun ini telah memberi pengurangan bea masuk impor terhadap CPO Malaysia yang semula ditetapkan 44% menjadi 40% dan refined palm oil dari 54% menjadi 45%. "Pemerintah Indonesia diharapkan mengadakan lobi yang lebih intens dengan Pemerintah India dan membuat perjanjian dagang khusus untuk mendapatkan tarif khusus agar harga minyak sawit Indonesia tetap kompetitif," ujar Mukti di Jakarta, Jumat (1/3/2019).

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan pemerintah masih terus mencoba bernegosiasi dengan India untuk mendapatkan formula terbaik bagi perdagangan kedua negara."Kita masih ciba terus. Kita ajukan penurunan (bea masuk sawit), mereka juga masih ajukan ke kita komoditas gula mereka," terangnya.

Di sisi lain, Pakistan mencatatkan pelemahan permintaan minyak sawit sebesar 8,5% yakni dari 290,2 ribu ton di Desember 2018 tergerus menjadi 265,49 ribu ton di Januari 2019. Penurunan juga diikuti Uni Eropa sebesar 4% dan Tiongkok 3%. Kbc11

Bagikan artikel ini: