Galaxy: Pasar properti tertolong penjualan sekunder

Selasa, 5 Maret 2019 | 22:33 WIB ET
CEO Galaxy Properti, Kennard Nugraha Sutantio menunjukkan aplikasi Galaxy di smartphone.
CEO Galaxy Properti, Kennard Nugraha Sutantio menunjukkan aplikasi Galaxy di smartphone.

SURABAYA, kabarbisnis.com: Anggapan bahwa pasar properti tahun ini mengalami staganasi ternyata tidak seluruhnya benar adanya. Pasalnya, permintaan terhadap hunian, khususnya landed house di Jawa Timur masih cukup besar.

Hal itu diungkapkan CEO Galaxy Properti, Kennard Nugraha Sutantio di kantornya, Surabaya, Selasa (5/3/2019).

Menurutnya, pada dua bulan pertama tahun 2019 ini, penjualan properti khususnya jenis rumah sekunder mengalami peningkatan. Dia juga menyebut antara pasokan dan permintaan rumah sekunder cukup berimbang.

"Banyak pemilik rumah yang menjual propertinya karena memang BU (butuh uang, red) dan yang paling cepat dilepas adalah aset properti. Dan kami bersyukur ternyata peminat rumah sekunder cukup bagus, bahkan sebagian besar pembeliannya secara cash. Jadi saya bilang bahwa pasar ada," katanya.

Sementara dari sisi permintaan, menurut Kennard, banyak pasangan muda yang baru saja menikah atau keluarga kecil yang membutuhkan rumah yang siap huni. Jadi pilihannya adalah rumah sekunder.

Dia bilang, kondisi ini terjadi di banyak wilayah perumahan baik di Surabaya Barat maupun Surabaya Timur. Sementara harga rumah sekunder yang paling banyak diminati adalah berkisar antara Rp 2 miliar hingga Rp 4 miliar per unit.

"Di tempat kami, penjualan masih didominasi secondary market (65 persen). Tahun ini kami perkirakan pasar properti sekunder tetap akan tumbuh 20-30 persen," ujarnya.

Jika pasar sekunder menggembirakan, hal yang berbeda justru terjadi pada primary market. Kennard menyebut, meski banyak developer yang merilis produk baru, namun tidak semua mendapat respon bagus. Selain track record developer dan lokasi, harga juga menjadi pertimbangan utama customer.

"Untuk end user rata-rata masih memilih rumah second. Namun untuk investor, masih wait and see menunggu Pemilu. Kami memprediksi untuk primary market akan membaik pada semester dua," ujar Kennard.

Ada fenomena menarik, menurut dia, karena saat ini kaum millennial mulai tertarik membeli properti untuk investasi. Namun mereka masih mempertimbangkan kemampuannya. Sehingga banyak developer yang memberikan pembayaran down payment (DP) dengan tempo yang panjang.

“DP yang panjang menarik konsumen terutama kaum millenial. Rata-rata developer bisa memberikan DP sebesar 15 persen dan bisa dicicil hingga 36 sampai dengan 48 bulan. Artinya ini masih terjangkau untuk konsumen milenial," bebernya.

Tingginya minat konsumen milenial itu pula yang mendasari manajemen Galaxy untuk memperkuat penjualan melalui online dan mobile apps. Agen properti asal Surabaya ini melakukan rebranding aplikasi properti dengan nama Galaxy Apps.

"Aplikasi Galaxy merupakan aplikasi properti ternaik dan terpercaya dengan ribuan listing dan berbagai informasi properti terbaru. Dan saat ini aplikasi kita tampil baru yang lebih segar, mudah digunakan, dan efisiensi waktu," jelasnya.

Diakuinya, pembaruan fasilitas aplikasi Galaxy dilakukan mengingat saat ini, sebanyak 50 persen atau separuh dari transaksi yang terjadi di Galaxy melalui online atau berdasar promosi di online, baik aplikasi, website, maupun sosial media. kbc7

Bagikan artikel ini: