Wonderful Indonesia langsung unjuk gigi di MATTA Fair 2019 Kuala Lumpur

Sabtu, 16 Maret 2019 | 04:48 WIB ET

KUALA LUMPUR – Phinisi Wonderful Indonesia kembali menjadi pusat perhatian industri pariwisata dunia. Setelah ‘berlayar’ di sejumlah travel mart dunia, sekarang giliran MATTA Fair 2019 yang ‘dilayari’. Di Putra World Trade Center (PWTC), Kuala Lumpur, Malaysia, 15-17 Maret 2019, Phinisi Wonderful Indonesia diset sangat elegan.

Lantas mengapa kembali mengangkat tema Phinisi? Bukankah yang menjadi titik fokus penjualan diarahkan ke Banyuwangi dan Danau Toba? 

“Phinisi itu sudah mendunia. Pelaut-pelaut Bugis sudah menjelajah dunia dengan Phinisi dari Asia, Afrika, Australia, Amerika, Eropa pernah dijelajahi pelaut kita dengan Phinisi. Dan, kapal model ini khas Indonesia, bisa mewakili identitas Indonesia. Karena itu kami konsisten menggunakan desain ini di semua travel market besar dunia, termasuk MATTA Fair,” ujar Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, Jumat (15/3). 

Identitas sebagai bangsa maritim dan negara kepulauan terbesar di dunia juga terwakilkan dengan tampilan Kapal Phinisi. Sangat pas dengan visi Presiden Jokowi yang menampatkan maritim sebagai satu dari lima prioritas pembangunan. “Selain, Infrastruktur, pangan, energi, pariwisata, adalah maritim,” kata mantan Dirut Telkom itu.

Bila ditarik ke pariwisata, Kapal Phinisi juga sangat nyambung. Tengok saja 10 Destinasi prioritas yang bakal disulap menjadi ’10 Bali Baru’. Tujuh di antaranya adalah wisata bahari. Daya pikatnya adalah maritim. “Itu semakin menguatkan, mengapa Phinisi selalu menjadi ikon Wonderful Indonesia! Potensi bahari kita luar biasa,” kata dia.

Deputi Bidang Pemasaran Zona I Kemenpar Rizki Handayani Mustafa ikut mengamini. Menurutnya, pameran ini merupakan ajang untuk mempromosikan Indonesia sebagai negara kemaritiman kepada traveller dunia yang hadir di Kuala Lumpur. “Momentum ini kita akan manfaatkan untuk menjual seluruh potensi pariwisata kita,” ungkap Kiki, sapaan akrab Rizki Handayani yang didampingi Asisten Deputi Pemasaran I Regional II Adella Raung.

Booth paviliun Wonderful Indonesia pun diset dengan desain elegan. Sangat eye catching. Dari mulai tema batik, vintage modern dengan nuansa Indonesia, semua ada. Kesan yang terasa, Wonderful Indonesia sangat ingin menampilkan yang terbaik.

“Kami harus all out. Wonderful Indonesia harus bisa menguasai MATTA Fair,” timpal Adella.

Ucapan wanita asal Manado itu memang masuk akal. Maklum, di hari pertama saja, Jumat (15/3), MATTA Fair langsung diserbu 40.000 pengunjung. Putra World Trade Centre langsung terasa padat. Terasa sesak. Padahal, luasnya lebih dari 240 000 meter persegi. Dari etnis Melayu, Cina, Tamil, semua menyerbu PWTC.

"Ini baru hari pertama. Belum akhir pekan. Masyarakat Malaysia memang haus liburan. Sekarang ini mereka sedang mempersiapkan liburan tengah tahun. Ini peluang besar untuk memasarkan destinasi wisata Indonesia,” ungkap Adella.

Bagi Adella, industri pariwisata Malaysia memang terus hidup, eksis, dan berkembang pesat. Gambarannya terlihat di MATA Fair 2019. Ribuan stand dari dalam dan luar Malaysia ikut serta dalam menjaring wisatawan di pasar turisme paling akbar di Negeri Jiran itu. Dan Indonesia tentu tak mau ketinggalan. Di bawah brand Wonderful Indonesia, 22 industri pariwisata yang terdiri dari Hotel, DMO dan atraksi ikut diboyong ke Malaysia. Agen-agen lokal Malaysia juga ikut dilibatkan. Mereka diberi misi menjual paket wisata ke Indonesia.

“Booth Wonderful Indonesia jadi yang terbesar untuk kategori NTOs,” tambah Adella.

Hasilnya? Booth Wonderful Indonesia yang terpampang memanjang di Hall 3, nomor 1 – 23 dan 7 – 22 tak pernah sepi. Boothnya paling ramai dibanding peserta pameran lain. Beragam promosi wisata ada di sana. Banyuwangi, Danau Toba, Bali, Jogjakarta, Dieng, semua ada. Dari Business to Community (B to C), pelayanan informasi pariwisata, cultural performance, coffee corner, photo seasons, gift redemption, hingga games, semua ada.  Semua tersedia. 

“Malaysia adalah pasar potensial, pasar utama. Terbesar di 2018. Malaysia punya kedekatan geografis dan budayanya. Ada direct flights, dan kelak bisa ditambah lagi. Pasar high end juga digarap, pasar medium juga disentuh, dan pasar bawah juga dicari, karena akan mendrive ekonomi masyarakat,” tutur dia. (*)

Bagikan artikel ini: