Menpar Arief Yahya Menjawab Orang Lama di Era Baru (1)

Jum'at, 22 Maret 2019 | 14:07 WIB ET

Masa Depan Itu Sudah Dicicil di Zaman Now  

JAKARTA - Revolusi Industri 4.0 memang membuat banyak orang gagap, terutama yang “gagal paham” teknologi digital. Era Creative atau Cultural Industry adalah sebuah keniscayaan, tidak bisa dihindarkan, cepat atau lambat, di hampir semua lini. Termasuk di sektor pariwisata yang semakin bersinar menuju core ekonomy bangsa Indonesia ke depan. 

“Saat ini travelers, apalagi millennials 70% sudah search and share dengan digital. Mereka look, book, pay sudah dalam satu gadget, satu aplikasi, dengan cepat, murah dan mudah. Digital mengubah semua services yang mahal, rumit, lambat, berbalik 180 derajad,” kata Menpar Arief Yahya. 

Bagaimana dengan “Orang Lama”, generasi 50 tahun ke atas, yang masih eksis dengan prinsip lama yang konvensional. “Ya itu ada! Bentul-betul ada, jumlahnya banyak 30%, kalau millennials 70% yang digital, mobile, interactive. Ketika customers berubah, maka kita sebagai penyedia jasa atau produk destinasinya, juga harus berubah, sesuai selera anak muda yang millennials juga,” jelas pria asal Banyuwangi ini. 

Menpar Arief Yahya memang sudah menulis #CEOMessage hingga 62 tulisan selama memimpin Kemenpar. Setiap pengambilan keputusan baru, selalu dijelaskan secara detail, tertulis, dan dibacakan di depan Rapat Pimpinan, Eselon 1-2 di lantai 16 Gedung Sapta Pesona. 

Belakang malah selalu di-live, dan dijadikan bahan kultwit. Respons-nya bagus, karena satu satu CEO Message ke CEO Message berikutnya kait mengait, sambung menyambung. Sehingga seperti kumpulan film documenter, tentang alur berpikir, membuat keputusan, implementasi dan monitoring. “Go Digital itu sudah dilaunching dalam Rakornas di Ancol, Jakarta,” ungkap Menpar Arief Yahya yang 30 tahun hidupnya bergulat dengan teknologi digital. 

Kebetulan, DNA-nya Menpar Arief Yahya adalah orang digital. Mantan Dirut PT Telkom ini kuliah S-1 di Teknik Elektro ITB Bandung, lalu melanjutkan S-2 ke Surrey University, UK. Di Inggris, dia sekolah di kampus yang terkenal dengan Telematikanya. Lalu ketika kembali ke Indonesia, sekaligus menyelesaikan Program Doktoral di Unpad Bandung. 

Buat Arief Yahya, era digital dengan creative industry itu “makanan”nya setiap hari selama di Telkom. Dia sudah memikirkan saat itu, bahwa model bisnis di sector telekomunikasi bakal berubah. Dan ternyata jauh lebih cepat dari yang diperkirakan. Telkom pun harus memperkuat produk layanan network, tidak lagi bergantung pada voice apalagi telepon kabel.  

Lagi-lagi, apakah orang siap dengan distrubtion, perubahan cepat, sampai ke model bisnis, karena teknologi digital? Semakin murah, semakin mudah, semakin terjangkau. “Saya sering menyebut Revolusi 3T, Telecommunication, Transportation, dan Tourism. Suka tidak suka, mau tidak mau, 3T mengalami revolusi besar-besaran, karena hadirnya teknologi digital terbaru,” ungkap Arief Yahya.  

Di Telekomunikasi, dulu Telkom berjualan voice, telepon kabel, telepon rumah. Lalu Telkomsel jualan pulsa, untuk voice, SMS, dan komunikasi data. Sekarang, ada WhatsApp sudah memiliki layanan gratis WA, voice call, video call, pengiriman data dan semua free. 

Transportasi juga mengalami perubahan model bisnis yang makin cepat, dengan prinsip yang sama yakni: sharing economy. Muncullah layanan Grab dan Gojek, dan di banyak negara ada Uber. Superweb yang membuat semuanya menjadi terjangkau, murah, mudah, dan cepat. 

Tourism juga terjadi. Hadirnya OTA – Online Travel Agent dan makin kuat, jauh meninggalkan bisnis travel agent konvensional. Traveloka misalnya, jauh melesat, dan menjadi unicorn digital company Indonesia. 

Inilah implementasi dari kata-kata yang dulu sering diucapkan Menpar Arief Yahya. The more digital, the more personal. The more digital, the more global. The more digital, the more professional. Bagaimana dengan implementasinya? 

“Kami antisipasi dengan menyiapkan platform digital untuk market place yang sudah dua kali kita luncurkan, dengan nama New ITX-Indonesia Tourism Exchange. Etalase produk Pariwisata melalui digital ini dibangun agar UMKM, yang kecil, mikro, menengah tetap eksis dengan berjualan paket melalui digital marketplace,” ungkap Arief Yahya. 

Menpar Arief Yahya sudah banyak menjelaskan detail revolusi industry digital yang serba cepat itu. CEO Message adalah cara Arief Yahya agar di saat terjadi perubahan cepat itu, “Orang Lama” masih paham dan dibimbing, untuk memasuki era baru yang serba digital. Sampai dengan Rakornas terakhir, triwulan I 2019, temanya pun masih “Transforming Tourism Human Resources, Winning The Global Competition in 4.0 Era.” 

Presiden Jokowi sudah menggariskan di banyak momentum, tahun 2019 adalah tahun pembangunan SDM, Sumber Daya Manusia. Lalu bagaimana implementasinya di Kemenpar? “Kita menyiapkan SDM Pariwisata yang bakal menghadapi era Digital Tourism 4.0. Proses ini sebenarnya sudah dilakukan sejak 4 tahun silam, saya sebut evolusi dipercepat. Dari tradisi analog konvensional menuju era digital di semua lini,” ungkapnya. 

Tetapi, harus diakui juga bahwa hingga hari ini pun, belum 100% insan Pariwisata Indonesia ramah digital. Masih ada 30% yang belum bisa move on. Itu sudah disadari Menpar Arief sejak dulu, karena itu di banyak CEO Message, dia jelaskan secara detail agar semakin mudah memahami program Kementerian yang dinamis dan cepat. 

Bacalah CEO Message, agar mengerti secara holistic. Dari situasi strategis, data dan fakta lapangan, trend ke depan, konsep, ide, benchmark dari negara lain yang sudah sukses mengimplementasikan, gunakan teori, agar tetap rasional, tegakkan akal sehat dan punya pijakan, alias tidak ngawur. 

“Karena itu silakan, pahami dan pelajari melalui CEO Message. Di era millennials ini, revolusi ke-4 Cultural – Creative Industry, sudah terasa dan makin terlihat di depan mata. Orang menyebut Revolusi Masa Depan, tetapi sudah dicicil dan hadir di Zaman Now. Maka kita harus berlari lebih cepat, melompat lebih tinggi, agar bisa memenangkan persaingan global,” ungkap Menpar Arief Yahya. (*)

Bagikan artikel ini: