Wujudkan RI jadi 10 besar kekuatan ekonomi dunia, ini upaya PLN

Jum'at, 22 Maret 2019 | 21:16 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Penggunaan energi listrik rupanya ikut mempengaruhi perkembangan sebuah negara. Data yang ada menyebut, semakin besar konsumsi listrik sebuah negara, maka semakin maju ekonominya.

Executive Vice President Corporate Communication and CSR PT PLN (Persero) I Made Suprateka dalam keterangan tertulisnya, Jumat (22/3/2019) mengatakan, indikator kemajuan ekonomi suatu negara diukur dari konsumsi energi per kapita. Dengan mengoptimalkan listrik yang tersedia, melalui pemanfaatan untuk produktivitas dan melalui pemerataan listrik ke seluruh wilayah Indonesia, maka ekonomi Indonesia diyakini akan semakin meningkat.

Dipaparkannya, data yang dimiliki PLN tahun 2016 menunjukkan, konsumsi listrik per kapita Indonesia saat itu mencapai 956 kWh per kapita. Sementara, negara-negara maju konsumsi listrik per kapitanya lebih tinggi berkali-kali lipat dari Indonesia. Sebut saja Amerika Serikat yang mencapai 12.820 kWh per kapita, Korea Selatan 10.620, Jepang, 7.970, dan Inggris 5.030 kWh per kapita.

Bahkan dibanding negara tetangga pun konsumsi listrik Indonesia tertinggal cukup jauh. Seperti Singapura yang mencapai 9.040 kWh per kapita, Malaysia 4.660 kWh, Thailand 2.870 dan bahkan Vietnam yang konsumsi listrik per kapitanya nyaris dua kali lipat dari Indonesia di angka 1.620 kWh per kapita.

Meski demikian, tingkat konsumsi listrik Indonesia terus menunjukkan kemajuan yang signifikan setiap tahunnya. Tahun 2016 konsumsi listrik Indonesia mencapai 956 kWh per kapita. Sementara di tahun 2018 lalu konsumsi listrik di Indonesia sudah menembus 1.064 kWh per kapita.

Kemajuan peningkatan konsumsi listrik itu sendiri menjadi cermin kinerja maksimal PLN dalam menerangi Nusantara. Kinerja PLN pun secara tak langsung tercermin dalam data yang dirilis hasil survei Ease of Doing Business yang digelar World Bank.

Menyitir survei tersebut, kemudahan akses mendapatkan listrik di Indonesia atau Getting Electricity Indonesia sekarang jauh semakin mudah dibanding 5 tahun silam. Dalam indikator Getting Electricity, pada 2014 Indonesia berada di urutan 101, sementara di tahun 2019, peringkat Indonesia melesat nyaris 3 kali lipat menjadi urutan 33.

"Peningkatan kemudahan mendapatkan listrik di Indonesia menjadi bukti, kinerja PLN dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, sekaligus meningkatkan daya saing industri di Indonesia untuk menjadi top ten (10) ekonomi dunia," tegas Suprateka.

Lonjakan peringkat itu sendiri, tak lain berkat keberhasilan PLN membangun jaringan pembangkit, transmisi listrik dan gardu induk di seantero Indonesia.

"Sejak tahun 2015 telah dibangun lebih dari 35 ribu Megawatt pembangkit, 14.400 kilometer sirkuit jaringan transmisi serta 56 ribu Mega volt Ampere Gardu Induk di seluruh Indonesia. Dengan demikian terjadi kenaikan supply listrik dari pembangkit-pembangkit yang telah dibangun yang telah memasuki masa operasional (COD). Keberhasilan itu di antaranya yang membuat peringkat Getting Electricity Indonesia saat ini meningkat pesat dibanding 5 tahun silam, dari peringkat 101 ke peringkat 33 dari 190 negara yang disurvei oleh World Bank," jelasnya.

Namun keberhasilan itu tak membuat PLN lekas berpuas diri. Hal itu tercermin dari tekad PLN untuk terus meningkatkan laju penjualan listrik di Indonesia demi mendukung bertumbuhnya perekonomian nasional.

Dipaparkannya, realisasi penjualan listrik PLN pada tahun 2018 mencapai 232 TwH, atau bertumbuh 5,15% dari penjualan di tahun 2017. Sementara pertumbuhan pelanggan sepanjang tahun 2018 mencapai 5,65% dari tahun 2017 yang mencapai 68 juta pelanggan menjadi 71,9 juta pelanggan. Daya tersambung listrik juga mengalami kenaikan menjadi 130.281 Mega volt Amper (MvA) dari tahun sebelumnya 112.018 MvA.

Hasil yang dicapai PLN dalam meningkatkan penjualan listrik memang cukup baik, meskipun masih belum sesuai dengan target awal PLN yang menetapkan target pertumbuhan konsumsi listrik nasional mencapai 7% di 2018.

Perlambatan ekonomi

Adapun salah satu sebab ketidaksesuaian pencapaian target pertumbuhan tersebut, lantaran faktor pertumbuhan ekonomi yang tidak sesuai ekspektasi. Faktor lainnya, yakni banyaknya hari libur nasional yang cukup panjang di 2018. Hari libur nasional ternyata menyumbang pengurangan konsumsi listrik. Pasalnya 30% konsumi listrik diserap sektor industri dan bisnis. Tak pelak, hari libur menyebabkan terhentinya serapan listrik di pabrikan dan perkantoran.

Di tahun 2019 ini  PLN menargetkan penjualan listrik bisa mencapai 245 TeraWatt atau tumbuh sekitar 5,6 persen dibanding tahun lalu. Suprateka memaparkan, untuk mencapai target tersebut pihaknya akan menggenjot serapan konsumsi listrik di segmen rumah tangga dan industri. Di antaranya dengan mendorong penggunaan kendaraan listrik dan kompor induksi.

Selain itu PLN berencana untuk menambah program insentif penambahan daya listrik kepada pelanggan. Rencana ini tak lepas dari kesuksesan pelaksanaan program promosi penambahan daya listrik yang digelar dengan memanfaatkan momentum Hari Kemerdekaan RI tahun lalu.

"Tahun 2018 lalu kami membuat program diskon bagi konsumen yang tertarik melakukan penambahan daya listrik pada 17 Agustus, demikian juga pada peringatan Hari Listrik Nasional. Program tersebut dinilai cukup berhasil mendorong peningkatan konsumsi serapan listrik PLN," jelas Suprateka.

Sektor industri pun tak luput dari sasaran PLN. Di antaranya PLN akan mendorong konsumsi listrik pada fasilitas pertambangan, seperti di fasilitas smelter (fasilitas pemurnian hasil tambang). PLN pun giat mengajak konsumen industri, untuk memanfaatkan energi listrik dari PLN, daripada industri membangun pembangkit sendiri yang umumnya merupakan PLTD yang berbahan bakar fosil.

"PLN akan terus berupaya melahirkan program-program inovasi baru untuk mendorong laju konsumsi listrik nasional, yang pada gilirannya akan berdampak pada peningkatan perekonomian nasional," tegas I Made Suprateka.

Upaya Produktif Dorong Konsumsi Listrik

Pakar Bidang Kelistrikan sekaligus anggota Dewan Energi Nasional, Tumiran menyebutkan, konsumsi listrik rumah tangga memang tengah mengalami tren penurunan. Sebabnya tak lain berkat hadirnya berbagai peralatan rumah tangga yang hemat energi dari mulai lampu LED, pendingin ruangan (AC) berteknologi plasma, kulkas, mesin cuci dan lain sebagainya.

"Sekarang rumah tangga sudah banyak gunakan peralatan yang lebih efisien di bidang energi. Bayangkan, lampu LED cuma 20% konsumsi listriknya dibanding lampu konvensional, begitu pula dengan tv plasma, dan lainnya," ujar Tumiran.

Pun demikian, Tumiran yang juga menjabat Guru Besar Bidang Kelistrikan di Universitas Gadjah Mada itu memberikan saran peningkatan konsumsi listrik dengan upaya yang produktif. Antara lain dengan membuat peta jalan pengembangan industri nasional.

"Negara harus tumbuh maka harus menciptakan lapangan kerja berbasis produktivitas demi meningkatkan konsumsi listrik. Caranya dengan membuat road map pengembangan industri," tutur Tumiran.

Tumiran pun mencontohkan salah satu visi Presiden Joko Widodo untuk memperkuat sektor kemaritiman Indonesia. Dengan visi tersebut, maka Indonesia bisa mendorong perkembangan industri perkapalan di dalam negeri, dan kemudian membuat industri permesinan untuk menggerakkan kapal. Turunan selanjutnya adalah membuat industri material untuk menunjang industri perkapalan dan pembuatan mesin kapal.

"Dengan hadirnya industri material jadi smelter bisa digerakkan untuk proses pembuatan baja untuk pembuatan mesin kapal. Kalau industri maritim tumbuh, yang lain akan tumbuh, mendorong ekonomi bertumbuh dengan berbasis kepulauan, lalu dengan mengekspor hasil laut income per kapita dalam negeri akan naik, kalau income naik maka konsumsi listrik akan naik. Tanpa menaikkan ekonomi, maka permintaan konsumsi listrik dalam negeri akan sulit untuk tumbuh," jelasnya.

Karena itu Made Suprateka juga menegaskan, seiring dengan meningkatnya kebutuhan berbagai industri yang membutuhkan pasokan listrik, apabila didukung oleh meningkatnya pertumbuhan ekonomi nasional, maka sejalan dengan tekad pemerintah meningkatkan efisiensi di berbagai sektor, dan juga pasokan listrik yang semakin optimal, penurunan harga jual listrik juga mulai diimplementasikan secara perlahan.

Pada Februari 2019, Perusahaan Listrik Negara (PLN) memberikan insentif berupa diskon kepada pelanggan R-I VA RTM (Rumah Tangga Mampu) mulai 1 Maret 2019, bagi 21 juta pelanggannya. Insentif ini diberikan karena adanya efisiensi pada golongan ini, selain terjadinya penurunan harga minyak dan kurs dolar. Dengan insentif ini, pelanggan golongan R-I 900 VA RTM hanya membayar listrik Rp1.300 per kilowatt hour (kWh) dari tarif normal Rp1.352 per kWh. kbc10

Bagikan artikel ini: