Volume transaksi e-commerce di Tanah Air tembus Rp322,3 triliun dalam tiga tahun

Selasa, 26 Maret 2019 | 18:16 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Indonesia dianggap menjadi salah satu negara paling potensial untuk mengembangkan ekonomi digital. Dengan jumlah penduduk 260 juta jiwa dan pengguna internet yang aktif terus meningkat, Indonesia disebut-sebut akan menjadi negara ketujuh dalam pertumbuhan ekonomi digital di tahun 2030 mendatang.

Deputi Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK)  Institute & Keuangan Digital Sukarela Batunaggar mengatakan saat ini tingkat pertumbuhan ekonomi digital Indonesia berada di urutan ke-16. Adapun tren volume transaksi masyarakat Indonesia melalui e-commerce terus menunjukkan peningkatan. Hal itu ditunjukkan dari data volume transaksi dalam tiga tahun terakhir. Dimana pada tahun 2016 mencapai Rp 69,8 triliun. Kemudian di tahun 2017 meningkat menjadi Rp 108,4 triliun dan di tahun 2018 menjadi Rp 144,1 triliun.

Sukarela menambahkan potensi volume transaksi tersebut akan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah pengguna internet aktif. Tahun 2016 pengguna internet aktif sebanyak 88,1 juta user, 2017 menjadi 132,7 juta user dan di tahun 2018 menjadi 150 juta user atau rata-rata mengalami peningkatan sebanyak 13,03%.

Di saat yang sama juga terjadi peningkatan pengguna sosial media yang tergolong aktif yaitu di tahun 2016 sebanyak 79 juta user. Kemudian di tahun 2017 menjadi 88 juta user dan tahun 2018 lalu meningkat menjadi 130 juta user. Rata-rata pengguna sosial media meningkat 65,90%.

"Kita sadari Indonesia potensinya sangat besar terkait digital finance, tapi ada beberapa permasalahan seperti masalah inklusi keuangan, dan literasi keuangan yang masih rendah," kata Sukarela dalam seminar dengan tema Strategi Mendorong Inklusi Keuangan di Indonesia di Jakarta Selasa (26/3/2019).

Lebih lanjut, Sukarela menambahkan persoalan literasi keuangan dan inklusi keuangan yang rendah memang menjadi permasalahan pokok dalam upaya mengembangkan ekonomi digital. Dia menyebutkan inklusi keuangan di Indonesia pada tahun 2017 lalu baru mencapai 48,90 % dari total penduduk. Diharapkan di tahun 2019 ini inklusi keuangan akan menyentuh level 75%.

Sementara itu, lanjut Sukarela, literasi keuangan baru mencapai literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 29,7 persen. Dilihat berdasarkan provinsi, ada 13 provinsi yang memiliki literasi keuangan di atas rata-rata nasional. DI Yogyakarta menjadi tertinggi kedua dari rata-rata nasional karena mencapai 76,7% dan Jawa Tengah sebesar 66,2%.

"Literasi keuangan juga masih rendah, makanya pentingnya edukasi dan literasi itu, upaya kita untuk meningkatkan inklusi keuangan adalah dengan fintech, ini adalah jawabannya," pungkas Sukarela.kbc11

Bagikan artikel ini: