Anggap Indonesia potensial, investor wait and see hasil Pemilu

Kamis, 11 April 2019 | 08:55 WIB ET

PEMILIHAN umum (Pemilu) di Indonesia tinggal menghitung hari. Hampir seluruh aspek di negeri ini menantikan hajatan besar politik itu, termasuk dunia investasi. 

Investor diprediksi sedang mencermati penyelenggaraan pemilu Indonesia. Menurut Bank Commonwealth dari sisi data historis menunjukkan dalam tiga penyelenggaraan Pemilu terakhir, enam bulan setelah Pemilu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan return positif. 

Pemilu yang umumnya disertai dengan pertumbuhan ekonomi umumnya akan memberikan sentimen positif bagi pasar saham. Oleh karena itu Bank Commonwealth masih merekomendasikan reksa dana saham sebagai pilihan investasi jangka panjang.

Banyak faktor yang membuat pemilu memberikan efek tersendiri. Sejak Maret 2019, Investor global kembali melihat emerging market sebagai tujuan investasi, seiring dengan data indikator ekonomi yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, terutama dari melambatnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Tiongkok. 

Perlambatan pertumbuhan ekonomi negara maju tersebut disebabkan oleh keyakinan pelaku usaha yang melemah, ekspor yang menurun, masalah Brexit yang masih belum selesai di Eropa, dan belum meredanya ketegangan hubungan dagang antara AS dan Tiongkok.

Selain itu, perundingan perang dagang kembali menjadi sentimen yang menggerakkan pasar keuangan selama Maret 2019. Setelah sebelumnya diharapkan akan dapat diselesaikan di bulan Maret 2019.

Sementara dari Eropa, pemerintah Inggris masih belum mendapatkan kesepakatan dengan parlemen Inggris mengenai kelanjutan Brexit. Di bulan Maret lalu, The Federal Reserve (The Fed) melakukan pertemuan yang membahas mengenai penetapan suku bunga acuan AS. 

Sesuai dengan ekspektasi pasar, Federal Reserve (The Fed) Bank Central Amerika Serikat (AS), kembali menahan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR). Selain itu, The Fed memberikan sinyal tidak akan menaikkan suku bunga tahun ini. 

Hal ini menunjukkan bahwa The Fed menyadari adanya perlambatan perekonomian dunia, dan The Fed juga mengkoreksi prediksi pertumbuhan ekonomi AS tahun 2019 dari 2,3% ke 2,1%.

Wait and see

Di April 2019, investor asing akan mencermati pemilu di Indonesia. Ada beberapa kemungkinan investor asing akan coba mengambil langkah awal terlebih dahulu atau mungkin juga masih wait and see hingga hasil pemilu keluar.

Berdasarkan data historis di tiga pemilu sebelumnya, pasar saham Indonesia menghasilkan return yang positif dalam jangka waktu 6 bulan setelah pelaksanaan Pemilu. 

Enam bulan setelah Pemilu 2004, IHSG naik sebesar 41%, sementara di 2009 enam bulan setelahnya naik sebesar 25%, dan di 2014 IHSG mencatatkan return sebesar 4%.

"Dalam menentukan apakah pasar saham suatu negara akan positif atau tidak, data historis memang dapat dijadikan acuan, namun ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan seperti hasil laporan keuangan emiten, fundamental ekonomi, serta iklim investasi suatu negara," kata Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya dalam keterangan tertulisnya.

Sementara pasar saham Indonesia tercatat mengalami kenaikan di Maret 2019 sebesar 0,39% setelah sebelumnya terkoreksi pada bulan Februari 2019. Di April, menjelang Pemilu, investor asing kembali melirik Indonesia. 

Bank Commonwealth pun masih merekomendasikan reksa dana saham sebagai pilihan investasi utama karena potensi imbal hasilnya yang lebih menarik dibandingkan reksa dana 

lainnya.

Ivan melanjutkan, laporan keuangan emiten Indonesia sepanjang 2018 juga masih tercatat positif. Kemudian, secara fundamental, ekonomi Indonesia juga masih masuk kategori baik, ditambah dengan komitmen Bank Indonesia untuk menjaga iklim ekonomi yang kondusif adalah bahan bakar untuk pertumbuhan ekonomi 2019 yang diprediksi ada di kisaran 5,0%-5,4%. 

"Dengan melihat pertumbuhan ekonomi yang umumnya bergerak positif ke pertumbuhan pasar saham, untuk investasi yang sifatnya jangka menengah-panjang (minimal 1 tahun), kami lebih melihat reksa dana saham sebagai pilihan utama dengan mempertahankan alokasi saham sebesar 70% di dalam portofolio. Karena di tahun 2019 ini, potensi kenaikan saham lebih menarik dibandingkan dengan aset kelas lainnya," tambah Ivan. kbc10

Bagikan artikel ini: