Belum perlu terapkan industri 4.0, cukup pertanian presisi

Senin, 15 April 2019 | 20:38 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pertanian 4.0 bagi agribisnis padi di Tanah Air bagi sementara kalangan diyakini dapat menjamin transparansi aliran produk, sehingga stakeholders dapat saling mengontrol. Namun untuk meningkatkan kesejahteraan petani masih dapat diraih melalui sistem pertanian presisi.

Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengakui revolusi industri 4.0 sudah diterapkan di sektor pertanian. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yan didukung peralatan yang canggih. Data diambil dengan bantuan sensor, microcontroler dan drone kemudian dikirim ke server. Pengiriman data antar titik menggunakan Internet of Things (IoT).

“Pertanian 4.0 memerlukan investasi relatif mahal baik investasi publik maupun swasta. Belum perlu diterapkan pada agribisnis padi,” ujar Winarno dalam peluncuran buku ‘Pertanian Presisi Untuk Menyejahterakan Petani' di Jakarta, Senin (15/4/2019).

Menurut Winarno, Indonesia masih berpeluang menerapkan pertanian presisi dengan teknologi yang sudah ada. Kendati demikian perlu secara bertahap menerapkan Pertanian 4.0 pada agribisnis padi.Menurut Winarno spirit pertanian presisi adalah meningkatkan efisiensi , produktivitas dan ramah lingkungan. Hal ini dapat dicapai jika setiap keputusan dalam proses pertanian merujuk pada informasi yang akurat dengan teknologi yang sudah tersedia.

Menurutnya diperlukan adalah memadukan perangkat dan lembaga yang sudah ada agar pertanian presisi mampu diwujudkan .Misalnya untuk menentukan kapan mulai tanam , petani dapat berpedoman pada Kalendar Tanam .

Untuk mengetahui keadaan cuaca dan iklim , petani dapat mengakses informasi yang disajikan Badan Meterologi ,Klimatologi (BMKG).Bahkan melalui Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan , BMKG sudah melakukan Sekolah Lapangan Iklim.

Kemudian pembajakan tanah dengan traktor .Begitu juga dengan takaran pemberian biokomposer , pupuk organik dan hayati. Jarak tanam dapat mengadosi jajar legowo. Sedangkan manajemen air menggunkan metode macak –macak.

Dalam penggunaan benih untuk spesifik lokasi, petani dapat mengandalkan benih hasil rakitan BB padi, Kementan. Misalnya padi sawah irigasi petani memperoleh pilihan varietasi Inpari. Untuk lahan rawa, tersedia Inpara.

Guna menentukan apakah tanaman padi sudah mencukupi atau belum kebutuhan hara Nitrogen (N) dapat menggunakan alat Bagan Warna Daun (BWD). Bahkan di Jepang lebih sederhana lagi. Datanglah ke sawah pagi hari sebelum matahari terbit.

”Jika ada daun padi yang mengerepyek ke bawah berarti tanaman padi itu kelebihan urea. Jika matahari sudah terbit, daun yang mengerepyek ini normal kembali, sama dengan tanaman padi yang tidak kelebihan urea,” kata dia.

Sementara untuk menentukan takaran pupuk P dan K, misalnya, dapat menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) yang tersedia. Perangkat ini dapat mengukur ketersediaan hara P dan K di tanah dengan metoda kalometeri (pewarnaan).Saat pemanenan padi, petani dapat mengoperasikan combine harvester.

Pengeringan gabah memakai fasilitas mesin pengering baik tipe bak maupun tipe sirkulasi. Selanjutnya, penggilingan padi menggunakan rice milling unit atau rice milling plant. Agar petani memperoleh nilai tambah yang tinggi, dapat mendirikan Badan Usaha Milik Petani (BUMP).

Masalah pendanaan pertanian dapat diatasi dengan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR). Selain pembiayaan melalui KUR, petani dapat juga memanfaatkan fasilitas Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk menekan risiko kebanjiran, kekeringan, atau serangan hama dan penyakit.

Dia mengatakan lebih penting lagi peran penyuluhan pertanian untuk mendidik para petani agar mampu menerapkan pertanian presisi dengan mengombinasikan penggunaan pelbagai teknologi yang sudah tersedia. Penyuluhan pertanian ini bernaung di bawah Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Kementerian Pertanian.

“Jadi, menurut saya, Indonesia sudah sangat memungkinkan menerapkan pertanian presisi pada tanaman padi. Semua perangkat dan lembaganya tersedia, hanya saja belum disinergikan satu sama lain,” bebernya

Ada satu hal lagi yang masih perlu dipertajam, seperti yang dilakukan United States Departement of Agriculture (USDA). Institusi ini mengeluarkan laporan tanaman prospektif yang menginformasikan prospek komoditas setiap awal tahun. Data ini memberikan gambaran seberapa jauh peningkatan harga komoditas ,dalam konteks ini adalah padi pada tahun berjalan.

Berdasarkan prospek harga dan dikombinasi dengan penerapan pertanian presisi, petani dapat menghitung secara simulasi , beberapa keuntugnan yang bakal diperoleh sebelum menanam. Padi apa yang sebaiknya ditanam sesuai kebutuhan pasar sehingga harga jualna relatif tinggi yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus meningkatkan daya saing agribisnis padi di Tanah Air. kbc11

Bagikan artikel ini: