Di Sorong, strategi dorong ekspor pertanian asal Papua Barat disepakati

Selasa, 16 April 2019 | 22:44 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sebanyak 14 instansi pusat dan daerah lakukan deklarasi dorong ekspor komoditas pertanian unggulan asal Propinsi Papua Barat. Hal ini dilakukan setelah diskusi sinegitas antar instansi diselenggarakan Badan Karantina Pertanian (Barantan) di Sorong, Senin (15/4/2019).

"Perlu strategi kolaborasi yang jitu untuk dongkrak ekspor komoditas pertanian unggulan di Papua Barat," kata Ali Jamil dalam keterangan tertulisnya, Selasa (16/4/2019).

Menurut Jamil, data tahun 2018 dari sistem otomasi IQFAST dari Barantan mencatat beberapa komoditas unggulan dari Kabupaten Sorong yang bisa saja menjadi komoditas ekspor dari wilayah lain. Diantaranya biji pala, oil palm kernel, bunga pala, minyak sawit mentah, kopra, durian, alpukat, pisang, sarang semut dan buah merah. 

Kebanyakan komoditas tersebut dilalulintaskan ke Jakarta dan Surabaya, namun tercatat diekspor lewat daerah lain. "Inilah yang harus kita selesaikan bersama, pemerintah pusat dan daerah harus bersama bahu membahu," terang Jamil.

Di sela acara tersebut, Jamil juga menyerahkan Sertifikat Kesehatan Tumbuhan Antar Area (KT12) kepada pelaku usaha. Gunawan. Dari dialog dengan para pelaku usaha didapat informasi akan tingginya permintaan terhadap komoditas khas Papua Barat. 

Salah satunya, sari buah merah yang tidak saja dari domestik tapi juga pasar global seperti Korea Selatan, Amerika Serikat. Menurut Gunawan, ia  mengirimkan minyak buah merah sebanyak 1 ton tujuan Jakarta dan sebagai komoditas wajib periksa Karantina, ia melaporkannya ke petugas Karantina Pertanian di Wilker Bandar Udara Sorong.

Pengusaha asal Sorong Timur ini juga  mengungkapkan bahwa peluang buah merah untuk diekspor sangat terbuka. Buktinya, saat ini ia sedang menjajaki pasar di Korea Selatan dengan volume sekitar 20.000 liter.

Menurutnya harga buah merah yang sudah diekstrak menjadi minyak sebesar Rp. 400.000 per liter, sedangkan untuk pasar ekspor berkisar US$ 100 per liter atau senilai Rp. 1.400.000. "Sumber yang kaya dan cukup menjanjikan, terlebih juga dapat diekspor langsung dari Sorong," katanya.

Jamil berjanji akan mendukung usaha pak Gunawan dan petani lain agar potensi buah merah tersebut dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat secara optimal. 

Kepala Karantina Pertanian Sorong Wayan Kertanegara tercatat dari data otomasi, IQFAST  diwilayah kerjanya selama Januari hingga April 2019 lalulintas buah merah dari Sorong sebanyak 3,2 ton dalam bentuk buah dan 13 liter dalam bentuk ekstrak. Wayan akan segera lakukan koordinasi dengan instansi terkait agar komoditas tersebut dapat langsung diekspor dari Sorong.

Menurutnya tidak kurang dari 14 instansi yang telah lakukan deklarasi untuk dongkrak ekspor asal Papua Barat. Masing-masing adalah Pemkab Sorong, Pemkot Sorong, Kadistan Pemprov Papua Barat, Kadistan Kaimana, Bank Indonesia, BPS  Prov Papua Barat, Polbangtan Manokwari, BPPT Manokwari, Bea Cukai Manokwari, KSOP Sorong, BC Sorong, Ka Bandara DEO, Pelaku Usaha Agribisnis Kadistan Tambrauw termasuk Karantina Sorong  serta Manokwari.

Bupati Sorong Johny Kamuru yang hadir dalam acara tersebut mengapresiasi upaya Kementan lewat Barantan dan akan ditindaklanjuti dengan melakukan koordinasi internal dan eksternal. Terlebih Sorong sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) maka dukungan pemerintah pusat tentu akan dapat digunakan mempercepat terwujudnya eksportasi komoditas pertanian asal Papua Barat langsung dari Sorong.

Untuk mendukung upaya pemerintah Kabupaten Sorong dalam upaya tersebut, Ali Jamil juga memberikan aplikasi I-MACE (Indonesian Map of Agricultural Commodities Exports) kepada Johny Kamuru. Tujuan aplikasi tersebut adalah memudahkan pemerintaj daerah dalam memantau potensi pertanian yang ada di daerahnya agar dapat dikembangkan lebih baik.

"Ini semua berisi data potensi pertanian, update secara real time termasuk keterangan asal daerah dan tujuan negara ekspornya," pungkas Jamil.kbc11

Bagikan artikel ini: