Demi tiket murah, Menhub kaji revisi tarif batas atas

Selasa, 23 April 2019 | 06:55 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi akan kembali memanggil operator perusahaan penerbangan untuk membahas masalah tingginya tarif tiket pesawat dalam waktu dekat.

Budi Karya mengatakan, pertemuan tersebut memungkinkan regulator membahas kembali tarif batas atas yang saat ini disinyalir membebani masyarakat. Adapun pertemuan dengan maskapai soal tiket pesawat akan dilangsungkan pekan ini.

"Kami akan mengkaji apakah mungkin (tarif batas atas diturunkan)," ujar Budi Karya di kantor pusat Bluebird di Mampang, Jakarta Selatan, Senin (22/4/2019).

Budi Karya menyatakan tarif batas atas mungkin bakal diatur kembali oleh Kementerian Perhubungan lantaran perusahaan maskapai setengah menurunkan harga tiket. Sejak Kementerian merilis beleid anyar tentang pengaturan skema tarif, operator disebut tidak juga menyesuaikan harga tiket pesawat.

Adapun dua grup besar, yakni Garuda Indonesia dan Lion Group, sempat memberlakukan penurunan tarif, namun dengan skema diskon. Sedangkan kursi yang disediakan untuk tarif diskon tersebut terbatas.

Saat ini, harga tiket pesawat telah kembali melambung. Budi Karya menyatakan lonjakannya mencapai 150 persen. Beberapa rute bahkan kenaikan tarifnya mencapai 200 persen, baik untuk masa sepi pengunjung atau low season maupun masa ramai atau high season.

Budi Karya mengatakan Kementeriannya kemungkinan akan memberlakukan tarif batas atas yang berbeda untuk masa low season. Di masa sepi pengunjung, tarif batas atas yang berlaku tidak akan sama dengan saat high season. "Itu instrumen pertama yang disiapkan," ujarnya.

Sementara itu, pada instrumen kedua, Budi Karya memungkinkan diberlakukannya tarif subprices. Semisal, Kementerian akan memberikan slot 20 persen kursi untuk tarif 100 persen dari batas atas, 20 persen kursi untuk tarif 80 persen dari tarif batas atas, dan seterusnya.

Namun, Budi Karya memastikan dua instrumen yang ditawarkan tidak akan mengganggu keberlangsungan bisnis maskapai. "Saya memiliki preferensi, tidak intervensi yang terjadi terhadap tarif-tarif yang murah," ujarnya. kbc10

Bagikan artikel ini: