Festival Parade Pesona Kebangsaan 2019 dijamin bakal seru

Rabu, 24 April 2019 | 06:07 WIB ET
Menpar Arief Yahya
Menpar Arief Yahya

ENDE - Festival Parade Pesona Kebangsaan (FPPK) siap digelar 29 Mei hingga 1 Juni 2019. Dihelat di Kabupaten Ende, Flores, FPPK 2019 ini untuk memperingati lahirnya Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni di Kota “Bung Karno” ini.

Festival yang digagas bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata ini merupakan wujud nyata semangat kebangsaan. Bakal diisi dengan berbagai acara menarik.

"FPPK bertujuan untuk Membangkitkan kembali semangat nasionalisme dalam mempertahankan nilai-nilai kebangsaan. Sekaligus mengenang kota Ende sebagai kota sejarah lahirnya nilai-nilai Pancasila," ujar Kepala Dinas Pariwista Kabupaten Ende Derson Duka, Selasa (23/4).

Tidak hanya itu, lanjut Derson, FPPK juga untuk mempromosikan tempat-tempat wisata, seni dan budaya Kabupaten Ende kepada wisatawan dalam dan luar negeri guna meningkatkan kunjungan.

Selain itu, FPPK juga mempromosikan produk unggulan daerah kepada buyer dan investor dalam dan luar negeri. Sehingga dapat mendorong minat investor merealisasikan investasi di Kabupaten Ende.

"Kita ingin mewariskan dan mempertahankan nilai sosial budaya, adat istiadat yang telah hidup dan berkembang di wilayah Nusantara tanah air Indonesia. Sekaligus meningkatkan destinasi Kabupaten Ende sebagai destinasi yang memiliki jejak sejarah Bung Karno dan memperkuat Citra Kota Ende sebagai kota lahirnya Pancasila," tutur Derson.

Sementara, kegiatan yang bakal ditampilkan dalam Festival tersebut antara lain Fashion Show Kain Tenun Ikat Ende. Fashion show ini berlangsung sepanjang jalan Soekarno dengan menampilkan desain kontemporer. Acaranya dilaksanakan pada tanggal  29 Mei 2019  Pukul 17.00 WITA dengan start di Jl Soekarno depan kantor Dinas Pariwisata Ende dan Finish di Museum Tenun Ikat. 

Setelah itu ada pagelaran budaya 30-31Mei  2019 di Lapangan Pancasila Ende. Kegiatan ini akan menampilkan tarian tradisional, tarian kreasi baru, lagu-lagu daerah yang diiringi dengan alat musik tradisional.

"Peserta pagelaran seni budaya adalah kelompok sanggar masyarakat dari 21 Kecamatan se-Kabupaten Ende, sekolah-sekolah dalam wilayah Kota Ende, serta paguyuban-paguyuban Nusantara yang ada di Ende," sebut Derson.

Yang tak kalah menarik, akan ada Ende Culture Expo. Kegiatan ini Menampilkan Kerajinan Tangan (Souvenir) berupa tenun ikat, busana, dompet, tas, kipas, topi, dasi, asbak rokok, tempat tissue, alas gelas, hiasan dinding, dan lain-lain, yang dibuat dari bahan lokal setempat dengan harga terjangkau. 

"Selain itu menampilkan makanan khas daerah (Kuliner) yang diadakan oleh kelompok-kelompok pelaku kuliner setempat. Ende Culture Expo akan dilaksanakan pada 30-31 Mei 2019 di Lapangan Pancasila," lanjut Derson.

Untuk para pecinta kopi dapat mengikuti Festival Kopi yang juga digelar di tempat dan waktu yang sama. Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak para Petani Kopi, Para Peracik, dan para penikmat kopi untuk mengangkat dan memperkenalkan kopi ke masyarakat luas. 

"Nanti ada pakar kopi yang menyampaian materi tentang kopi dan filosofinya, cara meracik dan memperkenalkan berbagai jenis kopi yang ada dengan berbagai rasa yang berbeda," kata dia.

Dan yang paling ditunggu-tunggu adalah keseruan Parade Laut. Parade ini akan bertolak dari Pulau Ende menuju Pelabuhan Ende. Parade ini akan didahului dengan upacara deba, zikir yang diselenggarakan pada malam hari di Pulau Ende oleh tokoh masyarakat, tokoh agama dan masyarakat di pulau Ende. 

Rombongan Parade laut start dari pulau Ende tanggal 31 Mei 2019 pada pukul 09 pagi dan tiba di Ende pada pukul 12.00 siang. Peserta diperkirakan sebanyak 100 unit perahu dan dipimpin oleh kapal KRI Angkatan Laut.

Ketua Calendar of Event (CoE) Kemenpar, Esthy Reko Astuti mengatakan, FPPK telah menjadi icon wisata sejarah budaya bagi kota Ende. Sekaligus melengkapi daya tarik alam yang telah melegenda di Kabupaten Ende seperti Danau Kelumutu, desa-desa adat serta alam tropis Flores.

“Daya tarik ini hendaknya disadari penuh dan dikemas secara profesional dengan standar global,” kata Esthy.

Pemerintah, sebut Esthy, sebelumnya telah menetapkan Badan Otorita Terpadu Labuan Bajo dan Flores, sebagai satu dari sepuluh destinasi prioritas. Strategi dan arah kebijakan telah digariskan dan kini giliran masyarakat dan para pemangku kepentingan yang perlu terlibat dan berperan.

“Kita harus menjadikan pariwisata sebagai penggerak ekonomi, menghidupkan kreativitas budaya sekaligus mempererat soliditas sosial,” ujar Esthy.

Menteri Pariwisata Arief Yahya berharap, FPPK dapat diselengarakan secara berkelanjutan serta dikelola dengan lebih kreatif. Dan tentunya melibatkan partisipasi warga yang akhirnya dapat menjadi perayaan tahunan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat Ende.

Pemerintah akan terus mendukung, terutama melalui tiga langkah prioritas. Yakni digitalisasi pemasaran, pembangunan homestay desa wisata dan aksesibilitas bandara, yang juga hendaknya menjadi panduan bagi pemda, swasta dan masyarakat.

“Sesuatu yang tidak terlalu sulit bagi Ende karena modal sosial dan infrastruktur telah terbentuk,” kata Menpar Arief Yahya.

Bagikan artikel ini: