Tergilas digitalisasi, ribuan kantor cabang bank tutup

Rabu, 24 April 2019 | 06:15 WIB ET

ERA digitalisasi mengubah segalanya. Orang yang biasanya berbelanja harus datang ke toko, kini bisa membeli via online. Orang yang biasanya makan harus pergi ke restoran atau warung, kini tinggal pesan di aplikasi dan makanan sudah datang.

Begitu juga dengan sektor perbankan. Segala transaksi keuangan yang dulunya harus dilakukan di kantor bank, dan rela antri lma, kini bisa dilakukan dengan mudah dan cepat melalui smartphone.

Ya, semakin berkembangnya teknologi industri, tantangan industri perbankan semakin berat. Dampaknya pun sudah mulai terasa bagi perbankan.

Deputi Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Institute, Sukarela Batunanggar mengatakan, dengan semakin berkembangnya teknologi, gaya hidup masyarakat berubah termasuk dalam hal akses dunia keuangan.

Masyarakat mulai menginginkan kemudahan dalam bertransaksi. Terbukti dari pola transaksi yang belakangan ini lebih banyak melalui teknologi. 

"Selera konsumen berubah yang tadinya orang ke cabang, face to face, sekarang transaksi banyak digital," ujar Sukarela dalam acara Decision Maker di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (23/4/2019).

Menurut Sukarela, layanan tatap muka perbankan mulai ditinggalnya sejak 3 tahun terakhir. Imbasnya jumlah cabang perbankan berkurang drastis.

"Dalam 3 tahun terakhir ada 1.000-an kantor cabang bank tutup. Jumlah kantor cabang bank ada penurunan 3%," terang Sukarela.

Dia pun menganggap wajar perusahaan perbankan yang banyak memangkas jumlah tenaga kerjanya lantaran telah memanfaatkan layanan digital. "Jadi mau tidak mau ya seiring dengan perkembangan digital banking dan fintech, perbankan harus lakukan efisiensi karena nasabah yang datang ke kantor cabang itu makin sedikit," ungkap dia.

Menurut catatannya, 90 persen lebih transaksi perbankan sudah dilakukan secara digital. Sementara nasabah yang menabung lewat customer service pun kini tinggal 3 persen saja, sehingga dia menganggap normal banyak bank yang melakukan down sizing.

"Dari situ maka ada pengurangan tenaga kerja jadi efisien. Ini tidak perlu dikhawatirkan sebenarnya, karena lapangan kerja itu luas di sektor keuangan," imbuh dia.

Di sisi lain, Sukarela pun menilai, efisiensi tenaga kerja dengan memanfaatkan layanan digital sebenarnya memang upaya yang lebih baik bagi pihak perbankan. "Jadi ya dengan hadirnya digital banking ini ya memang harus mengubah diri. Harus lebih efisien dan memahami kebutuhan konsumen serta menjangkau segmen yg belum pasar yang belum dilayani," urainya.

"Lalu dia bersaing dengan fintech company, jadi itu sebenarnya kultur baru, sehat, dinamis, dan kuat berkelanjutan untuk perbankan," imbuhnya.

Direktur Keuangan BNI Anggoro Eko Cahyo mengakui hadirnya fintech cukup menjadi tantangan bagi perbankan agar bisa juga menghadirkan pelayanan yang diinginkan nasabah.

"Sebenarnya di sisi lain bank juga melakukan simplifikasi bisnisnya. Misalnya proses pembukaan rekening. Kalau fintech bisa maka bank ditantang melakukan itu juga," tambahnya.

Tanda-tanda perbankan mulai mengikuti jejak fintech juga terlihat dari investasi yang dilakukan perbankan. Mereka kini juga mulai marak mengembangkan teknologi pembayaran berbasis QR code.

"Rasanya bank mau tidak mau ikuti tren itu," tutur Anggoro. kbc10

Bagikan artikel ini: