Astra International raup laba bersih Rp5,21 triliun di kuartal I

Kamis, 25 April 2019 | 05:53 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Astra International Tbk (ASII) membukukan laba bersih sebesar Rp 5,21 triliun hingga kuartal I 2019. Angka ini naik tipis dibanding periode yang sama tahun 2018, dimana perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 4,98 triliun.

Laba tersebut ditopang dari pendapatan tumbuh tujuh persen dari Rp 55,82 triliun hingga kuartal I 2018 menjadi Rp 59,60 triliun hingga kuartal I 2019.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (24/4/2019), perseroan mencatatkan laba bruto naik menjadi Rp 12,61 triliun hingga kuartal I 2019. Laba bruto itu tumbuh 11,11 persen dari Rp 11,35 triliun hingga kuartal I 2018 menjadi Rp 12,61 triliun.

Beban penjualan perseroan tercatat Rp 2,26 triliun hingga kuartal I 2019 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 2,24 triliun.

Beban umum dan administrasi naik menjadiR p 3,43 triliun hingga kuartal I 2019. Sementara itu, biaya keuangan melonjak menjadi Rp 1,05 triliun dan selisih kurs Rp 135 miliar hingga kuartal I 2019 dari periode sama sebelumnya untung Rp 47 miliar.

Dengan melihat kondisi itu, laba per saham naik menjadi Rp 129 hingga kuartal I 2019 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 123.

Total liabilitas naik menjadi Rp 176,56 triliun pada 31 Maret 2019 dari posisi 31 Desember 2018 sebesar Rp 170,34 triliun. Ekuitas PT Astra International Tbk naik menjadi Rp 180,55 triliun pada 31 Maret 2019. Perseroan kantongi kas Rp 30,07 triliun pada 31 Maret 2019.

Terkait laba bersih meningkat pada kuartal I 2019 dibandingkan periode sama tahun lalu, Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Prijono Sugiarto.menuturkan terutama karena adanya peningkatan kontribusi dari bisnis jasa keuangan dan alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi Kenaikan itu lebih tinggi dari penurunan kontribusi bisnis otomotif dan agribisnis.

"Untuk periode sepanjang tahun ini, grup diperkirakan masih akan menikmati kenaikan kontribusi dari bisnis-bisnis tersebut, meski pun masih ada tantangan permintaan yang melemah dan persaingan ketat di pasar mobil serta penurunan harga komoditas," ujarnya. kbc10

Bagikan artikel ini: