Kementan: Optimalisasi lahan rawa tahun ini minimal seluas 300.000 Ha

Kamis, 25 April 2019 | 08:22 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Optimalisasi lahan rawa melalui program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI) digulirkan sejak November 2018 . Kementerian Pertanian (Kementan) mengingkan program ini sebagai solusi pemenuhan ketersediaan pangan padi jangka panjang melalui peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dan provitas.

Namun dalam perjalanannya, Kementan menemukan sejumlah kendala dilapangan sehingga melakukan validasi calon petani calon lokasi (CPCL) program SERASI. Awalnya, Kementan menetapkan target optimalisasi lahan rawa padi tahun 2019 sebesar 500.000 hektare (ha) . Namun pada perkembangannya, Kementan merevisi menjadi 435.000 ha.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Sarwo Edhy menerangkan Kementan melakukan validasi lahan yang dapat dijadikan program SERASI sehubungan adanya keengganan petani melepas sebagian lahannya dijadikan irigasi tersier. Padahal hal tersebut menjadi kriteria lahan rawa yang diikutsertakan dalam program optimalisasi rawa. Alhasil petani di desa tersebut dicoret dari target optimalisasi lahan.

Catatan Ditjen PSP Kemetan per 24 April jumlah luas areal penanaman padi  melalui optimalisasi lahan rawa  baru mencapai 12.971 ha di tiga provinsi yakni  Sumatera Selatan (target 250.000 ha), Kalimantan Selatan (150.000 ha) dan Sulsel ( 35.000 ha).  Sarwo Edhy mengatakan saat ini  program SERASI masih dititikberatkan pada rehabilitasi jaringan tersier dan pompanisasi .

“Kalau target Ditjen Prasarana dan Sarana (luas areal penanaman di lahan rawa red) sebesar 400.000 an hektare.Ya, minimal 300.000 hektare harus dapat,” terang Sarwo Edhy dalam diskusi Forwatan bertemakan 'Program Serasi Meningkatkan Produktivitas' di Jakarta, Rabu (24/4/2019).

Namun, Direktur Perluasan dan Perlindungan Lahan  (PPL) Ditjen PSP Indah Megawati menjelaskan pelaksanaan program SERASI sangat bergantung dengan kemampuan daerah. Misalnya Kalimantan Selatan yang rencananya ditargetkan 250.000 ha, namun dalam pelaksanaanya menyanggupi 150.000 ha. 

Sebagai gantinya, Dit PPL akan memasukan Provinsi lain yakni Kalimantan Tengah,Jambi dan Lampung  atas usulan pemerintah daerahnya. Karena itu, Indah tetap  mengupayakan luas optimalisasi lahan rawa tahun 2019  ini mencapai 500.000 ha.

“Tapi kita fokus tiga provinsi dulu. Kalau sampai akhir Mei, kemampuan daerah bisa cepat selesaikan (fase infrastruktur pengolahan lahan dan saluran air red), maka Lampung dan Jambi bisa masuk segera,” terang Indah melalui pesan whatsapp kepada kabarbisnis.com, Kamis (25/4/2019).

Anggaran program Serasi disiapkan Ditjen PSP sebesar Rp 2,5 triliun untuk pengolahan lahan rawa dan rehabilitasi jaringan tersier. Sarwo Edhi menuturkan untuk menyiapkan lahan rawa untuk dijadikan areal padi membutuhkan investasi Rp 4,3 juta per ha.

Merujuk pilot project program SERASI, produktivias pertanian meningkat 6,5 ton gabah kering panen (GKP) per ha di Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Sebelumnya baru berjumlah 3 ton GKP per ha.Untuk IP diupayakan meningkat dari satu kali tanam setahun menjadi dua kali dalam setahunnya.

Sesditjen Tanaman Pangan Bambang Pamuji mengatakan meski Kementan telah menyediakan bantuan sarana produksi , namun petani harus menyediakan budget sendiri apabila lahannya diikutkan dalam program SERASI. Perhitungannya adalah bantuan benih dialokasikan 80 kilogram (kg), dolomit 1.000 kg per ha, herbisida 3 liter per ha dan pupuk hayati 25 kg per ha.

Untuk program ini, Ditjen Tanaman Pangan menyediakan budget Rp 1,2 triliun untuk kebutuhan sarana produksi pertanian. Budget sebesar itu digunakan untuk penyediaan benih ,dolomit dan pupuk hayati. Kementan menyediakan bantuan saprodi rerata Rp 2,01 juta er ha.

Bambang memperkirakan penanaman padi di lahan rawa mulai massif mulai Juni mendatang atau Musim Kering I.Menurut  Bambang satu unit ekskavator mampu menormalisasikan saluran rawa seluas 10.000 ha dalam hitungan dua pekan.

Untuk Provinsi Sulsel mendapat bantuan 76 unit ekskavator."Setelah pekerjaan infrastruktur selesai lahan rawa dapat segera ditanam," kata dia.

Dia berharap Pemerintah Daerah turut berpartipasi untuk menggerakan para petani dalam program Serasi. Misalnya menganggarkan melalui PAD memberi kompensasi penggantian sebagian lahan petani yang dijadikan saluran irigasi tersier.

Saat ini , PT Polowijo Gosari paling siap memenuhi kebutuhan dolomit di Indonesia serta mendukung kebutuhan bagi program Serasi. Potensi tambang dolomit sebesar 300 juta ton dengan produksi dolomit 1 juta ton.Tambang dolomit sepertihalnya tambang kapur dapat ditemukan di Jawa Timur, terutama Madura dan beberapa daerah lainnya.

Staf Ahli Menteri Pertanian Dedi Nursyamsi optimis  program Serasi tetap berkelanjutan. Nasibnya tidak akan sama dengan program Gambut Sejuta Hektare yang dicetuskan pada masa Orde Baru karena lahan rawa merupakan lahan mineral yang aman dari aspek lingkungan dan bahaya kebakaran.kbc11

Bagikan artikel ini: