Wow, 500 penari langsung gebrak hari pertama Konser Musik Malaka 2019

Kamis, 25 April 2019 | 12:14 WIB ET

BETUN – Pesona kuat ditawarkan Konser Musik Perbatasan Malaka dan Kefamenanu (KMP-MK) 2019. KMP-MK 2019 menawaran warna tradisional melalui gelaran 3 tarian kolosalnya sekaligus. Tari Tebe, Likurai, dan Bidu disandingkan dengan warna kontemporer konser musik dengan 500 penari yang sangat menghebohkan.

KMP-MK 2019 resmi digelar 24-25 April. Venuenya tetap berada di Lapangan Paroki Kamanasa (MISI), Betun, Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Konten utamanya ada Penyanyi Timor Leste (Tiles) Maria Vitoria dan Bondang Prakoso asal Indonesia. Panggung glamor KMP-MK 2019 akan semakin meriah dengan 3 tarian Tanah Timor.

“ Kami sangat senang ternyata tarian ini mampu menyita perhatian para pengunjung yang datang. Dengan tarian-tarian itu budaya dapat, tariannya sangat menarik, dan yang pasti melibatkan banyak penari. Kabar dari pihak penari sampai 500 orang datang dari Malaka maupun juga dari Timor Leste. Semuanya menari bersama,"

ungkap Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional III Kemenpar Muh. Ricky Fauziyani, kemarin.

Seperti diketahui, Pesta di perbatasan Indonesia-Tiles tetap berlanjut. Setelah Atambua, kini venuenya bergeser ke Malaka. Ada Maria Vitoria dan Bondan Prakoso. Ada juga aksi tarian massal. Selain berbagai kemeriahan, event ini menjadi media pelestari seni budaya dan tradisi.

Menjadi suaka seni budaya, KMP-MK 2019 menampilkan Tari Tebe, Likurai, dan Bidu. Ketiganya ini adalah identitas Tanah Timor. Ada banyak nilai histori besar yang dimiliki tarian tersebut. Belum lagi prestasi fenomenal yang pernah dibukukannya. Ricky menambahkan, tarian Tanah Timor memberikan inspirasi dengan pemahaman nilainya.

“KMP-MK 2019 ternyata semakin spektakuler dengan tarian massal khas Tanah Timor. Tari Tebe, Likurai, dan Bidu ini menjadi inspirasi luar biasa. Para wisatawan nantinya bila belajar dari nilai yang dimiliki oleh setiap tarian. Jadi, momentum terbaik ini jangan sampai terlewatkan. Segera atur perjalanan menuju Malaka,” lanjut Ricky lagi.

Menjadi value tinggi bagi KMP-MK 2019, inspirasi memang ditiupkan Tari Bidu. Tarian tersebut dikenal sebagai media untuk mencari jodoh. Tanah Timor memiliki beberapa tahap menuju jenjang pernikahan. Ada Hameno Bidu yang bermakna kesepakatan sekaligus perencanaan awal menuju pelaminan. Tahap berikutnya adalah Binor, yaitu pertukaran cenderamata yang dilanjutkan Mama Lulik atau peminangan.

Usai dipinang baru dilanjutkan ke tahap Mama Tebes. Ini adalah moment membicarakan tanggal nikah. Dan, secara umum Tari Bidu dibawakan oleh 8 penari putri dan 1 atau 2 penari putra. Gerakan Tari Bidu bagi putra didominasi rentangan tangan dan memutar badan. Untuk penari putri didominasi oleh gerak lembut tangan. Posisi kakinya jalan di tempat. Hal inijadi simbol keanggunan putri Tanah Timor.

“Dengan kehadiran tarian tersebut, KMP-MK 2019 benar-benar menjadi sebuah ensikopedi. Tatanan dan pranata ini tetap dijalankan secara harmoni, meski desakan modernisasi kuat. Hal ini yang menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata terbaik di dunia. Nilai budaya dan tradisi tetap tumbuh subur,” kata Ricky lagi.

Bagaimana dengan Tari Tebe? Publik bahkan dunia sangat familiar dengan Tari Tebe. Tarian tersebut bisa diasumsikan sebagai Tari Ronggeng. Pada zaman dahulu, Tari Tebe ini menjadi ungkapan kegembiraan kala Meo pulang dari medan perang. Tarian ini menjadi ungkapan kegembiraan. Tebe ini dibawakan dengan lantunan syair dan kananuk (pantun).

“Tarian Tebe ini memang menjadi ungkapan rasa dan luapan kegembiraan. Tentunya sangat menarik bila mempelajari lebih lanjut isi dari syair dan pantun yang dilantunkan. Selain sarat nilai, Tari Tebe ini juga sagat terkenal,” terang Ricky lagi.

Tari Tebe ini pernah memecahkan rekor MURI pada Oktober 2015. Waktu itu, Tari Tebe dibawakan oleh 4.601 penari. Memperingati HUT ke-99 Atambua, Belu, Tari Tebe dibawakan pelajar dan instansi terkait. Sembari menari, mereka pun membentuk formasi angka 99. Popularitas Tebe ini pun serupa dengan Tari Likurai. Tari Likurai bahkan digunakan sebagai opening ceremony Asian Games 2018.

Rapor fenomenal juga dibukukan tarian tersebut. Tari Likurai pernah masuk rekor MURI, Oktober 2017. Tarian ini dibawakan oleh 6.000 penari di Bukit Fulan Fehan. Background penarinya adalah pelajar dari 3 kabupaten di zona crossborder NTT. “Ada banyak tarian besar yang disajikan di KMP-MK 2019. Beberapa memiliki background prestasi luar biasa. Dengan karakter eksotisnya,” papar Ricky lagi.

Filosofi tinggi juga dimiliki Tari Likurai. Tarian ini jadi ungkapan rasa gembira. Tari Likurai dibawakan masing-masing 10 penari pria dan wanita. Gerakannya khas. Gerak tubuh antara penari pria dan wanita berbeda. Gerak penariwanita didominasi oleh gerakan tangan yang memainkan kendang. Kedua kakinya pun menghentak bergantian. Tubuhnya melenggak ke kanan dan kiri sesuai irama.

Bagaimana dengan penari pria? Gerakan penari pria didominasi permainan pedang. Posisi kedua kaki juga sama-sama menghentak hingga terlihat dinamis. Dinamika menjadi berwarna karena ada gerakan merunduk dan berputar. Kiki menambahkan, prestasi besar banyak dibukukan oleh Tarian Likurai dan semuanya semakin menegaskan nuansa eksotis.

“Semua nilai kebaikan ditampilkan di KMP-MK 2019. Komposisinya luar biasa. Artisnya ada Maria Vitoria dan Bondan Prakoso, lalu pendampinga 3 tarian terbaik Tanah Timor. KMP-MK 2019 jadi pesta yang luar biasa. Bukan hanya atraksinya, aksesibilitas dan amenitas menuju Malaka juga bagus. Kami tunggu Anda di Malaka. Enjoy Tanah Timor,” tutup Menteri Pariwisata Arief Yahya. kbc9

Bagikan artikel ini: