Bangun 6 gerai baru, Matahari Department Store siapkan dana Rp1 triliun

Minggu, 28 April 2019 | 21:24 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) berencana menambah gerai baru dan pusat distribusi di Jawa Barat di tahun 2019 ini.

Head of Investor Relations Matahari Department Store, Margareth Go mengatakan, pada tahun ini pihaknya bakal mengalokasikan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 1 triliun yang bersumber dari kas internal. Jumlah ini lebih tinggi 39% dari tahun lalu sebesar Rp 716 miliar.

LPPF berencana membangun empat hingga enam gerai baru dengan luas 26.000 meter per segi (meter persegi) di sejumlah kota di Indonesia. "Selain gerai baru, kami juga akan merombak beberapa gerai agar lebih berorientasi lifestyle. Investasi penambahan gerai di luar marchendising diperkirakan membutuhkan biaya sekitar US$1,5 juta atau setara Rp 21 miliar," kata Margareth usai RUPST di Hotel Aryaduta, akhir pekan kemarin.

Dengan tambahan gerai tersebut, secara total LPPF akan mengoperasikan sekitar 166 unit gerai hingga akhir tahun 2019, dengan total luas area lebih dari 1 juta meter persegi.

Sekretaris Perusahaan Matahari Department Store Miranti Hadisusilo juga menambahkan bahwa pada 19 April lalu, pihaknya baru saja meresmikan pembukaan gerai 361° Mono Store yang ke-2 di Surabaya. "Gerai ini terletak di Mal Galaxy 3 Surabaya. Sebelumnya kami telah membuka 3 gerai lainnya di LippoMall Kemang, Pakuwon Mall Surabaya, dan Lippo Mall Puri - St. Moriz Desember lalu," paparnya.

Miranti bilang, gerai di Galaxy Mall Surabaya adalah Mono Store 361° ke-4 di Indonesia dan merupakan gerai ke-160 yang dioperasikan oleh Matahari di seluruh Indonesia. "Pembukaan Mono Store ke-2 di Surabaya menunjukkan bahwa produk-produk merek 361° telah mendapatkan pasar yang baik di Indonesia," imbuhnya.

Margareth menambahkan, selain menambah gerai, pihaknya juga berfokus merampungkan pembangunan pusat distribusi. Adapun pada tahun 2018 lalu, perusahaan membeli tanah senilai Rp 299 miliar di Jawa Barat. "Fasilitas baru ini diharapkan dapat beroperasi pada 2020," lanjut dia.

LPPF berharap ekspansi ini bisa mendorong peningkatan kinerja. "Untuk kinerja tahun ini, kami melihat bisnis retail masih cukup menantang. Diharapkan pertumbuhan rata-rata penjualan per gerai (SSSG) tetap stagnan di kisaran 3,5%," kata Margareth.

Sekadar info, pada akhir 2018, LPPF mencatatkan pertumbuhan SSSG yang meningkat menjadi 3,5% dari negatif 1,2% di tahun sebelumnya. Sejalan dengan kondisi industri yang menantang ini, LPPF juga berecana menutup 1 hingga 2 unit gerai.

Meski demikian, dia enggan menjelaskan mengenai lokasi penutupannya. "Kami masih akan mengevaluasi kinerja gerai-gerai tersebut," kata dia.

Asal tahu saja, laba bersih LPPF turun 42,46% menjadi Rp 1,1 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp 1,91 triliun. Laba bersih LPPF anjlok di tengah kenaikan pendapatan bersih 2,19% menjadi Rp 10,24 triliun. Laba yang anjlok ini disebabkan oleh adanya kerugian atas penurunan nilai investasi pada instrumen ekuitas sebesar Rp 769,77 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan LPPF tahun 2018, kerugian ini merupakan nilai investasi pada PT Global Ecommerce Indonesia. Nilai kerugian Rp 769,77 miliar ini merupakan 19,62% dari seluruh modal ditempatkan Global Ecommerce pada Desember 2017.

Tahun lalu, LPPF meninjau kembali nilai terpulihkan atas investasi di Global Ecommerce. Peninjauan kembali inilah yang menghasilkan pengakuan atas kerugian penurunan nilai Rp 769,77 miliar. Menurut laporan arus kas LPPF, pembelian saham Global Ecommerce Indonesia pada tahun 2017 mencapai Rp 590 miliar. kbc10

Bagikan artikel ini: