Semen Indonesia Tanam 1.000 pohon mangrove di Desa Pangkahkulon Gresik.

Senin, 29 April 2019 | 04:37 WIB ET

GRESIK, kabarbisnis.com: PT Semen Indonesia (persero) Tbk kembali menanam 1.000 batang pohon mangrove di Pesisir Utara Gresik. Tepatnya, di Desa Pangkahkulon, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik,Sabtu (27/4).

Kegiatan dengan tema “Semen Indonesia Community Day” ini merupakan rangkaian dalam rangka peringatan Hari Bumi 2019.

Selain menanam mangrove, PT Semen Indonesia juga memberikan bantuan 2.500 benih ikan bandeng serta bantuan pelampung. Selain itu perusahaan semen tersebut juga membangun pos pengawas lingkungan.

Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan PT Semen Indonesia (persero) Tbk, Sigit Wahono mengatakan, kegiatan ini merupakan rangkaian memperingati Hari Bumi sekaligus cara menjaga kelestarian lingkungan. Harapannya, melalui Semen Indonesia Community Day ini masyarakat terlibat langsung merawat lingkungan.

“Khusus di Desa Pangkahkulon, kali ini kami menanam 1.000 batang pohon mangrove. Kegiatan ini sudah berjalan mulai tahun 2015, total ada 8.000 pohon mangrove yang sudah kami tanam,” katanya.

Sigit Wahono menambahkan, perusahaannya juga membangun pos pengawas lingkungan yang dilengkapi dermaga serta spot foto yang menarik. Harapannya, keberadaan pos tersebut bisa dimanfaatkan memantau hutan bakau di Desa Pangkahkulon sekaligus bisa dikembangkan sebagai sarana wisata bagi masyarakat.

Lebih lanjut Sigit Wahono menjelaskan

Kegiatan pelestarian alam serupa seperti yang dilakukan hari ini juga telah dilakuakn anak usaha Semen Indonesia lainnya seperti PT Solusi Bangun Andalas di Aceh,PT Solusi Bangun Indonesia di Cilacap dan Narogong, PT Semen Padang Di Padang, Di Tuban serta di Rembang.

Sementara itu Kepala Desa Pangkahkulon Ahmad Fauron mengapresiasi atas apa yang dilakukan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Menurutnya upaya pelestarian alam melalui penanaman mangrove sangatlah bermanfaat. Pengelolaan mangrove ini akan dilakukan kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) yang nantinya dikembangkan menjadi eduwisata.

“Di tempat kami sudah ada Wisata Tanjung Lewehan (WTL) yang juga dihuni kera hutan, Pengembangan wisata ini merupakan hasil studi banding dari Tanjung Puting, Kalimantan Tengah,” tuturnya.

Ahmad Fauron berharap melalui kegiatan ini pengembangan wisata mangrove di tempat ini terus berkembang dikenal masyarakat. Bukan hanya dari Gresik melainkan juga dari luar Gresik,” pungkasnya. kbc9

Bagikan artikel ini: