Harga bahan baku naik, laba bersih Garudafood tergerus 20% di kuartal I

Rabu, 1 Mei 2019 | 08:32 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sepanjang kuartal satu tahun 2019, PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) mencatatkan laba bersih Rp 121,75 miliar. Angka ini turun 20,18% jika dibandingkan dengan kuartal I-2018 yang mencapai Rp 152,54 miliar.

Padahal, penjualan Garudafood di kuartal satu 2019 naik 5,90% menjadi Rp 2,28 triliun jika dibandingkan kuartal satu tahun lalu yang ada di angka Rp 2,16 triliun. 

Direktur Garudafood Putra Putri Jaya Paulus Tedjo Sutikno menyatakan, penurunan laba ini utamanya karena fluktuasi harga bahan baku. "Harga tapioka, terigu, dan produk-produk turunan susu," kaa Paulus usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Garudafood, Selasa (30/4/2019).

Dia menambahkan, fluktuasi harga ini terjadi sejak 12 bulan hingga 18 bulan terakhir.

Beban pokok penjualan GOOD meningkat 6,47% menjadi Rp 1,56 triliun. Selain itu, persaingan yang ketat antar perusahaan makanan dan minuman mendorong Garudafood untuk mengeluarkan biaya iklan dan biaya promo. Menilik laporan keuangan kuartal satu Garudafood, sebesar Rp 158,24 miliar digelontorkan untuk promosi dan iklan. Beban ini naik 80,27% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 87,78 miliar.

Total aset Garudafood pada akhir Maret 2019 mencapai Rp 4,62 triliun, naik 9,7% dari kuartal sebelumnya. Dilihat dari liabilitas, GOOD mencatatkan kenaikan 13,3% menjadi Rp 2,01 triliun. Ekuitas GOOD naik tipis menjadi Rp 2,61 triliun dari sebelumnya Rp 2,49 triliun.

Garudafood mencatat kenaikan utang bank jangka panjang menjadi Rp 580,37 miliar dari posisi akhir Desember yang hanya Rp 301,76 miliar.

Kenaikan utang ini berasal dari tambahan utang Sumitomo Mitsui Banking Corporation dari Rp 156,45 miliar di akhir 2018 menjadi Rp 325 miliar per akhir Maret. Utang dari Citibank pun naik dari Rp 150 miliar menjadi Rp 300 miliar. Sedangkan utang Bank Danamon Indonesia turun menjadi Rp 3,6 miliar dari sebelumnya Rp 6,30 miliar. kbc10

Bagikan artikel ini: