Ketersediaan bahan jadi tantangan industri fesyen

Rabu, 1 Mei 2019 | 19:07 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Fesyen kini menjadi salah satu subsektor andalan pemerintah dalam pengembangan industri kreatif. Ini karena fesyen telah memberikan dampak kontribusi ekonomi yang terus mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu.

Fesyen juga menjadi satu dari tujuh subsektor industri kreatif yang dijadikan prioritas untuk menembus pasar global oleh pemerintah melalui Badan Ekonomi Kreatif (Berkraf). Diketahui kontribusi fesyen dalam hal ekspor menempati posisi terbesar, yakni mencapai 54,54%.

Namun, masih banyak hal yang harus dilakukan oleh pemerintah, perusahaan garmen dan para pelaku fesyen Indonesia untuk lebih mengembangkan industri ini.Dalam acara Cotton USA Networking 2019 di Jakarta yang diselenggarakan Cotton Council International (CCI) baru-baru ini, masing-masing elemen, mulai dari pemerintah, Asosiasi Pertekstilan Indonesia dan pelaku fesyen yang telah menaungi berbagai gelaran besar Tanah Air seperti Jakarta Fashion Week, serta brand terkemuka di industri fesyen menggelar diskusi untuk mengoptimalkan pengembangan industri fesyen.

Sebagai informasi, CCI merupakan asosiasi perdagangan nirlaba yang mempromosikan serat kapas Amerika Serikat dan produk kapas manufaktur di seluruh dunia dengan merek dagang Cotton USA. Saat ini, berbagai produk kapas mereka telah dipercaya pabrikan dan perusahaan tekstil di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Dalam diskusi itu, diungkapkan ketersediaan bahan dalam pembuatan pakaian, termasuk katun yang berkualitas menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan industri ini. Diketahui pula kapas produksi AS ternyata saat ini mulai banyak digunakan para desainer Indonesia.

Hal ini dikarenakan beberapa keunggulan produk kapas AS, antara lain berkualitas tinggi dan bebas kontaminasi karena 100% dipetik menggunakan mesin, kualitas seratnya pun konsisten sehingga memungkinkan prodiktivitas yang maksimum pada proses pemintaian.Tak hanya itu, produksi kapas AS harus mengikuti sistem komprehensif untuk memonitor dan mengukur semua ukuran keberhasilan dalam hal ketahanan.

Sistem ini merupakan peraturan wajib dari pemerintah Negeri Paman Sam. Produk ini juga 100% bisa ditelusuri kembali tempat produksinya jika dibutuhkan.Setidaknya terdapat sembilan perusahaan garmen asal Indonesia dan satu perusahaan garmen asal Jepang yang memberikan bahan katun asal AS kepada 15 desainer Indonesia, untuk membuat kreasi busana yang ditampilkan dalam gelaran Cotton USA Networking 2019, yang dihadiri lebih dari 200 pelaku industri tekstil, mulai dari pabrikan kain, desainer, serta berbagai brand fashion yang ada di Indonesia.

Dr. Andy Do, CCI Representative di Indonesia mengatakan ahwa sejak tiga tahun yang lalu, CCI mulai lebih aktif untuk berpartisipasi dalam menumbuhkan geliat industri fesyen di Indonesia.  “Melalui berbagai kolaborasi, sekaligus mengkampanyekan lisensi Cotton USA di Indonesia, kami semakin yakin dari waktu ke waktu, pertumbuhan industri fesyen di Indonesia akan menuju tren yang positif,” ujar Andy dalam keterangannya, Rabu (1/5/2019).

Beberapa perusahaan yang memberikan kain dengan bahan kapas AS di antaranya adalah Apacinti, Kusumahadi, Tyfountex, Visionland, Dan Liris, Grandtex, Lucky Print Abadi, Argo Pantes, Ocean Asia Industry. Bahan tersebut akan dikreasikan oleh beberapa desainer lokal asal Indonesia, seperti AKSU, Den Inc, Reves Studio, Rani Hatta, IKYK, KAMI, ETU, JII, Batik Chic, Grand Denim, Eri, Jenahara, Ats The Label, Alexalexa dan Salt n Pepper.kbc11

Bagikan artikel ini: